
Arsen sudah siap, Dia sudah masuk ke dalam mobil yang sudah dikhususkan untuk mereka berdua. Dan sekarang Arsen hanya tinggal menunggu Arini saja. Sambil menunggu Arini yang masih belum keluar Arsen membuka ponselnya dan mengetikkan beberapa kata disana. Arsen menyeringai kecil kemudian menekan tombol Send. Dia melirik kaca Spion mobilnya itu kemudian terkekeh sendiri. Bahkan sang sopir yang duduk di depan kebingungan melihat Arsen yang tiba tiba tertawa sendiri. "Kenapa pak Arsen tiba tiba tertawa sendiri?" batin supir itu. Dia menggelengkan kepalanya kemudian memilih memandang ke tempat lain.
"Pelan pelan sayang, nanti gaunnya keinjek" ucap Mila yang tengah membantu Arini untuk berjalan keluar. Mila membantu Arini karena sepertinya Arini tampak kesusahan dengan gaun besarnya itu, gaun ini tidak sesimple dengan gaun yang dipakai ketika melakukan janji suci tadi. Gaun yang ini lebih elegan dan sempurna, warnanya tidak terlalu mencolok dan yang penting sangat pantas untuk dipakai Arini. Arini terus memegang tangan Mila dan berjalan perlahan lahan. "Harusnya sekarang Mama kandung Arini yang melakukan itu" Gumam Arini dengan nada getir di dalamnya. Mila langsung menoleh pada Arini, dia sangat memahami perasaan Arini.
"Sayang, kamu tidak boleh berkata seperti itu. Meskipun ibu dan ayah kandungmu sudah membuangmu tapi sekarang kamu memiliki kita, ada Mama, Papa, Arsen, dan Max yang juga sangat menyayangi kamu. Mama juga mengerti dengan perasaan kamu yang saat ingin menginginkan ibu kandung kamu. Tapi kamu harus satu hal sayang, seburuk buruknya wanita dia adalah wanita yang membuang darah dagingnya sendiri. Dan itu artinya ibumu adalah wanita yang buruk. Bahkan mama rasa dia tidak pantas lagi untuk dipanggil seorang ibu" ucap Mila..
"Tapi..." belum sempat menyelesaikan pembicaraan, Arini mendengar suara klakson mobil dan akhirnya dia sadar kalau dari tadi sebenarnya dia sudah sampai di luar. Max membukakan pintu mobil untuk Arini kemudian mengisyaratkan pada Arini agar segera masuk ke dalam. Arini tersenyum tipis lalu menatap ke arah Mila. Mila mengangguk kemudian dia menyerahkan Arini pada Max. Max membantu Arini masuk ke dalam sambil merapikan gaunnya agar tidak terlalu melelet ke luar. "Semuanya sudah lengkap kan?" tanya Max pada Arini dan Arsen. "Hmmm" jawab Arsen. Max menutup pintu mobilnya dan membiarkan mereka pergi.
Setelah Arini dan Arsen telah pergi, sebuah mobil sedan hitam juga terlihat mengikutinya dari belakang. Bahkan tidak ada yang mencurigainya sedikit pun. Mereka berpikir itu adalah hal yang wajar. "Max, Ikut papa sekarang" ucap Garda dengan tiba tiba sambil menepuk bahu Max dan pergi begitu saja. Max langsung mengikuti Garda dari belakang, sepertinya Garda ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting padanya. Max terus mengikuti Garda dari belakang. Dan ternyata Garda malah membawanya ke balkon hotel yang masih sangat sepi meskipun sudah siang. "Ada apa pa?" tanya Max pada akhirnya. Garda tidak menjawab dan malah mengambil sesuatu, setelah itu dia menunjukkannya pada Max. Mata Max langsung membulat seketika, dia menatap Garda dengan tatapan tidak percaya. "Ini....." Max menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
Setibanya di tempat resepsi mereka, Arsen membuka pintu untuk dirinya sendiri. Kemudian dia berjalan mengelilingi mobilnya dan membantu Arini turun dari mobil. Semua tamu undangan langsung menyorot kedatangan mereka, terlebih lagi para wartawan jepang. Mereka mengambil berbagai kesempatan untuk mengambil foto Arsen. Bahkan mereka harus berdesakan satu sama lain hanya untuk mendapat satu foto Arsen. "Ayo kita jalan" ucap Arsen saat Arini sudah menapakkan kakinya di tanah. Arini mengangguk, kemudian dia melingkarkan tangannya di lengan Arsen sambil berjalan ke atas pelaminan yang sudah Arsen siapkan selama satu hari kemarin.
Semua tamu undangan langsung berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah ketika Arsen dan Arini melewati mereka. Berbagai macam pujian mereka berikan untuk kedua pasangan itu.
Arsen yang nampak gagah dengan balutan jas dan Tuxedo berwarna hitam sedangkan Arini mau bagaimanapun juga dia akan tetap cantik sebab cantik Arini itu natural bukan karena efek atau pun skincare dan yang lainnya. Setelah tiba di atas pelaminan Arsen merangkul pinggang Arini dengan tangannya, matanya tengah fokus mencari seseorang dan menguci pergerakannya. Arsen tersenyum licik kemudian mulai memberi sepatah dua patah kata untuk semua tamu. Selang beberapa menit kemudian, sepuluh mobil dan lima pesawat baru saja mendarat di tempat itu, keadaan yang semulanya tenang menjadi hancur berantakan karena ada orang yang membawa pistol dan menembakkannya pada tenpat itu. "Dad, ini kenapa?" Arini semakin mendekatkan dirinya pada Arsen, khawatir takut Arsen kenapa napa.
"Tidak usah takut, buka matamu. Ini hanya lah permainan anak kecil" ucap Arsen sambil bersedekap dada. Arsen tidak peduli meskipun resepsinya hancur berantakan karena lagi pula ia sudah sah. Dan kali kni adalah saatnya bagi dia untuk menghancurkan sesuatu.