
Dua minggu setelah kematian Charles, Wira mulai melakukan penyelidikan dengan mengeluarkan orang orang kepercayaannya. Wina mencurigai Arsen, tapi ia merasa kalau Arsen tidak mungkin berbuat hal seperti itu pada saudaranya sendiri. Seperti kali ini, salah satu anak buahnya memberikan kabar terbaru untuknya.
"Tuan Charles tidak pernah memiliki masalah apapun dalam tubuhnya, semuanya normal normal saja. Dan saya rasa tuan Charles tidak mungkin Depresi dan Bosan hidup seperti itu. Memangnya apa yang membuatnya merasa seperti itu? Saya pikir tidak ada tuan. Jadi kemungkinan ini adalah motif pembunuhan. Dan Tuan bisa menebaknya sendiri siapa pelakunya"
Wira terdiam untuk beberapa saat, berarti selama ini pembunuh putranya adalah keponakannya sendiri. Tapi kenapa Arsen bisa membunuhnya begitu saja? Bukan kah harus ada alasan di balik semua itu. "Ambil rekaman CCTV di ruangan Arsen, saya akan membayarmu tiga kali lipat jika kamu berhasil mendapatkannya"
Wira tahu jika di ruangan Arsen terdapat satu buah CCTV, dan ia pikir mungkin kejadian ini bisa dilihatnya dengan jelas melalui CCTV itu. Pria paruh baya itu mengangguk. "Baik tuan, saya akan mengambil rekamannya malam ini juga. Kalau begitu saya permisi"
Sekarang hanyalah Wira sendirian, Ia mengambil foto Arsen dan Charles yang berada di meja kerjanya. Dulu mereka berdua sangat akur ketika kecil, bahkan Wira juga sangat menyayangi Arsen, dia menganggap Arsen seperti anaknya sendiri.
Tapi semenjak Papanya yang juga kakek dari Arsen dan Charles Mewariskan perusahaannya pada Arsen, Wira jadi sangat membencinya. Ia mempengaruhi Charles agar juga turut membenci Arsen. Semenjak itulah mereka menanamkan kebencian yang besar pada Arsen.
"Papa akan membalaskan kematianmu" Wira sudah gelap mata, kalau benar Arsen yang membunuh putranya, maka ia harus membalasnya dengan cara yang sama. Wira tidak akan membiarkan Arsen hidup tenang sementara putranya sudah tidak ada di dunia
.
.
"Pak, satu jam lagi bapak ada pertemuan dengan PT Sentosa untuk membahas kerja sama yang akan dilakukan dalam beberapa bulan ke depan" ucap Rocky. Arsen membuka lembar demi lembar berkas yang ada di hadapannya lalu membuangnya ke tempat sampah. "Batalkan saja, mereka pasti tidak akan mau memberikan uang sepeser pun untuk kerja sama ini"
"Tapi pak, pak David selaku Ceo dari PT Sentosa sudah dalam perjalanan menuju ke restoran yang bapak janjikan waktu itu. Pak David langsung terbang dari inggris ke indonesia hanya untuk bertemu dengan bapak. Apa bapak yakin akan membatalkannya begitu saja?"
Arsen menatap Rocky dengan tajam, sepertinya Sekretarisnya ini memang tidak kenal takut dengannya. Selalu saja protes dengan apa yang dilakukan Arsen. Seperti sekarang ini. "Kalau saya bilang batalkan ya berarti kamu harus membatalkannya, jangan banyak protes. Mulai sekarang protesanmu akan saya anggap sebagai permintaan potong gaji."
Rocky langsung kicep, kalau sudah mendengar kata potong gaji. Arsen tidak pernah bermain main dengan perkataannya. Bertahun tahun ia bekerja dengan Arsen membuat Rocky tahu banyak tentang Arsen. "Sekarang kamu keluar dan segera urus pembatalan kerja samanya.'
Ponsel Arsen bergetar, Arsen mengecek ponselnya dan tersenyum ketika melihat pesan dari Arini. "Daddy, Sebentar lagi Arini sampe ke kantor Daddy. Arini bawain makanan buat Daddy. Jangan kemana mana" tulis Arini. Arsen tak perlu membalasnya, lagi pula Arini pasti akan menemuinya juga.
Setengah jam kemudian, Suara ketukan pintu yang disusul dengan masuknya seseorang membuat Arsen mendongakkan kepalanya, Arsen melebarkan senyumnya ketika melihat siapa yang datang. Arini menaruh tas nya dan meletakkan rantang makanan yang ia bawa di meja depan sofa itu.
"Ini Dad, Arini bawa makanan kesukaan Daddy. Arini tahu Daddy pasti belum makan siang" ucap Arini.
Arsen berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan menghampiri Arini. Arsen duduk di sebelah Arini yang sedang menyiapkan makanan untuknya. "Arini gak masak banyak, ini aja cuma masak seadanya karena terburu buru." Arsen mengangguk, ia mengambil makanan yang sudah disiapkan Arini.
"Daddy tidak masalah, apapun makanan yang kamu masak pasti selalu enak" ucapnya sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya dan menguyahnya dengan cepat. Arini tersenyum lalu mengelilingi ruangan Arsen, Arini memperhatikan sesuatu yang sangat menarik perhatiannya. Diam diam Arini mengambilnya dan menyembunyikannya dari Arsen.
"Berkas apa ini?" batin Arini. Berkas itu ia temukan di bawah meja Arsen, Arini yakin di dalamnya terdapat sebuah misteri, karena Arsen memang penuh dengan misteri. Dan sekarang Arini akan mengetahui misteri apa yang disembunyikan Arsen kali ini.
Arini kembali duduk di samping Arsen dan memasukkan berkas itu ke dalam tas nya dengan cepat. Untung saja Arsen tidak melihatnya karena sibuk memakan makanannya. Arini tersenyum ketika melihat Arsen yang dengan lahap memakan makanan yang ia masak.
Beberapa menit kemudian, Arsen telah menghabiskan makanannya. Ia mengambil botor air dan meminumnya dengan tiga kali tegukan. Arsen mengambil tisu dan membersihkan mulutnya. "Kamu benar benar mirip sama Bunda kamu, kalian sama sama cantik dan pintar masak lagi"
Arini tertawa geli, ia memang paling senang jika dirinya disebut mirip dengan Bunda nya. Karena dirinya pun juga merasa seperti itu. "Kan Arini putrinya, ya pasti mirip lah Daddy"
Arsen mengangguk lalu ia menarik Arini dan mendudukkannya di pangkuannya. Arsen memeluk Arini dari belakang. "Tapi sekarang kamu bukan putri Daddy lagi, sekarang kamu adalah Calon istri Daddy. Baru sekarang Daddy bersyukur Bunda menyuruh Daddy untuk menikahimu"
"Arini juga bersyukur, Lain hari kita pergi ke pemakaman Bunda ya Dad, Arini kangen sama Bunda"
Arsen mengangguk, lagi pula ia sudah lama tidak mengunjungi makam mendiang istrinya. Arsen juga akan berterima kasih pada istrinya tentang semua ini