Hot Daddy

Hot Daddy
Dani



Arsen dan Max baru saja pulang dari kantor. Mereka tiba secara bersamaan di halaman rumah. Kemudian menaruh mobilnya masing masing lalu turun. Seperti biasa Max selalu memperhatikan penampilannya ketika baru pulang kerja dan tiba di rumah dia tidak ingin terlihat kucel di mata istrinya. "Narsis banget kamu" ucap Arsen sakbil melewati Max. Max hanya menggelengkan kepalanya. "Masih belum cair juga nih es kutub" gumamnya dalam hati. Saat Max dan Arsen masuk ke dalam rumah, suasana rumah yang tadinya ramai menjadi hening seketika. Apalagi Dani, dia langsung berdiri dan memberi hormat pada Arsen selayaknya anak buahnya. "Tidak perlu Dani, sekarang kamu disini adalah tamu saya, bukan pengawal saya. Jadi kamu tidak perlu melakukan itu"


Arini dan Via langsung menghampiri suami mereka masing masing. Via dengan sigap mengambil tas dari tangan suaminya kemudian membantunya melepaskan kemejanya. "Gimana kerjaannya Mas?" tanya Via. "Lancar lancar aja semuanya tidak ada masalah" jawab Max. Sedangkan Arsen dia tidak mengizinkan arini untuk berdiri Arsen menyuruh Arini untuk tetap duduk. Kemudian dia yang menghakpiri dan berjongkok di hadapan perut besar Arini itu. "Daddy pulang? Kalian disana baik baik aja kan?" Arini mengusap rambut kepala arsen kemudian menjawab layaknya seperti anak kecil. "Aku baik baik saja Daddy, Mommy selalu menjagaku dengan baik" ucapnya.


Arsen tersenyum kemudian dia mengecup perut besar itu. "Daddy mau mandi dulu ya, kamu sama Mommy aja disini" setelah itu baru lah Arsen melihat ke arah Arini. Arsen langsung memberikan kecupan bibir pada Arini. Arini benar benar salah tingkah karena dia dilihat oleh semua orang yang ada disitu. "Mas, malu ih. Nyiumnya sembarangan aja deh" ucapnya. Arsen terkekeh kemudian menoleh pada Dani. "Kamu mau seperti saya Dan?" "Iya pak" jawab Dani. "Cepet nikahin Shila dan buat dia tidak bisa berjalan selama dua hari" jawab Arsen dengan santainya. Max langsung melototkan matanya bisa bisanya Arsen mengajari hal itu pada bawahannya sendiri.


"Maaf Om, tunangan saya masih polos" Max tersenyum penuh kememangan. Dia mengacungkan jempolnya pada Shila karena telah berani menjawab Arsen. "Sepolos polosnya Dani, lima jari pasti lolos di dalam celananya" Arini langsung menabok mulut Arsen dengan tidak tanggung tanggung. "Sakit sayang" ringis Arsen. "Biarin, cepat sana mandi. Daripada makin gak bener otaknya." Arsen memutar bola matanya kemudian berbalik untuk mandi tapi sebelum itu dia mengambil kesempatan lagi untuk mencium Arini. Cupp. "MAS ARSEN" teriak Arini dengan menggelegar. Arsen hanya tertawa mendengar kekesalan istrinya padanya.


"Ya udah mas sana mandi dulu deh. Habis itu kita makan siang bersama" Kali ini Via yang memberikan perintah pada Max. "Oke, aku mau mandi dulu. Kamu kalau masak jangan yang berat berat. Serahkan bi Mina saja. Kamu kan lagi hamil" ucap Max sambil mengelus puncak kepala Via. "Iya mas, ya udah sana mandi gih" Max pun segera berlalu dan masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri. "Kalian mau masak kan? Ya udah gue bantuin yok" ucap Shila dengan penuh semangat. "Mending lo yang bantuin aja deh, Arini jangan. Kandungan dia udah gede bahaya kalau nanti tiba tiba jatuh" Shila mengangguk begitu saja. "Maaf ya Shil gue jadi ngerepotin lo" ucap Arini.


"Santai aja Rin, lagian gue gak merasa direpotin kok. Ya udah lo tunggu disini aja. Kak, aku mau bantuin Via masak dulu ya" Dani mengangguk. "Iya udah masak dulu sana, latihan belajar jadi calon istri yang baik" pipi Shila langsung bersemu merah. Via langsung menarik tangan Shila dan membawanya ke dapur. Sementara Via dan Shila sedang memasak di dapur. Kini di ruang tengah itu hanya tersisa Dani dan Arini. Arini yang merasa canggung pun akhirnya membuka pembicaraan. "Bagaimana hubungan kamu dengan Shila?" tanya Arini. Dia tidak ingin ikut campur tapi Arini hanya penasaran saja. Arini hanya ingin memastikan Shila mendapat pasangan yang tepat untuknya. Jangan sampai kepolosannya di rusak oleh laki laki yang tidak punya hati.


"Kamu bisa berjanji satu hal gak sama aku?" Dani meluruskan punggungnya lalu menatap wajah Arini dengan serius. "Apa?" tanya nya.


"Tolong jangan sakiti Shila, dia wanita yang polos. Dia sudah mengalami banyak kepahitan hidup dan sekarang sudah  waktuny dia untuk mendapatkan kebahagiaan dari kamu. Jadi aku minta tolong dengan sangat, jika kamu memang benar benar menyukai Shila, tolong jaga dia. Perlakukan dia dengan istimewa sama seperti kamu memperlakukan ibu kamu sendiri"


"Aku tidak akan menyakitinya aku bisa memastikan itu' ucap Dani dengan mantap.


"Buktikan"