Hot Daddy

Hot Daddy
Pulang



Max mati kutu di hadapan Arini, bukannya memakan sushinya, Arini malah mengintrogasi Max dengan berbagai macam pertanyaan. Bahkan Max pun sampai bosan mendengarnya karena Arini terus menanyakan hal yang sama. Beberapa kali Max mencoba untuk menghentikan ocehan Arini tapi bukannya berhenti Arini malah semakin menjadi. Max hanya bisa menghela nafasnya dengan pasrah. "Berhenti bicara, cepat makan Sushinya. Bukannya kamu mau uncle suapi?" ucap Max pada akhirnya. Telinganya sudah panas, dia tidak mau lagi mendengarkan ocehan Unfaedah dari arini itu. Arini menggelengkan kepalanya untuk beberapa saat. "Aku tiba tiba kenyang uncle lebih baik dimakan Uncle saja. Jangan dibuang loh ya, sayang itu makanan susah terlanjur di beli"


Arini mencari alas kakinya di bawah sofa kemudian memakainya, dia beranjak dari sofa yang ia duduki. Tapi sebelum pergi Arini melihat ke arah Max. "Habisin, demi dedek bayinya." ucapnya kemudian. Dan setelah itu barulah Arini meluyur pergi dari hadapan Max. Max sudah tidak punya pekerjaan apa apa selain menghabiskan Sushi lezat ini, meskipun  dia sudah kenyang Max akan tetap memakannya jika itu permintaan dari Arini. Karena Max sangat peduli dengan calon keponakannya itu agar dia tidak ileran dan tidak menjadi menyeramkan sama seperti ayahnya, Arsen


Sedangkan di dalam kamar, Arsen bukannya tidur malah sibuk dengan berkas berkas. Perusahaannya di Indonesia sedang dalam masalah dan Arsen masih belum tahu apa penyebabnya, dia sudah menyiapkan tiket untuk mereka pulang nanti. sebenarnya dia bisa saja pulang dengan pesawat pribadinya lagi tapi Arsen takut tidak bisa konsentrasi dan menyebabkan pesawat mereka oleng atau jatuh.Dan juga Arsen tidak bisa meninggalkan perusahaannya lebih lama lagi. "Krieettttt" Arini membuka pintu kamar dengan perlahan, dan matanya bertemu dengan bola mata milik Arsen. Arini menutup pintu kamarnya kembali kemudian naik ke atas kasur. Dia tidak berbicara sepatah kata, Arini tahu Arsen masih kesal dengannya perihal dia yang minta disuapin Max tadi.


Arini baru saja akan tidur dan memejamkan matanya, tapi tangan Arsen mencegahnya. Arini mengangkat sebelah alisnya lalu melihat Arsen yang sudah melepaskan bajunya. Arsen tidur di sebelah Arini kemudian memindahkan kepala Arini di lengannya. "Tidur disini saja" ucap Arsen dengan pelan. Arini hanya mengangguk saja, dia menggeser tubuhnya pada Arsen dan tidur dengan sambil dipeluk. "Daddy masih marah?" tanya Arini sambil mengangkat kepalanya. "Pertama, kamu tidak boleh memanggilku dengan sebutan Daddy lagi, karena sekarang aku adalah suamimu bukan Daddy mu lagi. Dan yang kedua, aku juga tidak pernah marah, aku hanya kesal saja kenapa anak hasil benihku memilih disuapi Max." ucap Arsen dengan vulgarnya.


Arini tertawa geli, bagaimana Arsen yang berwibawa ini sekarang menjadi sangat kekanakan sekali. Arsen menyentil bibir mungil Arini dengan tangannya. "Jangan menertawai aku sayang, apa aku perlu memberikan hukuman untuk bibir manis ini?" Arsen mengusap ibu jarinya pada bibir mungil itu. "Tidak perlu, aku yang akan melakukannya sendiri" Arini langsung menarik tengkuk Arsen dan mulai berciuman. Dan mereka juga berciuman setidaknya untuk beberapa menit karena Arsen memilih berhenti. Dia takut adik kecilnya terbangun dan tidak menemukan sarangnya. Arini sedang hamil dia tidak boleh melakukan hal itu sesering mungkin. Arsen takut menyakiti Arini jika pun dia mau melakukannya.


.


.


"Aku tidak ingin bantuan siapapun, karena aku ingin  perusahaanku bisa berdiri tanpa bantuan orang lain. Cukup aku saja sebagai pemilik perusahaan' lanjut Arsen. Garda sangat membanggakan Arsen di dalam hatinya, apapun itu Garda sangat menyesal karena dulu mengabaikan hidup Arsen.


"Ya sudah kalau begitu, sekarang kita lanjutkan makannya dulu. Setelah ini mama ingin mengobrol dengan kalian bertiga" ucap Mila. Semuanya mengangguk  dan makan dengan keheningan. Tak berapa lama kemudian, setelah selesai makan Mila menyuruh pembantunya untuk membereskan semuanya, dia sudah tidak sabar untuk berbicara satu hal dengan pengantin baru itu. "Ayo kumpul di taman belakang sekarang juga, mama juga mau ngambil sesuatu dulu" ucap Mila. "Mau ngambil apa Ma?" tanya Arini dengan penasaran.


Mila tersenyum lalu mengisyaratkan Garda untuk mengajak mereka pergi terlebih dahulu. Garda mengangguk lalu dia membawa Max dan Arsen untik pergi lebih dulu, sementara Arini ia sengaja meninggalkannya bersama istrinya. "Sayang, Sebelum kamu pulang Mama ingin memberikan sesuatu, dan sesuatu ini sangat berharga bagi hidup Mama dan kamu. Ayo ikuti Mama' Arini yang juga penasaran pun langsung mengikuti Mila dari belakang. Mereka berjalan sampai tiba di ruangan yang paling besar. "Tempat apa ini Ma?" tanya Arini.


"Ayo masuk"