
Setelah semua masakan sudah siap, Via dan Shila dengan dibantu Bi Mina membawa semua makanan itu ke meja dan menatanya dengan baik. "Sendok udah, garpu udah, piring juga udah. Shil bantuin gue ambil gelas dong di bagian rak gelas itu ya. Lo tahu kan?" tanya Via pada Shila. "Iya gue tahu kok, ya udah gue ambil dulu gelasnya. Mending lo sekarang panggil suami lo dan Om Arsen juga" Via mengangguk lalu dia melewati ruang tengah untuk naik ke atas. "Udah selesai Vi?" tanya Arini yang kebetulan baru selesai berbicang bincang dengan Dani. "Udah kok, gue ke atas dulu ya. Mau manggil suami gue sekaligus kakak ipar juga" jawab Via. Arini mengangguk seraya tersenyum kemudian dia membiarkan Via pergi ke atas.
Pertama Via mengetuk pintu kamar Arini dan Arsen. Dan tanpa harus menunggu lebih lama pintu itu terbuka. Arsen masih menggunakan handuk dan belum berpakaian. Itu artinya dia baru saja selesai mandi. "Maaf kak, makanannya sudah siap. Kalau kakak sudah selesai, kakak langsung turun ke bawah saja" ucap Via. "Baiklah, terima kasih ya. Bilang pada Arini kalau dia harua menunggu aku" jawab Arsen. "Iya kak, kalau gitu aku pergi ke kamar dulu. Mau manggil Mas Max juga" Arsen mengangguk. Setelah itu Via kembali berjalan menuju kamarnya sendiri. Via langsung membuka pintu tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu. "Astaga Mas" ucapnya ketika melihat semua kamarnya berantakan. Bantal bantal tergeletak di bawah semua. Bahkan selimut yang tadi sudah dibereskan Via sekarang juga berantakan. Sementara sang pelaku hanya menyengir tidak jelas.
"Ini kenapa semuanya berantakan Astaga Mas, kan cuma disuruh mandi aja kenapa harus sampe berantakan coba." Via mulai mengambil bantal bantal yang ada di bawah kemudian meletakkannya di atas kasur lagi. "Tadi ada kecoa di kamar kita, kamu tahu kan aku paling takut sama kecoa. Jadi ya gini deh hasilnya. Jangan marah dong sayang kan yang salah kecoa bukan aku. Suruh siapa dua datang dan menakut nakuti aku" jawab Max. Via hanya menggelengkan kepalanya kemudian dia membereskan kembali semua kekacauan itu. "Turun ke bawah gih, semua makanan sudah siap. Aku masih mau beresin ini semua dulu" Vua langsung menatap wajah Max. "Biar aku bantu" Via melotot pada Max. "Gak usah nanti makin BERANTAKAN" ucap Via dengan menekan kata berantakan.
Kalau Via sudah begini lebih baik dia cepat cepat keluar daripada Semakin marah. Karena marahnya Via sangat menyeramkan bagi Max. Karena dia tidak mau tidur dipeluk oleh Max dan Via juga memberikan batas untuk tenpat tidur mereka. Sungguh itu sangat menyiksa Max. Mood Via memang gampang berubah makanya itu sebisa mungkin Max menjaga mood via agar tetap stabil. Karena jika mood Via baik maka dia pasti ikutan baik juga. Setelah Max keluar dari kamar, Via langsung memijit pelipisnya. "Dasar suami, bukannya ngebantuin istrinya beresin ini malah langsung keluar" Max masih mendengar gerutuan Via dari luar. "Dasar istri, mau dibantu gak mau giliran gak dibantu ngomel, untung sayang"
.
.
"Terus gimana tuh Bi? Berhasil gak naik ke atas pohon kelapanya" Bi Mina tertawa lalu dia mengangguk. "Suami Bibi minta diajarin manjat sama tetangga sebelah. Butuh waktu dua minggu lebih untuk dia bisa manjat. Soalnya suami bibi suka menyerah. Sampe pada akhirnya pas Bisa manjat suami bibi malah ketiduran di pohon"
"Seriusan bi?" tanya Max sambil menahan tawa. Bisa bisanya ada orang yang bisa tidur di atas pohon. "Ya iya atuh Den, apalagi Suami Bibi itu tipe orang yang mudah tidur dimana saja. Yaudah bibi cariin kemana mana tapi gak ketemu eh taunya malah ketiduran di atas pohon. Itu pun ketahuan karena lihat sarungnya yang jatuh ke bawah" seketika semuanya tertawa terbahak bahak berbeda dengan Arsen yang hanya menggelengkan kepalanya. Dia hanya menyunggingkan senyum kecilnya saja. Tidak mungkin seorang Arsen bisa tertawa lepas seperti itu.