Hot Daddy

Hot Daddy
Usaha pertama Arsen



Arini dan ketiga sahabatnya saat ini sedang menongkrong di kantin. Mata kuliah jam pertama telah usai jadi mereka memutuskan untuk istirahat dulu sebelum nanti kembali ke kelas untuk Mapel sastra indonesia. Wajah Arini yang terlihat murung membuat kedua temannya Gabriel dan Shila bertanya tanya. Sedangkan Via, dia sudah mengetahui semuanya. Karena di dalam mobil tadi Arini menceritakan semuanya pada Via.


"Rin, Lo kenapa sih? Tumben banget. Kalau ada masalah cerita dong sama kita. Kita kan sahabat, Gue, Gabriel dan Via akan selalu ada buat lo." ucap Shila. Sedari masih di dalam kelas Shila sudah memperhatikan Arini yang terlihat lesu.


Gabriel mengangguk lalu ia menatap wajah Arini. "Kita udah kenal berapa lama sih Rin, Gue tahu kalau lo ada masalah. Tapi sayangnya lo gak bisa mempercayai kita sebagai sahabat yang baik buat lo" Arini memalingkan wajahnya, ia masih belum siap untuk cerita sama mereka. Bukannya ia tidak percaya, tapi Arini takut mereka berpikir yang tidak tidak tentang Arsen.


Berbeda dengan Via yang sudah mengetahui banyak hal tentang Daddy nya. "Gue gak apa apa kok, gue cuma kecapean aja. Semalam gue gak bisa tidur karena mimpi buruk" Alibinya. Via menatap Arini, Arini mengedipkan sebelah matanya agar Via tidak memberi tahu mereka juga. Setidaknya untuk saat ini.


Tak lama kemudian sesosok pria bertubuh jangkung berjalan menghampiri Arini, siapa lagi kalau bukan Rendi, Orang yang menyukai Arini. Beberapa hari ini Rendi tidak pernah melihat Arini karena ia sibuk dengan lomba basketnya. Melihat kedatangan Rendi, Shila memberi kode pada Via dan Gabriel agar meninggalkan mereka berdua.


"Rin, kita bertiga mau ke kelas duluan ya. Kayaknya ada yang mau ngomong sama lo tuh" ucap Via. Arini mengangkat sebelah alisnya lalu menoleh ke arah belakang dan mendapati Rendi yang sedang tersenyum ke arahnya dengan membawa sebuket bunga mawar yang langsung diletakkannya di depan meja Arini.


"Dah Rin" tanpa basa basi lagi, mereka langsung meninggalkan Arini bersama Rendi. "Hai Rin, sudah lama aku tidak ketemu sama kamu. Gimana kabarmu? Apa kamu masih dekat dengan Langit?" tanya Rendi bertubi tubi. Arini memberinya senyuman tipis, wajahnya sudah menunjukkan bahwa dia baik baik saja. Arini tidak ingin Rendi bertanya hal yang sama dengan kedua sahabatnya itu.


"Aku baik, dan aku juga sudah lama tidak kontakan dengan langit." yah, Memang semenjak Arsen memergoki Dirinya sedang makan dengan Langit, Arini sudah mulai sedikit menjauh. Bahkan Arini juga mengabaikan pesan dari Langit.


Rendi menarik kursi di sebelah Arini lalu menatap wajah Arini dari samping. "Satu minggu tidak ketemu sama kamu dan sekarang kamu sudah bertambah cantik. Jadi makin suka sama kamu" Arini merasa tidak nyaman saat Rendi terus melirik padanya. Apalagi Rendi menatapnya seakan ingin menelanjanginya. Hari ini Arini memakai Kaos Army lengan pendek yang cukup ketat untuk tubuhnya dengan bawahan rok yang hanya sebatas lutut. Kalau dulu ia terbiasa dengan pandangan itu, sekarang tidak lagi.


"Maaf Ren, kayaknya aku harus ke kelas. Bentar lagi Bu Indah Akan masuk kelas, duluan Ren" Arini segera menyampirkan tasnya di bahunya kemudian pergi begitu saja. Rendi hanya bisa menatap punggung Arini yang sudah menjauh. "Kalau enggak bisa dapat dengan cara halus, terpaksa harus menggunakan cara lain Rin"  Gumam nya.


Rendi beranjak dari kursinya dan pergi ke kelasnya sendiri.


Sedangkan di tempat lain, Arsen menjadikan semua berkas yang menjadi bukti itu menjadi satu. Bahkan tidak hanya itu, ia juga menyiapkan Flasdisk yang berisi rekaman Charles dan Wira yang merencanakan rencana jahat untuk mereka. Arsen berharap setelah ini Arini bisa memaafkannya.


Arini(Love)


[Pict perut Arsen]


Yakin kamu masih tidak mau memaafkan Daddy?


Arsen tersenyum sekilas lalu meletakkan kembali ponselnya.


Arini sangat menyukai perut Six pack nya, kadang kadang is menawarkan dirinya untuk memijit Arsen. Kalau sudah begitu Arsen sudah tahu kalau sebenarnya Arini hanya ingin melihat perut Six pack nya. Meskipun sambil memijit tapi Pijitannya terasa seperti elusan di perutnya.


Semoga saja foto perutnya bisa sedikit menghibur Arini. Arsen kembali berkutat dengan berkas berkas itu. Ia menunda semua pekerjaannya hanya untuk mengurus bukti bukti itu. Demi meluruskan semua pemikiran Arini terhadapnya.


Sedangkan di tempat lain, Ponsel Arini bergetar disaat Dosennya menerangkan materi. Arini mengernyitkan dahinya kemudian ia menatap Dosennya lalu mengambil ponselnya dan membuka diam diam. [Pict terbuka] Arini membulatkan matanya melihat perut Six pack yang terpampang di layar ponselnya.


Jujur saja ia sangat merindukan Arsen saat ini. Rindu saat memeluk dan bermesraan dengan Arsen. Tadi pagi saja ia menahan dirinya untuk tidak memeluk Arsen, padahal Arini ingin membantunya memperbaiki dasinya yang agak sedikit berantakan. Arini menyimpan foto itu di dalam galerinya dan kembali fokus mendengarkan materi.


Selesai dari kuliah, Shila dan Gabriel sudah memisahkan diri dari Via dan Arini. Mereka ada keperluan mendadak yang mengharuskan pulang secepat mungkin. Sedangkan Via dan Arini pulang dengan dijemput oleh Max. Tadi Max menelfon Via untuk menunggunya karena sebentar lagi ia akan menjemputnya. "Kita nunggu di depan sana Rin, Gue mau cerita semuanya bagaimana bisa gue jadian sama om lo"


"Ya udah, ayo"