Hot Daddy

Hot Daddy
Mendatangi Via



"Mas, aku mau pergi ke tempat Via dulu. Boleh kan?" tanya Arini. Arsen langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Arini. "Mau ngapain? Kamu hamil hamil gini masih mau keluyuran. Ingat, kandungan kamu sudah lima bulan. Jaga dengan baik bukannya malah diajak keluyuran seperti ini" ucap Arsen. "Aku tahu, tapi Via sahabat aku mas. Kalau sampai terjadi sesuatu sama dia aku tidak akan tenang. Apalagi karena masalah ini" Arsen berdiri kemudian menarik Arini dan membuatnya terduduk di pangkuannya. "Kamu sudah tahu?" tanya Arsen. Arini mengangguk tanpa semangat, dia tidak menyangka saja kalau hubungan Via dan Max yang sangat mulus itu diuji dengan cara seperti ini. Arini pikir hanya kehidupannya lah yang punya banyak masalah. Ternyata tidak.


"Tolong izinin aku pergi Mas, Via selalu ada buat aku masa aku enggak. Lagian aku tidak pergi sendiri kok, Shila dan Gabriel nanti mau jemput aku jadi semuanya aman terkendali" Arsen sebenarnya tidak ingin Arini pergi tapi jika dilarang dia sama saja tidak peduli dengan calon adik iparnya itu. Setelah dipikir pikir apa yang Arini katakan memang benar. Via selalu ada buat Arini jadi mungkin Arsen akan memberinya izin. "Baiklah, aku mengizinkanmu  tapi kamu tetap hati hati. Jangan ceroboh dan jangan lari larian. Kalau ada apa apa kamu bisa langsung hubungi aku. Mengerti kan?" Arini tersenyum lalu mengangguk, kemudian dia langsung memeluk Arsen dengan erat. "Terima kasih Mas"


"Tapi sebelum itu aku mau minta ini" Arsen melepaskan pelukannya kemudian tangannya menyentuh bibir ranum Arini. Arini mengerti kode dari Arsen. belum sempat dia melakukan sesuatu Arsen langsung menyergap bibirnya. Arsen melakukan ciuman dengan sangat lihai, lidahnya terus menari nari di dalam sana. Ditambah lagi bibir atas dan bibir bawahnya yang melahap kedua bibir Arini. Arsen menahan tengkuk Arini dan semakin memperdalam ciumannya, bibir Arini adalah candu baginya. Arini yang merasa kehabisan oksigen langsung memukul dada Arsen dengan pelan agar dia melepaskan ciumannya. Arsen menurut, dia melepaskan hanya sebentar kemudian menyergapnya lagi. "Dasar Mas Arsen, bisa bisanya dia mengambil kesempatan dalam kesempitan" batinnya.


.


.


Max terus memandangi sebuah rumah dari kejauhan, itu adalah rumah Via. Dia tidak ingin muncul di hadapan Via jika masih belum memiliki bukti. Yang ingin dia lakukan sekarang adalah hanya ingin memastikan kekasihnya itu baik baik saja. Perasaannya tidak akan tenang sebelum dia melihat Via dengan mata kepalanya sendiri. Pintu rumah Via terbuka, disana Via terlihat sedang membuang kantong sampah di tempat sampah yang sudah tersedia di depan rumahnya. Max menegakkan tubuhnya dan tepat pada saat itu mata mereka saling bertemu. Max menatap Via dengan penuh kerinduan sementara Via dia langsung mengalihkan tatapannya dan masuk kembali ke dalam rumah. "Maafin aku Mas,  sebenarnya aku tidak ingin percaya tapi foto itu yang membuatku ragu denganmu" Via menyandar di balik pintu kemudian mengintip Max dari lubang pintu rumahnya. Ternyata Max sudah pergi.


.


Arini, Gabriel dan Shila sudah tiba di rumah Via. Mereka langsung turun dari mobil kemudian berjalan menuju ke arah pintu rumah Via. "Gab, lo yakin Via ada di rumah?" tanya Arini. "Yakin gak yakin sih, tapi kita coba aja dulu." jawab Gabriel. Gabriel menekan bel berkali kali dan menunggunya untuk beberapa saat. "Iya siapa?" tanya Via dari dalam sana. Ketiga sahabat itu langsung tersenyum ketika mendengar suara Via. Itu berarti Via ada di rumah dan tidak terjadi apa apa padanya. Pintu terbuka dengan lebar. Ketiganya langsung berteriak histeris ketika melihat wajah Via yang sudah seperti mayat hidup. Rambut yang berantakan, mata yang merah, dan kantong mata yang membuatnya terlihat seperti panda. "Apaan sih kok pada teriak, ini gue Via bukan setan" ucap Via dengan sebal.


"Lagian lo kenapa sih Vi, muka lo udah kayak ondel ondel aja." ucap Shila. Arini menginjak kaki Shila dengan keras dan memberinya kode untuk diam. "Sakit Rin" bisik Shila. "Lo kenapa sih Vi? Kenapa lo tiba tiba bolos kuliah hari ini? Terus tuh mata kenapa bengkak gitu? Lo habis nangis" Gabriel memberi Via pertanyaan yang bertubi tubi. Via yang ditanya hanya diam, dia langaung menundukkan kepalanya kemudian tanpa sengaja matanya bertubrukkan dengan bola mata Arini. "lo tahu?" tanya Via. Arini mengangguk. "Ya, gue sudah tahu"


"Apa yang kita tidak tahu?" tanya Shila dan Gabriel secara bersamaan. "Kita masuk dulu, gue akan cerita di dalam" jawab Via lagi. Akhirnya mereka semua masuk ke dalam rumah Via sambil menunggu penjelasan darinya.