
Arini dan Arsen sudah tiba di tempat dimana pernikahan itu dilaksanakan, kedatangan Arsen langsung disambut dengan heboh oleh Media. Banyak kamera yang mengarah kepadanya, tapi Arsen cuek saja. Ini sudah biasa terjadi padanya. Sedangkan Arini ia hanya bisa tersenyum saja, tidak tahu harus ngapain lagi karena ini adalah pertama kalinya Arsen mengajaknya ke acara pernikahan seperti ini, apalagi dengan statusnya yang sudah berubah. Tatapan Arsen menajam ketika melihat sekelompok pemuda yang terus menatap Arini hingga tak berkedip, bahkan sang empunya saja tidak tahu kalau dia sedang ditatap semua pemuda yang ada disini.
Arsen melingkarkan tangannya di pinggang Arini, membuat Arini langsung tersentak terkejut. Pasalnya Arsen melakukan ini di depan semua orang, bahkan ada beberapa kolega bisnisnya. Apa yang akan mereka pikirkan nanti jika Arsen melakukan ini padanya. "Daddy, lepasin. Nanti mereka mikir yang aneh aneh tentang kita" bisik Arini di samping telinga Arsen. Arsen hanya menatap Arini sekilas kemudian menjawabnya. "Lebih baik kamu Daddy Rangkul disini daripada Daddy mesumin kamu disini" ucapnya.
Arini hanya mendelik kesal, Arsen benar benar kepala batu sekali sangat mirip dengannya. "Oh Arsenku tersayang, akhirnya kamu datang juga nak ke pernikahan paman" sambut seseorang yang kini sedang berdiri di atas pelaminan. Arsen mengangguk lalu memeluk orang itu dengan singkat. "Selamat untuk paman" ucapnya. Orang yang ia panggil paman adalah Robert, sahabat lama dari Garda. Arsen sangat mengenal Robert karena dulu hanya Robert yang bisa mengerti semuanya tentang dirinya. Yah, Robert juga tahu kalau Arsen adalah Mafia.
"Kamu ini semenjak sukses sudah tidak pernah menemui paman lagi, mau jadi keponakan durhaka hah?" ucap Robert dengan setengah bercanda. Arsen terkekeh kecil membuat semua orang yang ada disitu terpelongo, sangat jarang bagi mereka untuk melihat Arsen yang tertawa seperti itu. Arsen terlihat semakin tampan saat tertawa. "Bukannya begitu paman, Arsen harus mengurus beberapa hal dulu makanya tidak bisa menemui paman." ucapnya kemudian.
"Ini putrimu ya Sen?" tanya Robert saat melihat Arini. Arsen menoleh ke arah Arini lalu mengedipkan sebelah matanya. "Iya, tapi itu dulu paman. Sebelum Arsen dibuat jatuh cinta olehnya" wajah Arini langsung memerah hanya karena Arsen mengatakan jatuh cinta padanya, padahal Arsen saja belum mengungkapkan perasaannya padanya. Paling hanya sekedar bilang sayang doang. "Halo...Kakek" sapa Arini dengan hormat pada Robert.
"Halo juga, wah sepertinya kamu sekarang makin cantik aja ya. Pantas saja Arsen sampai berubah pikiran dan menjadi menyukaimu" Goda Robert sambil melirik ke arah Arsen. Arsen hanya tersenyum membalasnya. "Ah kakek biasa aja, oh iya selamat ya kek atas pernikahannya" Robert mengangguk lalu mengenalkan wanita yang sekarang sudah berstatus menjadi istrinya. "Oh iya Arsen, Arini kenalin ini istriku namanya Fida, Arsen bisa memanggilnya dengan Tante, kalau Arini panggil saja nenek Fida ya"
Fida yang sedari tadi hanya diam mulai membuka obrolan bersama mereka. "Terima kasih ya kalian sudah datang ke pernikahan kami, jujur saja kehadiran kalian yang paling ditunggu dari sini. Sedari tadi suamiku terus bertanya kapan Arsen datang" ucapnya sambil tersenyum. Meskipun sudah mulai menua tapi Fida masih memiliki aura kecantikan di wajahnya, Arini pun bahkan sempat terpesona walaupun ia juga tak kalah cantik darinya.
"Apa kabar Arsen?" ucap Angel dengan nada lirih sambil menatap Arsen. Berharap Arsen bisa segera mengingatnya dan menatapnya. Angel Rindu dengan tatapan Arsen yang dulu, yang selalu lemah lembut padanya dan memperlakukannya dengan istimewa. "Sekali lagi selamat untuk pernikahan kalian paman, tante, Maaf Arsen tidak bisa disini lebih lama lagi. Arsen masih harus mengurus beberapa hal" ucap Arsen sambil menatap Robert dan Fida secara bergantian.
"Baiklah, tidak apa apa. Lain kali kalian bisa langsung ke rumah saja. Tante pasti akan menyambut kalian dengan baik" sedari tadi Fida merasa heran kenapa putrinya terus menatap Arsen, tak biasanya ia seperti itu. Apa mereka pernah saling mengenal? "Baiklah, kalau begitu kita pergi" Arsen dengan cepat membawa Arini keluar dari tenpat itu, tapi sayangnya dari belakang Angel terus mengikutinya sampai ke mobilnya. "Arseeen tunggu" Arsen menghentikan langkahnya, ia diam di tempanya dan mengeratkan tangannya di pinggang Arini.
Kini Angel dan Arsen sudah berhadapan langsung. "Ada apa lagi? Cepat katakan selagi aku masih bersikap baik padamu. Jangan sampai kejadian dulu itu terjadi lagi padamu. Aku tidak segan segan melakukannya lagi, jangan samakan aku dengan yang lain" hati Angel benar benar sakit saat Arsen mengatakan hal itu, sebenarnya ia ingin meminta maaf tapi sayang sepertinya kali ini suasananya sangat tidak mendukung apalagi dengan kehadiran Arini.
"Maafkan aku, dulu aku tiba tiba meninggalkanmu begitu saja. Dulu aku...."
"Stop membuat drama lagi Ngel, Aku udah gak mau dengar apapun lagi. Liat kamu masih bernafas aja aku juga ogah. Mulai sekarang pergilah sejauh mungkin dan jangan ganggu aku lagi. Oh dan satu lagi, jangan pernah menyayangiku lagi karena sekarang aku sudah mendapatkan rasa cinta yang lebih luar biasa dari seseorang"
Setelah mengatakan itu Arsen melanjutkan langkahnya kembali dan mengabaikan Angel yang menatapi kepergian mereka dengan air mata yang mengalir. "Maafin aku Arsen" batinnya.