
Arini merasakan angin sepoi sepoi meniupi seluruh tubuhnya, entah ada dimana dia sekarang tapi Arini sangat nyaman di tempat ini. Seseorang tiba tiba mendekapnya dengan erat dari belakang, Arini akan memberontak tapi setelah dia mendengar suara itu dia berhenti memberontak. "Aku suamimu" Kini Arini mulai tenang. Arsen juga mulai membuka ikatan dan melepaskan kain penutup mata Arini. Sekarang Arini sudah melihat semuanya, yang ia lihat pertama kali saat membuka mata adalah hamparan air laut dan pemandangannya yang begitu indah. Sekarang Arini berada di pantai. Shila dan Arsen yang membawanya kesini. "Kamu suka?" tanya Arsen dengan tidak melepaskan pelukannya. Arini langsung membalikkan tubuhnya dan menatap Arsen. "Kenapa Mas bisa ada disini? Dan dimana Shila?"
Arsen tersenyum lalu dia kembali memutar tubuh Arini kemudian memeluknya kembali, Arsen menumpu dagunya di bahu sebelah kanan Arini. "Lihatlah ke arah kiri" bisik Arsen. Arini menoleh ke arah kiri dan menemukan Shila yang tengah berkenalan dengan beberapa cowok disana. Arini hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Selain Oon dia juga polos, bagaimana bisa dia memberikan nomor ponsel kepada orang yang tidak dikenalnya" gumam Arini. Arsen tidak terlalu mendengarkan karena dia hanya sibuk dan fokus pada Arini saja. kemudian Arini menoleh pada Arsen. "Mas kamu belum cerita loh kenapa kamu bisa disini"
"Tidak ada yang perlu diceritakan sayang, ini rencanaku. Dan temanmu itu juga ikut membantu. Aku hanya ingin memberimu kejutan setelah beberapa hari ini kamu diam di rumah. Aku tahu kamu pasti merasa bosan dan makanya aku bawa kamu kesini." Arsen menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Arini. Beruntung Shila memilihkan baju yang tidak terlalu terbuka untuk Arini, jika tidak dia bisa saja terkena murkanya Arsen. "Jadi tadi...." Arsen menutup bibir Arini dengan tangannya. Kemudian dia mendekatkan wajahnya dan matanya tertuju pada satu tujuan. Baru saja Arsen akan mendaratkan bibirnya di bibir Arini tapi Shila datang mengganggu momen mereka.
"Maaf, Om Kejutan yang om minta sudah siap. Semuanya sudah beres" Shila menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia merasa canggung karena telah mengganggu suami istri itu bermesraan. "Hmm baiklah, kembali lah ke tempatmu dan jangan ganggu saya lagi. Saya masih ingin menikmati waktu bersama sahabatmu ini. Tenang saja, saya sudah menyuruh Dani dan Doni untuk menemani kamu disini" ucap Arsen dengan panjang lebar. Arini hanya bisa membulatkan mulutnya, ternyata Suaminya ini masih bisa berbicara panjang lebar, dia kira Arsen selalu berbicara irit. "Maaf Om, tapi siapa itu Dani dan Doni?"
Arsen tidak menjawab dia hanya menunjuk ke suatu tempat, kemudian dia menarik tangan Arini dan membawanya pergi. Shila yang kebingungan langsung berjalan pergi dia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Arsen, alhasil dia mengangkat bahunya acuh tak acuh. Saat Shila berjalan pergi dia tak menyadari kalau ada dua orang yang sedang mengikutinya dari belakang.
.
"Duduk" Arsen menarikkan kursi untuk Arini, dia sudah menyiapkan meja di tepi pantai untuk mereka makan bersama. Dengan sedikit hiasan di sekitar pantai Arsen sudah berhasil membuat Arini tersenyum. "Makasih Mas udah repot repot nyiapin ini semua buat aku" kemudian Arsen menarik kursi untuk dirinya sendiri. "Aku baru kepikiran buat mengejutkan kamu setelah di kantor dan sekarang inilah hasilnya. Dengan kejutan seadanya, aku tidak sempat membuat yang lebih wow lagi karena waktunya yang sangat mendadak." jelas Arsen sambil memandang wajah cantik Arini. Rambutnya yang bergelombang terus beterbangan karena Angin yang menerpa mereka.
Mata Arsen langsung terbuka dengan lebar, dia bahkan sampai berdiri karena sakinh terkejutnya. "Kamu tahu semuanya?" tanya Arsen dengan pelan pelan. Arini langsung mengangguk.
"Aku sudah tahu apa yang mas sembunyikan dari aku selama ini, Sebenarnya aku marah Mas, Marah karena kamu yang terus menyembunyikan sesuatu dari aku. Tapi setelah aku pikir pikir kamu melakukan itu karena punya suatu alasan. So, Aku tidak marah padamu Mas" Arsen duduk kembali kemudian membalas pegangan Arini dengan erat. "Kamu masih menerima aku setelah tahu semua kenyataan ini?" Arsen benar benar takut akan kehilangan lagi, dia tidak mau kehilangan Arini. Arsen sudah sangat mencintainya sekarang.
"Sejak awal janji suci pernikahan kita, aku sudah memantapkan hati untuk menerima semua kekurangan Mas. Dan sekarang aku membuktikannya. Aku tidak peduli jika Mas menjadi apa. Asalkan ingat satu hal Mas. Tolong mas buka hati nurani Mas, jangan terus melakukan hal itu. Demi aku, kamu dan anak kita" Arini menunduk dan mengelus perutnya. Selama ini dia berpura pura bodoh dengan bersikap seolah olah dia tidak tahu apa apa, tapi sekarang semuanya sudah terlihat dengan jelas. "Aku tahu, aku juga sudah berjanji untuk menyimpan semua hal itu. Dan mulai sekarang aku hanya ingin fokus dengan kalian, kamu istriku dan dia anak kita" Arini mengangguk sambil tersenyum. Arsen langsung memindahkan kursinya dan menjadi lebih dekat dengan Arini, kemudian dia menyadarkan kepala Arini di bahunya "i love you Mas" Gumam Arini.
"I love you more"
Arsen dan Arini saling menatap satu sama lain, kemudian Arini mengalungkan tangannya di leher Arsen, mereka melakukan ciuman dengan sangat baik. Arsen menikmati setiap rasa manis yang selalu ia rasaka n ketika mencium bibir Arini. Mereka berdua berciuman selama beberapa menit, dan untung saja pantai dalam kondisi yang sepi sehingga para pengunjung tidak akan melihat mereka yang sedang berciuman.