
Di dalam kelas, Alea sibuk melamun dan tidak fokus dalam pelajaran. Alea hanya mencorat coret bukunya sambil memikirkan kejadian di dalam mobil tadi. Bahkan Vina yang dari tadi memberinya kode tidak Alea hiraukan. Padahal Vina ingin memberitahu kalau Alea sedang diperhatikan oleh pak Kumis, guru konseling mereka. "Azalea Alaskara Stevano, kalau kamu masih mau mengikuti pelajaran saya berhenti melamun dan mencorat coret gak jelas" Seketika Alea langsung tersentak dari lamunannya. Pak Kumis hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan muridnya yang satu ini. "Kamu ini pasti ngayalin Gevan kan" ucap pak Kumis sambil melihat ke arah Alea. Sorakan pun terdengar dari dalam kelas itu. "Udah pasti itu pak, apalagi kan Gevan gak masuk hari ini. Dia pasti lagi galau karena gak ada Gevan di sampingnya" ucap Selena salah satu teman sekelas Alea.
"Cieeeee Alea udah mulai suka nih kayaknya sama Gevan"
"Gpp kok Al, kalau emang lo suka Gevan kita semua ikhlasin Gevan buat lo. Bener gak teman teman?" Selena menolehkan kepalanya pada semua teman ceweknya.
"Bener dong, kayaknya mereka berdua sama sama cocok dan kalau disatuin pasti jadi couple goals di sekolah kita"
Alea langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Siapa juga yang suka sama cowok tengil itu, sorry aja ya tipe cowok gue bukan seperti Gevan yang pecicilan gitu. Minimal yang segagah Sehun EXO lah. Kalau engga yah yang lebih dewasa sedikit lah, lebih tua dari aku intinya"
"Sama saya mau kamu?" semua pandangan langsung mengarah ke Pak Kumis yang sedang menyengir sambil memegang kumis panjangnya. Ia dipanggil pak kumis karena kumisnya yang sangat panjang. Alea bergidik ngerti melihat pak kumis yang tersenyum ke arahnya. "Yah pak, Bu Asih selaku penjual di kantin aja gak mau sama bapak apalagi Alea" celetuk Dodit yang langsung membuat semuanya tertawa. "Sadar diri pak, bapak sudah tua, mana statusnya duda lagi. Mana mau Alea sama bapak. Lebih baik bapak sama Bu Kepsek aja sama sama cocok" kali ini Wahyu yang menimpali. Wahyu adalah murid yang suka menjodoh jodohkan gurunya dengan guru yang lain. Bahkan wahyu juga berhasil membuat dua guru saling mencintai. Dia terkenal sebagai Si tukang Comblang.
Pak Kumis memberengut kesal. "Saya nanya sama Alea kenapa kalian yang jawab"
Vina terkikik geli melihat raut wajah Alea. Akhirnya Alea membuka suara juga. "Wahyu benar pak, sepertinya bapak cocoknya dengan Bu Endang selaku kepala sekolah. Kalau saya sih memang lebih menyukai yang lebih tua tapi bukan yang seumuran bapak juga. Nanti kalau saya sama bapak bukannya dikira pasangan tapi dikira ayah dan anak"
"Tuh kan pak, apa yang saya bilang. Saya bisa bantu deketin bapak sama Bu kepsek kalau bapak mau. Lumayan pak. Kapan lagi dapat cewek yang secantik Bu Kepsek"
"Ada ada aja kamu, Bu Endang terlalu gendut buat bapak yang kurus. Bisa bisa bapak jadi penyet kalau sampe sama dia" Sementara Pak Kumis mengeluhkan tentang Bu Endang semua siswa langsung terdiam ketika melihat siapa yang masuk. Mereka langsung menyibukkan dirinya dengan buku mereka, termasuk Alea. "Masa iya saya yang ganteng kece badai ini harus bersanding dengan Bu Endang. Mana dia galak lagi. Kalian sendiri tahu kan seberapa galaknya dia"
"Galak lah ya apalagi"
Pak Kumis tersadar dan langsung menoleh, seketika dia langsung merubah sikapnya. "Eh ada Bu kepala sekolah. Ada yang bisa saya bantu bu?"
Bu Endang tersenyum sinis "Ajari muridmu ilmu bukan malah gosipin saya"
.
.
.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Rei dan Aiden langsung keluar dengan terburu buru dari dalam kelas. Mereka langsung menunggui Alea di depan kelasnya. Karena baru saja mereka mendapat pesan dari Arsen bahwa Alea harus pulang bersama mereka. "Lo udah ditungguin tuh sama abang lo, gue duluan ya Al" ucap Vina pada Alea. Alea mengangguk kemudian dia membereskan semua peralatan tulisnya. Setelah selesai dia langsung keluar. "Tumben abang abangku pada nungguin disini"
"Daddy nyuruh kamu pulang bareng abang" jawab Aiden dengan singkat. Alea mengangguk begitu saja.
Kemudian Aiden langsung menyibakkan rambut Alea ke belakang untuk membuktikan perkataan Rei tadi. Aiden mengeraskan rahangnya ketika melihat bercak merah itu di leher Alea. Ternyata Rei tidak berbohong. "Ayo pulang" ajak Aiden dengan dingin. Rei juga mengikuti mereka sambil berpikir apa yang akan Aiden lakukan nanti.