
Arsen dan seluruh keluarganya telah bersiap siap, hari ini adalah hari yang paling bersejarah di hidup mereka. Karena hari ini adalah hari pernikahan Arsen untuk yang kedua kalinya. Sejak tadi Max dan Garda sibuk mengurus sesuatu sedangkan Mila, dia menemani Arini yang sedang dirias. Dalam pernikahan kali ini Arsen akan mengikat janji suci dengan Arini di gereja. Dia sudah mengatur semuanya, mereka hanya tinggal datang dan melaksanakan pernikahan yang sah di mata agama mereka.
Arini menatap dirinya di cermin, wajahnya kini sudah selesai di rias. Dia yang sudah cantik natural sekarang tampak lebih cantik lagi. Bahkan Mila sampai tak percaya kalau yang ada di hadapannya adalah Arini meskipun Mila melihat semuanya. "Kamu benar benar cantik sayang, bahkan Fifin kalah cantik dari kamu" Fifin adalah nama panggilan Mila untuk mendiang istri Arsen terlebih dahulu. Arini tersenyum tipis lalu menggeleng. "Tidak Ma, menurut Arini Bunda jauh lebih cantik daripada Arini" Kilahnya kemudian.
"Sayang, mau gimana pun juga cerita antara Arsen dengan Fifin sudah selesai. Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Hari ini adalah hari pernikahan kamu dan ini adalah pernikahan pertama kamu. Mama harap kamu bisa menjadi pilihan terbaik bagi Arsen dan Arsen juga terbaik untukmu." Mata Mila berkaca kaca saat mengatakan hal itu, dia menyayangi Arini dengan sangat. Tidak peduli statusnya yang berasal dari mana. Mila sudah terlanjur sayang pada Arini. Arini mengangkat tangannya lalu menghapus air mata yang hampir jatuh di pipi Mila. "Sssttt Mama jangan nangis ya, Arini tidak mau melihat mama menangis. Pokoknya Mama harus tersenyum bahagia hari ini'
Mila mengangguk lalu dia memeluk Arini dengan erat. Diam diam Arini juga menghapus air mata di pipinya sendiri, dia tidak ingin menangis di hadapan Mila. Untung saja air matanya tidak mempengaruhi Make up nya. Setelah itu Mila mengurai pelukannya lalu tersenyum. "Kalau begitu ayo kita berangkat, kita harus sampai di gereja dalam waktu tiga puluh menit lagi. Arsen juga sudah menunggumu disana" Jantung Arini tiba tiba berdetak dengan kencang, Dia merasa sangat gugup sekali. arini juga terus berharap semoga pernikahannya ini berjalan dengan lancar tanpa gangguan apapun
Sedangkan di tempat lain, Garda dan Max sudah tiba di gereja lebih awal. Mereka disana untuk mengurus beberapa hal termasuk mendampingi Arsen yang sekarang sudah siap untik menikah. "Gimana perasaan kamu Son, apa kamu bahagia hari ini?" tanya Garda sambil melihat wajah Arsen. "Aku baik saja saja pa, dan intinya aku bahagia. Aku tidak pernah bahagia seperti ini sebelumnya" Jelas saja Arsen akan menjawab seperti itu, toh lagi pula itu memang kenyataannya. Max lalu memeluk Arsen dengan pelukan antara laki laki dengan laki laki. "Jaga Arini dengan baik baik kak, kamu tidak akan pernah menemukan wanita seperti Arini lagi jika kamu suatu saat sampai melepas dia"
"Tenang saja, lagi pula aku sudah menyayanginya sejak dia masih menjadi putriku. Aku akan terus menjaga dan mencintainya" ucap Arsen sambil menepuk bahu Max. Arsen tidak ingin bermain main jika itu menyangkut soal Arini, kalau dia sudah berkata seperti ini maka harus seperti ini. Itulah prinsip Arsen sejak kecil. Garda mengangguk, dia sudah yakin sejak awal Arsen memang laki laki yang bertanggung jawab untuk Arini.
.
.
Dua puluh menit kemudian, mobil yang ditumpangi Arini sudah tiba di gereja. Mila turun terlebih dahulu lalu kemudian dengan bantuan sopirnya Mila membukakan pintu untuk Arini.
Gaun Arini tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, ukurannya sangat pas di tubuhnya. Dan itu memudahkannya untuk berjalan ke atas. "Ayo sayang, Max menunggumu disana. Sebentar lagi dia yang akan mengantarmu pada suamimu" itu adalah Suara Garda yang langsung turun dari gereja untuk menyambut Arini. Arini mengangguk lalu tersenyum kemudian dia diantarkan oleh kedua mertuanya itu pada Max. "Ulurkan tangannya Baby" ucap Max. Arini mengulurkan tangannya pada Max kemudian Max mengambilnya dan melingkarkan tangan arini di lengannya. "Tidak usah gugup, tetap santai oke" bisik Max dengan pelan.
"Iya Uncle" jawab Arini. Setelah mendengar jawaban Arini, Max langsung menegakkan tubuhnya dan mengajak Arini berjalan. Alunan musik yang lembut mengiringi mereka, semua orang yang ada disitu terus memperhatikan mereka. Disana, Arini melihat seorang pria yang ia kenali dengan memakai balutan Jas hitam tengah berdiri sambil menatapnya terus terusan. Arini menundukkan kepalanya sambil terus berjalan. Max yang melihat itu hanya tersenyum. Setelah tiba di hadapan Arsen, Max langsung mengambil tangan Arsen dan menautkan tangan mereka berdua. "Tugas Uncle adalah mengantarmu sampai disini, selebihnya kamu dan Arsen yang akan menjalaninya" Max dengan perlahan mundur ke belakang dan membiarkan mereka berdua.
"Sudah siap Sayang?" bisik Arsen dengan suara seksinya.
"Siap Dad" jawab Arini.