
Arini menunggu Arsen pulang dari kantor tapi yang ditunggu tidak kunjung datang, dia sempat menghubungi nomor Arsen beberapa kali tapi sayang ponselnya tidak aktif. Saking lamanya dia menunggu hingga akhirnya Arini menjadi ketiduran, dia tidur dengan posisi miring sambil menghadap ke arah pintu khawatir suaminya akan datang di tengah malam. Dan ternyata memang benar, tepat pada jam tiga pagi Arsen sudah pulang. Arini sempat mendengar suara mobilnya. Dia langsung membuka matanya dan membukakan pintu untuk menyambut Arsen. Mata dan Rambut acak acakannya membuat dirinya terlihat semakin menggemaskan.
Saat pintu terbuka Arsen kaget ternyata Arini masih belum tidur, karena sepanjang perjalanan pulang Arsen berharap arini masih tidur. "Kamu kok belum tidur sayang?" ucap Arsen setelah mengecup kening Arini seperti biasa. Dengan muka bantal Arini mengangguk lalu mengambil tas dan jas Arsen. "Aku sempat ketiduran Mas, tapi sekarang sudah bangun lagi kok pas denger suara mobil kamu datang" ucap Arini sambil tersenyum. "Ya sudah aku mau mandi dulu, kamu lanjut istirahat gih biar anak kita gak kecapean juga"
"Baiklah, Aku mau meletakkan ini semua dulu" Setelah Arini naik ke atas kamarnya, Arsen menghela nafas beratnya. Dia harus menyembunyikan masalah ini dari istrinya. Arini tidak boleh tahu. Bukannya Arsen ingin merahasiakannya, namun dia takut setelah Arini mendengar hal ini dia malah akan menyalahkan dirinya sendiri. Oleh sebab itu sepertinya dia juga tidak perlu diberi tahu. Arsen bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket hari ini. Sementara Arini dia membantu Arsen menyiapkan pakaiannya.
Tiga puluh menit kemudian, Arsen baru saja selesai mandi. Dia keluar hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Rambutnya masih dalam keadaan basah semua. "Mas, ayo duduk biar aku bantu mengeringkan rambutmu" ucap Arini dengan perhatian. Meski sedikit mengantuk tapi Arini tetap melayani Arsen sebagai suaminya. Sekarang Arini tahu bagaimana perasaan bundanya dulu ketika melayani suaminya sendiri dan itu rasanya sangat menyenangkan. Arini tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
"Kenapa senyum senyum?" tanya Arsen sambil duduk di tempat Arini. Arini hanya menggelengkan kepalanya kecil. "Tidak ada, sebentar aku mau ambil handuk kecil dulu" Arsen mengangguk. Tak lama kemudian Arini kembali dengan membawa handuk kecil kemudian dia mulai mengelap rambut Arsen dengan handuk itu sesekali Arini juga memberikan pijitan di kepala Arsen agar tidak terlalu pusing. "Mas" ucap Arini dengan manja.
Arsen menolehkan kepalanya sebentar. "Ada apa?" tanya Arsen.
"Tiba tiba saja aku ingin melihatmu menari, apa kamu mau menari untukku?" Mata Arsen tiba tiba saja melotot. "Menari?" tanya Arsen dengan raut wajah yang tidak percaya. "Ini bukan aku loh Mas yang mau, ini kemauan dedek bayinya. Mama kan pernah bilang kalau orang hamil itu pasti mintanya aneh aneh. Jadi tolong dong mas kabulin permintaanku yang satu ini. Entah kenapa aku sekarang ingin melihatmu menari" Arini menggigit bibirnya membayangkan bagaimana Arsen menari di hadapannya. Pasti sangat lucu dan menyenangkan.
"Tidak tidak, aku tidak bisa menari. Lebih baik kamu mencari permintaan yang lain saja" Arini memanyunkan bibirnya ketika mendengar hal itu. Dia kira Arsen akan mengabulkannya semudah itu. "Ayolah Mas, cuma lima menit aja kok. Memangnya kamu tega membiarkan anak kita ileran di dalam cuma gara gara kamu yang gak mau menari" protes Arini dengan sambil memelas sedikit. Arsen melihat ke arah Arini dengan pandangan yang tidak dapat diartikan. "Baiklah, aku akan menari. Kamu tunggu di kasur dulu, aku masih harus menggunakan pakaian"
Dengan handuk yang menutupi juniornya, Arsen tidak bisa bergerak bebas dalam menari. Karena takutnya Handuk itu akan melorot. Arsen mulai menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Lalu dia memutar tubuhnya, entah tarian apa yang dipraktekannya itu yang penting Arsen menari. Arini menopang dagu sambil menumpu tangannya ke bantal. Dia menikmati pemandangan ini. Kapan lagi seorang Arsen bisa menurut dan bertingkah konyol seperti ini.
Selang beberapa menit kemudian Arsen kembali bergerak, dia mulai mengikuti irama lagu yang diputar. Bahkan Arsen sendiri sampai tidak sadar kalau handuknya sudah melorot dari tadi. Membuat benda itu bergantungan ketika Arsen menari. Dalam hati Arini terkikik geli sambil terus melihat ke bawah itu.
Tapi sekarang giliran Arini yang kaget karena tiba tiba milik Arsen sudah mengeras dan berdiri tegak mengacung kepadanya. Arsen berjalan mendekat ke arah arini. "Dia minta hadiahnya sayang? Berikan servis terbaikmu." ucap Arsen dengan senyuman liciknya. Tentu saja tadi dia baru sadar kalau handuknya melorot tapi Arsen membiarkan saja karena sepertinya Arini masih asik melihatnya. "Arini tiba tiba mengantuk, Aku tidur dulu ya Mas" Arini menunjukkan gigi putihnya kemudian beranjak untuk tidur di kasur. Tapi semuanya sia sia ketika melihat Arsen yang malah mendesah tertahan.
"Aku sudah menahan selama dua minggu lebih, sekarang aku ingin jatahku kembali. Tenang saja aku akan bermain dengan pelan pelan" Arsen semakin mendekati Arini, dia mendorong Arini hingga terjatuh di atas kasur dengan pelan. Nafas Arsen mulai memburu ketika kaos Arini tersingkap dan menunjukkan perut mulusnya. Arsen memasukkan tangannya ke dalam dan mencari cari benda favoritnya. Arsen meremasnya dengan tangannya. "Awhhssssss"
"Ayo kita main Baby" bisik Arsen.