Hot Daddy

Hot Daddy
Persiapan pergi ke jepang



Dengan bantuan Bi Mina, Barang barang Arini sudah dimasukkan ke dalam koper. Sepulang dari rumah sakit Arini memang meminta bantuan Bi Mina untuk mempersiapkan semuanya, karena keadaannya masih belum cukup pulih. Setelah makan malam Arsen, Arini dan Max langsung berkumpul di ruang keluarga. Mereka membicarakan untuk keberangkatan besok ke jepang. Sebelum pergi kesana, Arsen sudah menghubungi kedua orang tuanya dan mereka dengan senang hati untuk menyambut kedatangan putra dan cucu mereka. "Besok kita berangkat pakai pesawat pribadi keluarga kita" ucap Arsen pada Max dan Arini.


"Berangkatnya jam berapa Dad?" tanya Arini sambil memasukkan cokelat terakhirnya ke dalam mulutnya dan mengunyahnya. "Jam 7 pagi kita berangkat" jawab Arsen. Max yang sedari tadi bersantai hanya mengangguk saja. Sedari tadi ia disibukkan dengan bermain game. Max bukan tipe pria dewasa yang suka main game, tapi sejak ia berpacaran dengan Via, Max jadi lebih suka main game. Sekedar informasi saja, sahabat Arini yang satu itu juga seorang gamers, Via sangat handal dalam memainkan beberapa game. Bahkan teman teman kampusnya selalu minta dimainkan oleh  Via agar bisa menang dari lawan. Dan itu lah yang menjadi kelebihan dari Via


"Daddy, Arini boleh bawa peralatan melukis dari sini gak? Arini mau melukis lagi. Dan di jepang pemandangannya sangat indah. Arini mau melukis disana nanti" ucap Arini dengan ragu ragu. Arsen tersenyum tipis lalu mengangguk sebagai jawabannya. "Tentu saja boleh. Lagi pula itu kan bakat kamu. Kamu juga sudah lama tidak melukis." Arsen tidak ingin mengekang apa yang disukai Arini, Bagi Arsen ia cukup mengekang hati Arini saja tidak dengan yang lain. "Kalau gitu Arini siapin dulu"


Setelah itu Arini pergi ke kamarnya untuk menyiapkan semua peralatan melukisnya, meski sebenarnya ia bisa membelinya di jepang tapi Arini belum tentu cocok dengan kanvas yang ada disana. Arini memang selalu memilih kanvas yang bagus ketika melukis. Seperti yang sudah ia siapkan sekarang. Sepeninggal Arini, Arsen hanya tinggal berdua dengan Max. "Bangs*t, cepat habisi musuhnya bego." Max mengenyitkan dahinya bersikap seolah olah ia sedang serius. Untung saja tidak ada kekasihnya disini, jika ia sampai ketahuan mengumpat pasti Max akan diceramahi habis habisan oleh Via.


"Bagaimana perusahaan kamu sekarang?" tanya Arsen pada Max. Max menoleh sebentar lalu fokus pada gamenya kembali. "Baik baik saja, tidak ada masalah. Apalagi semenjak perusahaan papa diserahkan padaku, sepertinya banyak Investor yang ingin bekerja sama dengan perusahaanku" Timpal Max. Arsen hanya mengangguk lalu karena tidak punya pekerjaan lain Arsen hanya melihat Max yang sedang memainkan game mobile legend yang sempat booming hingga sekarang. "Apa tidak ada game yang lebih bagus daripada itu?" tanya Arsen heran. Karena menurut yang ia lihat game itu sangat membosankan, tidak ada sisi menariknya sama sekali.


"Ini sudah yang paling menarik? Lihat saja Desain game nya bagus dan tidak seperti game lain" ucap Max sambil menunjukkan ponselnya pada Arsen. "Lebih bagus lagi jika ada game bunuh bunuhan" lanjut Arsen. Arsen segera merebut ponsel Max dan mencoba memainkan game mobile legend itu. Meskipun jarinya masih kaku tapi Arsen mencoba untuk terbiasa. Max menahan tawanya ketika melihat  Arsen yang sok pintar ketika bermain game tersebut. Maaf maaf saja ya, Menurut Max Arsen pintar dalam bisnis tapi bodoh dalam dubia hiburan.


"Ini game apa sih? Gak jelas banget" Arsen langsung melemparkan ponsel Max hingga terjatuh di sofa sanping Max. Max hanya bisa mendelik kesal karena Arsen berbuat semena mena terhadap ponselnya. "Gak usah dilempar bisa, apa gunanya tangan kalau kamu tidak bisa memberikannya dengan baik" Sindir Max dengan jengkelnya. Arsen hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh.


.


.


Laki laki di depannya mengangguk. "Kita tunggu beberapa bulan, sekarang belum waktunya." jawabnya sambil tersenyum dengan samar. Pria yang bertanya tadi langsung menghela nafasnya. "Kenapa harus beberapa bulan lagi kalau masih bisa sekarang?" tanya Rendi. Yah orang yang saat ini sedang membicarakan Arini adalah Rendi dan Langit. Mereka bekerja sama untuk melakukan kejahatan dan korban yang ditargetkan mereka adalah Arini.


Rendi berdeham lalu meminum jus nya yang sudah mulai dingin. Kemudian ia menatap Langit kembali. "Kita harus melakukannya dengan pelan pelan Lang, kamu tahu pepatahkan biar lambat asal selamat, biar telat tapi yang penting pasti. Sama hal dengan masalah ini. Kita tidak boleh gegabah, kita harus bisa merencanakan semuanya dengan baik"


"Kamu ada benarnya juga sih" ucap Langit. Rendi hanya mengangguk lalu tersenyum misterius.