Hot Daddy

Hot Daddy
UGD



Setelah mengetahui bahwa Arini pendarahan, Via dan Max langsung melarikan Arini ke rumah sakit terdekat yang ada disitu. Arini terus meringis kesakitan. sakit yang ia rasakan saat ini tak tertahan. Dan dia masih berharap semoga janinnya masih baik baik saja. Arini tidak ingin kehilangan salah satu dari mereka. "Mas lebih cepat lagi, darah yang keluar semakin banyak" Ucap Via. Max mengangguk dia semakin meningkatkan kecepatan mobilnya tapi dia juga tetap berhati-hati. Via berulang kali menghubungi nomor Arsen tapi masih tidak, aktif juga. Entah apa, yang ada apa di pikiran Arsen sampai saat ini. Kenapa dia tidak mau mengangkat telfonnya.


"Gimana? " Tanya Max sambil menoleh ke arah Via. Via menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya. Max tentu saja sangat kesal kenapa dalam keadaan seperti ini Arsen tidak mau mengangkat telfon. Seandainya saja dia tahu apa yang terjadi dengan Arini apakah dia akan tetap keras kepala?. "Arrrggghhh" Arini meremas perutnya kesakitan, Via langsung membantu menguatkan Arini. "Sabar Rin, bentar lagi kita sampek di rumah sakit. Lo yang kuat yah" Ucap Via dengan nada yang penuh khawatir. Sedangkan di tempat lain, Garda dan Mila yang mendengar hal itu langsung bergegas untuk pergi ke rumah sakit. Mereka langsung memesan taksi untuk mengantarkan mereka ke tempat rumah sakit yang akan dituju.


.


Lima, belas menit kemudian, mobil Max sudah berhenti di depan sebuah rumah sakit. Dengan terburu buru Max langsung turun dari mobil. Kemudian dia dengan cepat membawa dan menggendong Arini dengan gaya bridal style. "Aaaaawwwassss" Arini terus mencengkram perutnya karena kesakitan. Wajahnya terus mengeluarkan keringat dari tadi. Bahkan nafasnya pun mulai tidak teratur. "Cepetan Mas" Desak Via mulai tidak sabar. "Suster, suster" Max langsung memanggil beberapa suster yang berlalu lalang disana. Dua orang suster langsung datang dengan membawa brankar rumah sakit. "Silahkan pak, biar kami langsung bawa ke UGD" Ucap salah satu dari mereka. Max merebahkan Arini di atas brankar rumah sakit itu. Lalu kedua suster itu langsung mendorong dan membawa Arini ke ruang UGD untuk ditangani.


Via dan Max langsung duduk di kursi tempat keluarga pasien menunggu, mereka masih menunggu kedatangan Mila dan, Garda. "Semoga Arini baik baik saja" Via terus bergumam seperti itu. Sama seperti Via, Max juga berharap seperti itu. Dia tidak akan memaafkan Arsen jika benar benar terjadi sesuatu pada Arini. Sebagai suami Arsen benar benar terlalu payah, dia meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti itu. Yah mungkin Arsen merasa kesal karena Arini membohonginya tapi Max tidak setuju dengan tindakan Arsen yang langsung meninggalkan, Arini begitu saja.


Beberapa menit kemudian baru lah Garda dan Mila sampai disana. Mereka langsung menanyakan kondisi Arini. Dan Max menjawab kalau Arini masih ditangani oleh Dokter. Mereka hanya perlu menunggu hasilnya. "Dimana Arsen? " Tanya Garda dengan menahan amarahnya. "Dia pergi begitu saja dan masih belum kembali. Via sudah menghubunginya tapi dia tidak menjawab telfon." Jelas Max. Mendengar hal itu tentu saja membuat Garda dan Mila kecewa dengan Arsen. Mereka berharap semoga tidak terjadi sesuatu kepada cucu cucunya.


Sementara itu Arsen terlihat memasuki mobilnya kembali. Dia sudah lama meninggalkan Arini di pantai jadi dia harus kembali secepatnya. Arsen memang marah tapi Arsen pergi bukan karena marah melainkan untuk membelikan Arini makanan. Dia berpikir kalau Arini tidak akan cukup jika hanya makan roti es krim saja. Alhasil Arsen pergi ke restoran dan memesan banyak makanan untuk Arini dan yang lainnya. Tapi sayangnya dia tidak tahu kalau orang yang dia cinta sedang memperjuangkan nyawa di dalam sebuah UGD. Setelah itu Arsen kembali ke pantai tapi setibanya di pantai dia tidak menemukan siapapun disana. Bahkan mobil Max pun juga sudah menghilang. Arsen mengambil ponselnya dan melihat banyak panggilan tak terjawab yang masuk ke dalam ponselnya. Lalu matanya tertuju pada satu pesan di ponselnya.


Arini masuk ke dalam rumah sakit harapan pelita bangsa. Datang jika kamu, benar benar sayang pada istrimu.


Arsen langsung masuk kembali ke mobilnya dan pergi ke rumah sakit yang dimaksud Max. Dia mengendarai mobilnya dengan ugal ugalan sehingga banyak pengendara motor yang mengomel karena kelakuan Arsen. Tak sampai setengah jam Arsen sudah tiba disana. Dia berlarian ke rumah sakit dan mencari ruang UGD yang dimaksud oleh Max. Setelah menemukan keberadaan Max, Arsen langsung pergi ke sana. "Max, bagaimana keadaan ARINI? " tanya nya.


Max menoleh sebentar, dia berdiri kemudian. BUGHHHH Max langsung memukul Arsen dengan satu pukulan yang paling keras. "Apa maksudnya ini?" Tanya Arsen sambil memegang wajahnya. "Kamu masih bertanya apa maksudnya? Seharusnya aku yang mengatakan itu. Apa maksudnya kamu meninggalkan arini seperti itu. Kamu tahu arini seperti ini karena dia ingin mengejar kamu dan kamu malah, bertingkah bodoh seperti itu"


Arsen terdiam menyadari kesalahannya. Dia sendiri pun sangat menyesal sekarang.


"Papa kecewa, sama kamu Son" Ucap Garda.