Hot Daddy

Hot Daddy
Kemana Arsen?



Disaat yang bersamaan, Setelah Arsen tiba tempat rahasia itu, Arini merasa mual ditambah lagi rasa sakit di perutnya yang semakin menjadi. Mila dan Garda sedang tidak di rumah, mereka pergi lagi setelah mengantarkan Arini tadi. Sebenarnya tadi Arini dan kedua mertuanya itu pergi berjalan jalan sebentar dan pada saat itu Garda menerima telfon dari salah satu rekan bisnisnya untuk segera terbang ke singapura. Karena perusahaannya yang disana sedang dalam masalah. Alhasil mau tak mau Mila harus ikut juga karena dia juga berperan penting dalam pembangunan perusahaan itu. Dan kembali lah mereka ke rumah untuk mengantar Arini pulang.


Arini masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan cairan bening, tangannya meremas perutnya yang terasa sakit. Dia tidak bisa minta tolong pada siapapun karena di rumah ini sepi, ingin rasanya dia menghubungi Arsen tapi ponselnya ada di kamarnya. Dan Arini tidak akan kuat untuk berjalan kesana. "Huweeeeekkkkk" Arini  memuntahkannya beberapa kali sampai wajahnya ikut memucat. Karena sudah lemas dan tidak sanggup berdiri lagi akhirnya Arini duduk di lantai kamar mandi sambil memegang perutnya yang masih sakit. "Awshhhhh" lirihnya sambil menahan rasa sakitnya itu.


Max baru saja pulang dari jalan jalan sebentar, tadinya dia mau pergi belanja oleh oleh untuk Via tapi tidak jadi karena Max harus mengajak Arini agar bisa tahu selera via seperti apa. Alhasil tadi Max hanya berjalan jalan tak jelas yang mengantarkan tujuan akhirnya pada rumah kembali. Max meletakkan sepatunya di rak sepatu, dia membuka jaket tebalnya kemudian menaruhnya di atas sofa. Tubuh Max terasa dingin sekarang, Max langsung tiduran di atas sofa kemudian mengambil ponselnya dan bermain game.


Awalnya Max bermain dengan tenang, tapi lama kelamaan ia merasa ada yang aneh. Seperti mendengar suara wanita yang sedang menangis. Max menaruh ponselnya kembali kemudian melirik ke sekitarnya barang kali ada seorang wanita disini, tapi rumahnya masih tetap sepi. "Apa itu suara hantu?" Gumam Max. Bulu kuduk Max tiba tiba merinding dengan hebatnya. Max pernah mendengar jika hantu jepang lebih menakutkan dari pada hantu indonesia tapi semenyeramkan apapun hantunya, Max tidak akan menyerah atau takut.   Dia akan menghadapinya sendirian.


Max mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengusir hantu itu, tapi tiba tiba saja di pikirannya terlintas ide konyol. Max pergi ke kamarnya dan mengambil raket nyamuk yang biasanya digunakan untuk menyetrum nyamuk. "Nah sekarang tinggal nyari hantunya" ucap Max sambil memegang benda itu dengan kedua tangannya. Max terus berjalan mencari asal suara itu, semakin ia berjalan malah semakin dekat pula suara yang ia dengar itu. Suara itu berasal dari kamar mandi.


"Masa iya siang siang gini hantu jepang lagi mandi?" Batin Max. Max semakin berjalan mendekati kamar mandi itu kemudian dia menempelkan telinganya di pintu kamar mandi. Seketika matanya terbuka dengn lebar, Max membuka pintunya dengan cepat dan menemukan Arini yang terus meringis kesakitan. "Astaga Arini, ternyata kamu hantu jepangnya" Arini mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Max. "Tolong Arini uncle, Sakittttt" Arini tidak bisa menahan air matanya, sehingga akhirnya dia menangis.


Max keluar dari kamar Arini, nomor pertama yang ia hubungi adalah milik Dokter kenalanannya atau lebih tepatnya teman Max selama di jepamg. "Datang kesini dalam waktu lima belas menit" ucap Max sambil berdecak pelan. "Yoi Max" jawab suara dari balik telfon tersebut. Tanpa menunggu apa pun lagi.


Setelah menelfon Dokter Max juga menghubungi Arsen, sudah beberapa kali panggilannya masuk tapi tidak dijawab. Arsen benar benar bisa membuatnya geram. Disaat istri lagi butuh dia malah tidak ada. Max memasukkan ponselnya ke dalam sakunya kemudian pergi ke dapur untuk mengambil air hangat. Arini terus memegang perutnya, rasa perih di perutnya perlahan lahan semakin mereda. Lalu kemudian Max datang dengan membawa Baskom yang berisi air hangat dan handuk kecil. Arini baru saja akan menegakkan tubuhnya tapi Max melarangnya, dia hanya ingin Arini tetap seperti itu. "Apa ini?" tanya Arini.


"Kompresan, Coba kamu kompres perut kamu dengan ini siapa tahu sakitnya hilang. Mama juga pernah ngalamin hal yang lebih sakit dari ini" ucap Max sambil memeras handuk kecil itu. Lalu Max memberikannya pada Arini. "Cepat kompres, Uncle akan menjagamu dari luar. Kalau ada apa apa kamu bisa memanggil Uncle" Max mengelus puncak rambut Arini kemudian mengecup keningnya sebentar. "Kemana Daddy?" batin Arini.


"Kenapa harus uncle Max?" lanjutnya lagi