Hot Daddy

Hot Daddy
Si kembar



Lain hal nya dengan Arini dan Arsen, Shila malah sibuk bermain dan mengobrol bersama kedua saudara kembar itu. Entah bagaimana caranya dia menjadi seakrab itu bersama mereka. Biasanya Shila sedikit sulit untuk menerima orang baru. Shila, Dani dan Doni mereka bertiga duduk di tepi pantai dengan Shila yang berada di tengah tengah. "Kalian sudah punya istri atau tunangan?" tanya Shila sambil menyeruput air kelapa miliknya. "Kita masih sendiri, masih belum menemukan orang yang tepat untuk kita" jawab Doni yang langsung diangguki oleh Dani.


"Kalau kamu?" tanya Dani. Shila menaruh kelapa yang air nya sudah kosong kemudian menatap ke arah Dani. "Masih belum tertarik dengan hubungan seperti itu" jawabnya. Dani langsung mengernyitkan keningnya seketika dan itu dilihat jelas oleh Shila. "Kenapa kak?" tanya Shila. "Kamu masih normal kan? Emm maksudku masih suka pria gitu" Dani sedikit kikuk mengatakannya karena dia takut Shila tersinggung dengan perkataannya. Tapi bukannya tersinggung Shila malah tertawa lebar. "Aku masih suka pria kok kak"


Doni yang sedari tadi diam kemudian ikut menyeletuk di obrolan mereka. "Aku boleh minta nomor ponsel kamu gak? Biar kita bisa lebih dekat gitu. Eh maksudnya biar hubungan komunikasi kita tidak terputus begitu saja" itu adalah alasan klasik seorang pria, pura puranya bilang itu tapi malah begitu. Doni sebenarnya sedikit tertarik dengan Shila, kepribadiannya yang polos yang membuatnya tertarik seperti ini. Tapi menurut pengamatannya Doni merasa saudara kembarnya juga tertarik pada Shila.


"Aku juga menginginkan hal yang sama" lanjut Dani. Dani dan Doni sama sama menyerahkan ponselnya pada Shila. Shila sedikit kebingungan dengan itu, tapi dia tetap mengambil kedua ponsel itu dan memberinya nomor ponsel nya secara bergantian. 'Ini udah kak" ucapnya sambil mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya. "Thank you" ucap Dani. Dani tersenyum tipis lalu mengantongi kembali ponselnya.


.


.


Gabriel baru saja akan menghampiri mereka tapi Via mencegahnya. "Vi..." tanpa banyak omong Via langsung melepas kedua sepatunya dan melemparnya pada Genita hingga mengenai kepalanya. "Gue gak punya waktu buat meladeni lo, jadi biar sepatu gue aja yang mewakilinya" Via langsung menarik tangan Gabriel tanpa harus mengambil sepatunya terlebih dahulu. Sedangkan Genita dia mengelus rambutnya yang kotor sambil mencak mencak tidak jelas. Harga dirinya sudah dipertaruhkan, lihat saja dia akan membalasnya suatu saat. "Dasar Via Vallen" Gerutunya.


"Pelan pelan Vi, lagian lo ngapain sih pake lempar lempar sepatu segala" Omel Gabriel yang kelelahan karena terus ditarik oleh Via. "Lah masih mending gue lempar daripada adu bacot kayak apa yang mau lo lakuin tadi. Ingat Gab, sebagai perempuan jangan cuma bisa mulut saja, tangan juga harus bekerja supaya kita tidak direndahkan terus" kata kata Via selalu mengenai telak, Gabriel sudah menyerah kalah, Dia dan Via memang sangat berbeda. Sepertinya Via lebih segalanya dari dia. Bahkan untuk hal ini saja Gabriel masih belum tahu. "Ayo masuk' ucap Via sambil membuka pintu mobilnya. Gabriel mengangguk lalu masuk ke dalam mobil Via.


Tiga puluh menit kemudian, mereka telah sampai di rumah Shila. Keadaannya sepertinya sangat sepi. Via dan Gabriel memutuskan untuk turun terlebih dahulu. Rumah yang berpagar keemasan itu hanya di huni oleh tiga orang, siapa lagi kalau bukan Shila dan kedua orang tuanya.


Tapi terkadang orang tua Shila sering tidak ada di rumah karena mereka pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. "Kok kayaknya sepi banget yah Vi" ucap Gabriel sambil celingak celinguk kesana kemari "Kita coba aja dulu siapa tahu  Shila ada di dalam" Via langsung membunyikan bel beberapa kali dan menunggu pintu terbuka Tapi beberapa menit lamanya pintu tetap tidak terbuka. "Kok gak ada yang buka pintu sih? Atau jangan jangan mereka gak kedengeran lagi. Viz mencobanya sekali lagi tapi tetap saja. "Udah lah Vi mungkin Shila sedang tidak di rumah" padahal dalam hati kecilnya mereka sangat mengkhawatirkan Shila. "Om sama tante juga kayaknya gak ada, kemana sih tuh anak" batin mereka.