Hot Daddy

Hot Daddy
Drama pagi hari



Setelah percintaan panas di pagi hari, Arsen dan Arini segera membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Tentu saja di kamar mandi yang berbeda, Arini menolak untuk mandi bersama Arsen ketika Arsen mengajaknya. Arini menyabuni tubuhnya yang penuh dengan kissmark dari Arsen semalam. Ia tersenyum ketika mengingat Arsen yang menghisap dadanya dengan lembut. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia pun mulai ketagihan.


Berbeda dengan Arini yang masih berada di kamar mandi, sekarang Arsen sudah siap dengan pakaian kantornya. Rambutnya yang biasanya acak acakan kini telah rapi tidak seperti biasanya. Arsen memandangi cermin yang memantulkan wajahnya. Senyum kecil terbit di bibirnya. "Umur sudah tua tapi wajah seperti anak SMA" ucapnya dengan pedenya.


Beberapa lama kemudian, Arsen dan Arini turun dari kamar mereka dan langsung menuju ke meja makan. Arsen meminta Bi Mina untuk memasak makanan lagi karena yang tadi pagi sudah dingin dan Arsen tidak menyukai makanan yang dingin meskipun masih bisa dihangatkan. "Good morning uncle" ucap Arini sambil menarik kursi di samping Max.


"Morning Sayang, Gimana paginya? Menyenangkan kah?" ucap Max sambil mengoleskan selai cokelat pada rotinya. Arsen memutuskan untuk duduk di hadapan Max. "Selalu menyenangkan kok Uncle" jawab Arini sambil tersenyum" Arini melirik ke arah Arsen yang pada saat itu juga menatapnya.


"Belah duren....Uh ah..uh ahhh...Oh belah duren sungguh nikmatnya dirimuu...tak peduli keadaan sekitar, langsung tusuk sekali tusuk langsung Gol" Max bersenandung kecil sambil menggigit Rotinya yang sudah dimakan. Arini merasa ada yang aneh dengan senandungan Max itu, tapi ia memilih tak menghiraukannya saja.


Arsen menendang kaki Max dari bawah meja, membuat Max langsung menatapnya. "Apa?" tanyanya dengan wajah yang dibuat buat. "Kamu tahu?" ucap Arsen dengan suara yang dikecilkan agar Arini tidakmendengarnya. Max tiba tiba tertawa sambil menelan roti terakhirnya. "Aku bahkan merekam suara kalian    ketika bermain, rekamannya ada di ponselku" ucap Max sambil mengangkat ponsel terbarunya.


"Hapus!!" ucap Arsen yang disertai tatapan tajamnya. Sebenarnya Max berbohong tentang ia yang merekamnya, ia hanya ingin mengerjai Arsen saja. "Tidak bisa semudah itu, kamu harus memberikanku sesuatu untuk membayar penghapusan rekaman ini. Oh atau aku perlu mengirimnya pada Mama sama Papa?" Ucap Max sambil tertawa kecil.


Arsen mengepalkan tangannya dengan kuat, Max tidak bisa dipercaya. Tapi baiklah, demi Arini apapun akan ia lakukan. "Baiklah, sebagai gantinya kamu bisa memilih tiga mobil yang ingin kamu beli, aku yang akan membayarnya' ucap Arsen dengan nada kesal, kalau saja di depannya ini bukanlah Adiknya ia pasti akan dengan senang hati membanting tubuhnya dari kamarnya yang berada di lantai dua.


"Tiga? Itu terlalu sedikit. Aku maunya lima tapi kalau kamu tidak sanggup sepuluh aja gak apa apa" Max benar benar memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, kapan lagi ia bisa menguras Aset keuangan Arsen, lagi pula lima buah mobil itu tidak ada apa apanya bagi Arsen karena kekayaan Arsen masih ada dimana mana.


"Oke, Lima mobil. Sebutkan jenis mobilnya biar orang orangku yang mengurus semuanya, dengan syarat kamu sudah menghapus rrkaman itu" jawab Arsen dengan datar. Dan langsung membuat Max menyunggingkan senyumnya. "Oke, sekarang juga aku hapus" Max pura pura membuka ponselnya dan menghapus rekaman palsu miliknya dulu hingga tandas. Lalu menunjukkannya pada Arsen. "Sudah kan? Jadi kapan aku bisa menerima mobilnya"


"Besok pagi"


Arini diam diam memperhatikan kedua orang itu yang tengah mengobrol sampai berbisik bisik segala, karena dari tadi ia hanya fokus memakan sarapannya yang tertunda. "Daddy sama Uncle lagi ngobrol apaan sih? Bukannya sarapan malah bisik bisik" ucap Arini sambil menatap wajah Arsen dan Max secara bergantian. Arsen menatap tajam Max agar tidak membuka mulut pada Arini, kalau sampai Arini tahu Max mendengar suara desahannya tadi pagi pasti Arini tidak akan mau lagi diajak bercinta olehnya nanti.


"Kami lagi ngobrolin tentang perusahaan"


Arini mengangguk lalu kembali melanjutkan sarapannya. Setelah selesai sarapan Arini mengambil tas kuliahnya yang sudah disiapkan Bi Mina tadi, Arini berjalan dengan langkah yang terseok seok karena pusat dirinya masih sakit gara gara semalam, ditambah lagi tadi pagi. Untung saat ini bukan masa suburnya jadi Arini tidak perlu khawatir hamil dengan cepat. "Daddy, Arini berangkat dulu. Pake mobil sendiri."


Arsen mendongakkan kepalanya dan menatap Arini. "Yakin mau pakai mobil sendiri? Lebih baik Daddy antar saja." Arini menggelengkan kepalanya dengan cepat, kalau ia diantar oleh Arsen sama saja ia memberi Arsen kesempatan kedua untuk menggerayangi tubuhnya, sekarang Arini sudah hafal dengan setiap kebiasaan Arsen ketika bersamanya. Kalau tidak berciuman ya menggerayangi. "Tidak usah, lebih baik Daddy langsung ke kantor saja. Arini berangkat dulu ya Daddy, uncle"


Arini mengecup tangan Arsen dan Max bergantian. "Hati hati Arini, tolong jaga pacar uncle ya, jangan sampai genit sama Dosen abal abal itu" teriak Max yang dijawab dengan acungan jempol oleh Arini. Beberapa hari yang lalu Max mendapati Via yang tengah mengobrol dan tertawa bersama Dosennya itu, apalagi Dosennya sangat tampan. Max bukannya tidak pede, tentu saja wajahnya jauh lebih baik daripada Dosen itu, hanya saja ia takut pacarnya itu khilaf. Apalagi perasaan Via masih abu abu untuknya.


"Ck Dasar Tua Bucin" Decak Arsen sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya. "Lebih baik Bucin daripada Mesum, putri sendiri ditiduri. Dasar Duda"


"Bucin"


"Duda"


"Bucin"


"Duda"


"Cuihhh bisa bisanya Via mau sama laki laki lembek seperti kamu"


"Yang Muda masih banyak kenapa Arini harus milih pria bangkotan seperti kamu, pasti semalam burungnya loyo dan gak bisa muasin Arini" ucap Max sambil tertawa mengejek.


"Loyo kamu bilang? Juniorku sangat perkasa. Kalau tidak perkasa mana mungkin Arini bisa jalan seperti tadi' ucap Arsen membela dirinya sendiri.


"Bodo Amat, Junior kayak pisang aja bangga, untung  rambut junior nya gak ubanan kalau ubanan Arini mana mau main sama kamu" Batin Max.