
Malam harinya ketika semua orang tertidur, Arsen dan keluarga kecilnya masih belum tertidur. Mereka duduk di taman belakang rumah yang sebelumnya Arsen sudah menyiapkannya. Tampilan tamannya sangat indah dan menawan karena Arsen memberinya lampu kerlap kerlip yang sangat indah. Ditambah lagi tamannya penuh dengan bunga bunga sehingga membuat pemandangannya semakin indah. "Kamu suka?" tanya Arsen pada Arini yang saat ini sedang menyandar nyaman di dada bidangnya. Arini mengangguk sambil tersenyum, dia memang sangat merindukan momen momen seperti ini bersama Arsen. "Mas" Arini mendongakkan kepalanya dan melihat wajah Arsen dari dekat. Arsen langsung menundukkan kepalanya dan membalas tatapan Arini. "Kenapa hmm?" tanya nya. Arini ingin mengatakan sesuatu tapi dia ragu ragu karena takut Arsen akan marah padanya. "Gak jadi Mas" ucap Arini.
Arsen langsung melepaskan pelukannya pada Arini kemudian dia memegang bahu Arini sehingga kini mereka saling berhadapan. "Katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan" Arsen melihat dengan jelas sirat keraguan yang ada dalam mata Arini tadi. Makanya dia meminta Arini untuk mengatakannya secara langsung. Karena kalau Arini tidak mengatakannya Arsen tidak akan mungkin tahu. "Aku ingin mencari tahu siapa orang tua kandungku" ucap Arini dengan sedikit takut. Arini melihat reaksi Arsen yang hanya diam saja. Tidak ada respon, kemarahan, ataupun jawaban. Arsen hanya diam saja. Tapi hanya sebentar. "Untuk apa kamu mencari tahu siapa orang yang sudah membuang kamu? Mereka bukan orang tua mu lagi. Seandainya mereka masih orang tua mu mereka pasti akan menyesal karena sudah membuangmu. Tapi lihatlah sampai sekarang, tidak ada tanda tanda dari mereka untuk mencarimu."
"Aku hanya ingin melihat mereka Mas, aku ingin tahu apa mereka masih ada. Setidaknya aku ingin membalas jasa mereka yang telah membesarkan aku meskipun tidak lama. Sekarang kamu adalah suamiku bukan Daddy ku lagi. Aku ingin tahu siapa ayah dan ibu kandungku. Tolong bantu aku untuk menemukan mereka" tangan Arsen mengepal dengan kuat di balik punggungnya. Dia sekuat tenaga menahan amarah karena perkataan Arini. Seandainya Arini tahu kalau orang yang ingin ditemuinya adalah satu profesi dengannya dulu apa yang akan Arini pikirkan saat itu. Yah, Arsen sebenarnya tahu siapa orang tua kandung Arini dan dia juga sangat mengenalnya. Tapi untuk beberapa alasan Arsen tidak ingin memberi tahukan Arini siapa orang tua kandungnya. Dia ingin semua ini masih tetap menjadi rahasia. "Aku tidak mengijinkan kamu untuk menemui mereka dan aku juga tidak ingin dibantah Arini. Kalau kamu masih mau anak anak Aman menurutlah denganku"
Arsen langsung pergi sambil membawa Aiden dan Rei dengan kereta dorong bayinya. Sementara Alea ia sengaja meninggalkannya bersama Arini. Arsen berharap Arini dapat berubah pikiran. Tiba tiba Alea menangis begitu saja, Arini langsung mengambil Alea dari kereta dorongnya kemudian menggendongnya. "Cup cup sayang jangan nangis ya" Arini membawa Alea ke dalam karena cuaca di luar semakin dingin dan itu tidak bagus untuk kesehatan bayi. Alea masih menangis meskipun Arini sudah membawanya ke dalam. Alhasil Arini mengeluarkan Asi nya untuk Alea kemudian memberinya Asi. Alea langsung meminumnya dengan cepat, matanya sambil merem melek. "Anak mommy ngantuk ya, ya udah sekarang minum susu habis itu bobo ya" Arini mencium kening Alea kemudian dia duduk di sofa sambil terus menyusui Alea.
Aiden dan Rei sudah tertidur dalam box bayi nya. Arsen sudah menidurkan mereka. Saat dia akan turun ke bawah Arsen melihat Arini yang sedang menyusui Alea di bawah sana. Arsen memperhatikannya dari atas. Sejujurnya dia tidak ingin marah pada Arini seperti tadi. Tapi karena Arini membicarakan hal yang sensitif dengannya makanya emosinya juga ikut terpancing. "Maaf kalau Mas keras sama kamu untuk hal ini, tapi ini semua demi kebaikan kamu sama anak anak kita" Gumam Arsen. Lalu dia kembali ke kamarnya dan membiarkan Arini untuk sendiri bersama Alea dulu. Semoga saja ini hanya pikiran sementara Arini.
Arsen benar benar tidak ingin Arini bertemu dengan kedua orang tuanya. Karena dia punya alasan sendiri. Seandainya saja kedua orang tua kandung Arini tidak seperti itu mungkin Arsen bisa mempertimbangkannya kembali.
.
.
Mendengar hal itu si wanita langsung melempar pisaunya ke sembarang arah kemudian menatap wajah suaminya. "Ada apa dengannya? Bukannya dia sudah mati sekarang?"
"Dia tidak mati dan dia masih hidup" jawab Pria itu dengan seringaian di wajahnya.