Hot Daddy

Hot Daddy
Semakin dekat



"Kalian sudah mengucapkan janji suci, sekarang sudah saatnya untuk kalian saling bertukar cincin" ucap seorang laki laki tua yang baru saja menikahkan mereka. Mila dengan senang hati mengambil dua kotak cincin dan memberikannya pada Arsen dan Arini. Mila terus tersenyum, saat ini dia berusaha menahan air matanya. Entah kenapa pada pernikahan Arsen yang kali ini Mila merasa emosional. Arsen mengambil kotak cincin itu dan membukanya. Dia mengambil cincinnya dan menaruh kembali kotaknya. Arini langsung mengulurkan tangannya ke hadapan Arsen, dan tepat setelah itu Arsen langsung memakaikan cincinnya di jari manis Arini. Arsen juga mengecup punggung tangan Arini dengan mesra.


"Baiklah, sekarang giliran Arini" ucap Mila dengan antusias. Arini tersenyum lalu mengangguk. Dengan malu malu dia juga memakaikan cincin pada jari manis Arsen. Semua orang yang hadir di gereja itu bertepuk tangan. Arsen sengaja tidak mengundang banyak orang untuk datang ke gereja, Arsen hanya mengundang sebagian besar lainnya ketika di resepsi nanti. Mila mundur ke belakang dan bergabung bersama yang lainnya. "Lihat pa, Arsen sepertinya bahagia sekali hari ini" ucap Mila dengan matanya yang tak lepas dari Arsen dan Arini.


"Dia lebih berbeda dari yang sebelumnya' lanjut Garda. Max hanya setia menatap mereka terus menerus. Tapi matanya tiba tiba menangkap sesuatu yang aneh. Max melihat ada orang yang berpakaian serba hitam dan terlihat sangat mencurigakan. "Sepertinya ada yang tidak beres" batin Max. Max langaung berjalan ke tempat dimana ia melihat orang tadi tapi nihil dia tak menemukan siapapun. Hanya saja orang itu meninggalkan jejaknya di tempat itu. "Sebuah kalung berbandul tengkorak? Milik siapa ini?' tanyanya sambil mengangkat barang itu.


Max menyimpan kalung itu di dalam sakunya kemudian berjalan kembali ke tempatnya. 'Dari mana kamu?" tanya Garda keheranan, Garda sempat melihat Max yang berlari dengan terburu buru tadi. "Dari toilet pa' jawab Max dengan berbohong. Di atas sana, Arsen dan Arini sudah selesai melakukan ritual perjikahan mereka dan sekarang mereka hanya perlu melakukan satu hal lagi. Arsen maju beberapa langkah hingga jaraknya dan Arini benar benar berdekatan. Arsen mengangkat dagu Ariji dengan tangannya sehingga kedua bola mata mereka bertemu. "Boleh?" tanya Arsen.


"Boleh" jawab Arini. Arsen membuka kain putih yang ada di kepala Arini kemudian menutupi kepala mereka dengan itu. Arsen langsung mencium bibir Arini di depan semua orang. Lidahnya terus beraksi dan bergoyang di dalam area mulut Arini. Tidak hanya itu bahkan kepala mereka berpindah pindah posisi layaknya ciuman di drama korea "Julurkan lidahmu" pinta Arsen pada Arini. Tanpa pikir panjang lagi Arsen langsung menyesap lidah Arini dan menjilatnya. "Dasar anak nakal" batin Mila.  Sedangkan Max hanya menyengir tak jelas. "Sebentar lagi pasti bakal ada adegan dewasa Live"


.


.


"Om apa om yakin akan melakukannya di hari ini juga? Maksudku adalah kenapa tidak setelah mereka selesai melakukan pernikahan saja" usul Rendi pada seorang pria yang saat ini sedang mengasah pisau. Pria itu memutar kursinya ke belakang sambil memegang pisau yang ujungnya sudah sangat lancip. "Karena saya ingin melihat penderitaan dia tepat di hari kebahagiaannya seperti ini. Saya ingin dia sehancur hancurnya sama seperti saya yang hancur karena ditinggal Charles" Wira mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia sudah tahu kalau Arsen adalah dalang dari pembunuhan Charles, untuk cerita selanjutnya biarkan Wira menjelaskannya di lain kesempatan.


.


.


Selesai dengan pemberkatan dan janji suci di gereja, sekarang Arini dan Arsen akan menginap di hotel terlehih dahulu.


Sebentar lagi mereka akan melakukan resepsi, tempat resepsi mereka kebetulan tidak jauh dari hotel itu jadi Arsen sudah mengatur semuanya dengan baik. Telfon Arsen berdering dengan nyaringnya, Arsen yang saat itu sedang mengganti baju terpaksa langsung mengangkat telfon terlebih dahulu. Dia mengernyitkan keningnya ketika melihat nomor yang tak dikenal sedang menelfonnya. Arsen hanya tersenyum sinis lalu melempar ponselnya ke atas kasur. "Ternyata dia masih nekat" gumam Arsen tanpa disadari siapapun. Arsen akan terus mengejar orang itu, seharusnya jika mereka memang benar benar musuhnya seharusnya dirinya lah yang diincar bukan Arini.


Tok tok tok


Mila mengetuk pintu dari luar kemudian Arsen langsung membukanya dengan cepat. "Ada apa Ma?" tanya Arsen dengan wajah datarnya. Mila hanya menggelengkan kepalanya dan memilih masuk ke dalam kamar hotel Arsen. Mila menatap sekeliling kamar hotel milik Arsen, dia mengambil satu foto yang sudah dibingkai dengan Arini. "Ada apa Ma?" tanya Arsen dengan tidak sabaran.


"Tidak, mama hanya sebentar disini. Ya udah sekarang kamu lanjutin ganti baju dulu. Habis itu kita segera berangkat. "Oke" jawab Arsen dengan tegas. Mila terkekeh kecil kemudian mengangguk dan keluar. Dia membiarkan putranya melakukan apa yang dia mau.