Hot Daddy

Hot Daddy
S.2. Eps 19 Ngebujuk Alea



Disaat Arsen sedang sibuk membujuk Alea di kamarnya, sebuah mobil yang menjemput si kembar baru saja tiba di halaman rumah mereka. Kemudian turunlah keduanya dari mobil. Aiden dan Rei langsung mengambil  koper masing masing. Tidak lupa mereka berterima kasih dengan supir kepercayaan Arsen. "Terima kasih mang" ucap Aiden. Supir itu mengangguk sambil tersenyum. "Sama sama den" jawabnya. Arini yang sudah tahu Aiden dan Rei akan pulang hari ini dia langsung membukakan pintunya dari dalam. Dan menyambut mereka dengan senyuman lebar. Aiden dan Rei langsung mendekat ke arah Arini dan memeluknya secara bersamaan. "Kangen Mommy" ucap Rei di sela sela pelukannya. Arini tertawa kecil sambil mengelus rambut mereka. "Kalian disana baik baik aja kan? Kalian sudah makan dengan baik? Jangan bilang kalau kalian..."


Cupp


Satu kecupan mendarat dengan mulus di pipi Arini. Dan pelakunya adalah Aiden. "Kami selalu ingat pesan Mommy" ucap Aiden. Rei sampai terheran heran melihat Aiden yang tiba tiba saja mencium Arini. Biasanya Aiden tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Rei terus saja menatap Aiden dengan aneh. Sampai akhirnya pandangan matanya bertemu dengan Aiden. "Kesurupan setan bali lo ya bang, tumben amat nyium Mommy. Biasanya juga gak mau tuh" Rei tersenyum jahil sehingga terlihat sangat menyebalkan di mata Aiden. Tapi Aiden tidak menghiraukannya. "Alea mana ?" tanya Aiden pada Arini.


"Dia lagi di kamarnya dibujukin sama Daddy nya"


"Kenapa lagi Adek?" tanya Rei ikut penasaran.  Arini mulai menceritakan semuanya pada mereka berdua. Mulai dari awal sampai akhir.


"Mommy bukannya ingin melarang, tapi Alea harus belajar dewasa. Tidak semua hal harus ia dapatkan dengan cara yang mudah. Mungkin Mommy salah karena terlalu sering memanjakannya. Tapi mommy juga memikirkan masa depannya kelak. Mommy tidak mau Alea bernasib sama seperti Mommy"


Aiden dan Rei saling melihat satu sama lain. Rei mengangguk pada Aiden. "Alea biar Aiden aja yang urus Mom, jangan khawatir. Kalau begitu Aiden mau ke kamar Alea dulu" Aiden meninggalkan kopernya begitu saja dan bergegas untuk menemui Alea di kamarnya. Sedangkan Rei dia masih tetap bersama Arini di depan pintu rumah. "Abang pasti bisa mengatasinya Mom"


.


.


"Sayang, kamu jangan marah sama Mommy ya.


Niat Mommy itu baik. Mommy hanya ingin kamu belajar. Bukannya kamu pernah bilang kalau kamu akan belajar, Lagi pula Daddy sudah menyiapkan hadiah untuk kamu loh"


Alea memalingkan wajahnya tidak mau melihat Arsen. Dia tetap saja cemberut sepanjang Arsen menasehatinya. "Alea hanya ingin bertemu mereka secara langsung Dad. Selama ini Alea cuma bisa melihatnya dari layar laptop. Tapi Mommy malah tidak mengizinkannya. Mommy terus terusan menyuruh Alea belajar apa Alea sebodoh itu? Apa Mommy malu punya anak bodoh seperti Alea?" Alea menungkupkan wajahnya di kedua lututnya, dia mulai menangis. Arsen sendiri sampai kebingungan harus bagaimana lagi dia menjelaskannya pada Alea.


Aiden menutup pintunya dengan tenang. Dia bersedekap dada sambil memperhatikan Alea yang sedari tadi menangis. Dengan langkah yang pelan Aiden duduk di kasur Alea. Aiden mengelus rambut panjang Alea. "Kenapa nangis?"


Mendengar suara Aiden, Alea langsung mengangkat wajahnya. Matanya sudah terlihat sangat sembab karena air matanya. "Abang" dengan cepat Alea langsung melompat ke pelukan Aiden hingga Aiden terjatuh di kasur empuk itu. Aiden membiarkan Alea berada di atasnya. Untuk saat ini dia tidak perlu protes, Aiden akan membiarkan Alea tenang dulu. Meskipun ada yang tidak beres di bawahnya. "Dia adikmu Aiden" batin Aiden dari dalam hatinya. "Kamu kenapa? Ayo cerita sama abang"


Alea menarik kaos yang dipakai Aiden kemudian mengelap ingusnya dengan itu. Untung saja Aiden tidak marah. Aiden hanya tersenyum kecil. "Mommy jahat, dia tidak mau mengizinkan Alea untuk nonton konser"


"Tahu darimana kamu kalau Mommy jahat?" tanya Aiden yang berhasil membuat Alea terdiam. Aiden bangun kemudian memperbaiki posisinya sehingga sekarang Alea berada di pangkuannya dengan posisi paha Alea yang melingkar di pinggangnya. "Kalau Mommy jahat, Mommy tidak akan pernah membiarkan kita ada di dunia ini. Daddy pernah cerita kalau dulu Mommy pernah menolak melahirkan kita dengan operasi karena Mommy mau melahirkan kita dengan normal. Mommy rela mengorbankan nyawanya hanya untuk melahirkan kita. Jadi dari segi mana nya Mommy jahat hmm?"


"Tapi Alea mau...."


"Iya tahu, kamu mau nonton konser EXO kan. Kamu harus belajar dulu yang rajin. Kasian Mommy. Mommy sedih karena kamu ngambek seperti ini. Kamu harus minta maaf sama Mommy, okay?" Aiden menghapus sisa sisa air mata di pipi Alea kemudian mengecup pipinya.


"Iya abang, tapi kenapa paha Alea ada yang ganjal? Kek ada yang gerak gerak gitu" Alea melihat ke arah Aiden dengan polosnya.  Dengan spontan Aiden langsung mendorong Alea sehingga terlepas dari pangkuannya. Seketika wajah Aiden langsung memerah. "Ih abang kenapa malah didorong sih? Emang yang gerak gerak itu apaan?"


"Jangan bahas itu kamu masih kecil"


"Jangan jangan itu......"


Aiden meneguk ludahnya, sementara Alea menatapnya dengan curiga. "Jangan jangan celana abang ada kecoanya" Alea langsung tertawa dengan keras membuat Aiden bernafas lega.