
Arini melepas Arsen sampai ke depan rumah, setelah satu jam bujukan dan rayuan Arsen ucapkan pada arini. Karena tiba tiba saja Arini berubah pikiran dari yang kemarin tidak apa apa sekarang Arini malah tidak ingin ditinggal. Dia terus memeluk Arsen selama satu jam lebih, Max berusaha membujuk Arini tapi tetap saja Arini tidak mau hingga akhirnya Arsen membiarkannya terlebih dahulu. Dia memeluk Arsen dengan sangat berat dan itu membuat Arsen mengelus dada. "Begini lah kalau punya istri yang masih muda, masih labil kemarin bilangnya apa sekarang maunya apa" batinnya. "Arini, lepas dulu ya saya!g kemarin kan kamu bilang sendiri kalau kamu bukan istri yang rewel tapi sekarang mana? Kamu masih tidak mau melepaskan aku. Aku cuma pergi ke luar kota sayang bukan keluar negeri."
"Walaupun bukan pergi ke luar negeri tetap aja ya mas kalau pergi itu namanya juga tetap pergi. Meskipun jauh atau enggaknya aku tak peduli sekarang aku hanya ingin terus bersamamu" Arsen melirik pada Max yang berada di sampingnya. Sudah beberapa kali Arsen menyuruh Max untuk membujuk arini juga namun tidak berhasil. Tapi pada akhirnya Arini luluh juga, dia membiarkan Arsen pergi walau air matanya seperti mengatakan sesuatu. "Aku pergi dulu kamu disini baik baik ya" Arsen berjongkok kemudian mencium perut Arini dengan gemas.
"Anak papa apa kabar disana? Jangan nakal nakal yah disana kasian mama kamu sering kesakitan. Oh iya papa juga mau pamit pergi sebentar kamu doakan papa ya dari dalam sana semoga ketika pulang nanti papa bisa mendengar banyak kabar baik dari kamu" Arsen tersenyum lalu mengecup nya sekali lagi. Mobil taksi yang sudah dipesan Arsen sudah tiba, Arini langsung saja memeluk Arsen sekali lagi. "Cepat pulang ya Mas, awas aja kalau Mas betah disana" Arsen mengusap kening Arini yang sedikit basah lalu merapikan rambutnya. "Mas akan cepat pulang"
"Max aku titip Arini dulu, jangan sampai dia terluka seujung kuku pun. Hindari semua benda tajam sekarang. Aku khawatir dia akan melakukan kenakalan lagi" jelas sekali kalau Arsen menyindir Arini perihal sebelumnya. Waktu itu Arsen melarang Arini untuk pergi ke dapur tapi Arini yang labil tetap ngeyel dan pergi ke dapur secara diam diam. "Tenang aja, soal Arini biar aku yang menjaganya disini. Lebih baik kamu fokus dengan pekerjaan kamu. Cepatlah pulang aku harap kamu bisa menjaga kepercayaan Arini disana." Arsen mengangguk lalu setelah berpamitan dia mengangkut barangnya ke dalam bagasi mobil taksinya. Arsen langsung naik dan duduk di dalamnya. Sebelum pergi dia masih sempatnya melambaikan tangan.
Setelah Arsen sudah menghilang dari pandangan, Arini langsung menyeret Max ke dalam. Entah apa yang ingin dia lakukan. Max hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan kakak iparnya itu. Sedangkan di sisi lain. lagi lagi Shila, Via dan Gabriel ribut dengan seseorang. Seseorang itu adalah Genita, orang yang dulu pernah menghina fisik Arini. Sekarang Genita malah makin gencar menyebarkan berita bohong kepada semua orang di kampus. Hal itu membuat ketiga sahabat tersebut sangat geram. Dengan ide dan kelicikan mereka, mereka menjebak Genita agar datang ke tempat sepi belakang sekolah. Mereka akan menunggu hal itu
Dalam hitungan ketiga Shila langsung melempar kedua mainan tersebut. Genita yang masih memegang ponselnya tidak menyadari kalau akan ada sesuatu yang akan menimpanya hari ini. Happ, lemparan Shila berhasil mengenai tubuh Genita. Genita langsung kaget. "Aaaaaaaaaaaaaaaa" Genita mencak mencak di tempatnya sambil berteriak.
Shila dan yang lainnya langsung keluar dari tempat persembunyian mereka dan menertawakannya. "Aduh si nenek lampir ternyata takut sama ular ularan dan kecoa" ucap Gabriel dengan nada meledek. Via juga ikut ikutan meledek. "Mulutnya setajam silet tapi mentalnya kayak tai kucing" Genita langsung menatap tajam mereka. Tidak terima dirinya diperlakukan seperti itu. "Kalian lagi kalian lagi, ada masalah apa sih kalian sama gue hah?" Via bersedekap dada sambil berputar mengelilingi Genita. "Gue gak ada masalah sama lo, gue hanya masalah sama mulut lo yang penuh dengan jigong itu. Mulut kayak tante tante aja sok sok an memfitnah Arini"
"Terus sekarang mau kalian apa?" Genita malah balik menantang. Membuat Shila tersenyum licik lagi. Dia mundur perlahan untuk mengambil sesuatu. "Mau nya kita adalah ngasih pelajaran buat lo yang gak sebegitu berharga daripada sandal swallow nenek gue" tambah Gabriel. "Kurang ajar kalian" Genita akan melayangkan tamparan tapi tiba tiba. "Byurrrrrrrrr" Shila langsung menyiramnya dengan seember air bekas yang sangat kotor. "Itu adalah balasan untuk lo hari ini, yuk kita cabut" Via melambaikan tangan di depan Genita sambil memberinya kiss jauh. Genita yang sudah basah kuyup hanya menatap mereka dengan penuh dendam. "Awas aja kalian"