
Setelah perayaan ulang tahun Arini, kini semua orang sudah kembali pulang. Hanya tersisa Arsen, Arini dan Max. Nichole dan Sunshine juga sudah berpamitan kepada mereka kalau mereka akan tinggal di tempat lain. Sepertinya Nichole tidak nyaman dengan Arsen karena tinggal disini dengan status bukan siapa siapa. Oleh sebab itu akhirnya mereka memutuskan untuk pindah saja. "Arini, bisa kah kamu meninggalkan kami disini, karena ada hal yang ingin Mas bicarakan dengan uncle mu" ucap Arsen sambil menatap ke arah Arini yang sedang memakan kue ulang tahunnya. "Oke deh lagi pula aku juga mau pergi ke kamar kok" jawab Arini. Dengan sepiring kue ulang tahunnya Arini pergi naik ke atas kamarnya dan membiarkan kedua pria itu berbicara.
"Max ikuti aku sekarang, ada hal penting yang ingin ku tanyakan" Arsen langsung beranjak dari sofa yang ia duduki dan meninggalkan Max begitu saja. Max yang penasaran dengan Arsen langsung mengikutinya. Max tidak tahu saja kalau Arsen sebenarnya sudah tahu semuanya. Setelah sampai di ruangan Arsen, Max menutup pintunya kembali dan melihat Arsen yang sudah duduk membelakanginya dan menghadap ke arah jendela yang tembus pandang. Arsen berdiri kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku. Tatapannya sangatlah datar dan terus menatap lurus ke depan."kenapa kamu memanggilku kesini?" tanya Max.
Lima menit Max menunggu jawaban dari Arsen tapi Arsen masih tidak mau membuka mulut. Akhirnya Max berbalik akan pergi ke luar. Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu tapi suara Arsen malah menghentikannya. "Apa kamu sudah tidak percaya lagi sama kakakmu Max?" Max benar benar tidak mengerti lagi sekarang, sebenarnya apa yang dimaksud oleh Arsen itu. Dia kembali berbalik dan sekarang berjalan mendekat ke arah Arsen. "Apa yang kamu maksud? Sejak kapan aku tidak percaya sama kamu? Aku selalu mendukungmu dalam hal apapun. Dari segi apa aku tidak mempercayaimu?"
Arsen mengambil ponsel dari dalam sakunya kemudian dia memperlihatkan Max suatu foto, foto itu adalah foto jaket yang pernah dipakai Max tempo hari lalu dan jaket juga yang menjadi sumber permasalahan bagi Arsen sekarang. "Apa yang salah dengan jaket ini? Itu hanya jaket biasa milikku kak." akhirnya Max memanggil Arsen dengan embel embel kakak juga. Arsen melihat ke arah Max. "Ini memang jaket biasa Max, tapi untuk apa jaket ini dipake itu yang tidak biasa. Jadi untuk apa kamu mengikutiku sampai ke dalam markas klan ku?"
Max kaget karena Arsen bisa mengetahui hal itu, padahal dia sudah berhati hati agar Arsen tidak tahu hal itu. Tapi semuanya sia sia karena Arsen sudah mengetahuinya.
"Sebenarnya aku sangat marah karena hal itu, tapi aku masih bisa menahannya hanya karena kita saudara. Aku tahu niatmu baik tapi itu bisa saja mengganggu orang yang kau ikuti itu. Kali ini aku memaafkanmu, tolong jangan diulangi lagi. Aku pasti akan berubah, tapi dengan caraku sendiri bukan dari orang lain. Kamu mengerti kan sekarang?" Max mengangguk dengan pasrah, lagi pula dia masih beruntung sekarang karena Arsen tidak benar benar marah padanya. Arsen adalah sosok kakak yang sangat berperan penting dalam hidupnya. Max tidak akan mengecewakan Arsen lagi sekarang.
Sementara itu, Shila dan Dani baru saja tiba di tempat kencan mereka. Dani sudah mengatur semuanya demi kencan mereka hari ini. Dan ini juga merupakan kencan pertama mereka karena sebelum itu mereka selalu gagal kencan karena Dani sibuk bekerja.
"Kamu suka tempat ini?" tanya Dani sambil menarik kursi untuk Shila. Shila mengangguk dengan senang hati, dia sangat menyukai tempat yang disiapkan oleh Dani ini. "Aku selalu pergi ke puncak ini kalau lagi ada masalah dan tempat ini hanya aku yang tahu. Si Doni saja tidak pernah kuajak ke tempat ini meskipun dia saudara kembarku " kemudian Dani melihat ke arah Shila dan menggenggam tangannya. "Aku sayang sama kamu serius Shila, aku tidak hanya ingin memacarimu saja tapi aku juga mau menikahimu. Kalau kamu masih ragu denganku kamu bilang saja sekarang?"
Shila balik menatap Dani, tanpa ragu ragu Shila mendaratkan kecupan di pipi Dani. "Aku tidak ragu sama sekali, meskipun aku tidak punya pengalaman soal cinta tapi aku yakin kalau bersama kakak sudah menjadi keputusan yang tepat" Dani tersenyum lalu memeluk Shila dan mengecup keningnya sekilas. "Aku harap kita bisa seperti ini selamanya"