
Sesuai dengan apa yang dikatakan Angga, malam ini Angga benar benar datang ke rumah Gabriel untuk menjemputnya dan mengajaknya ke pesta ulang tahun temannya. Angga menggunakan Jas dan setelan kemeja yang luar biasa. Penampilannya berbeda dengan saat dia menjadi dosen. Sudah satu jam lamanya Angga menunggu Gabriel, dia hanya menunggu sendirian di ruang tamu. Sedangkan orang tua Gabriel mereka masih berada di luar negeri. Gabriel hanya tinggal sendirian tanpa seorang pembantu. Setelah sekian lama akhirnya Gabriel turun juga. Dia masih tidak percaya kalau saat ini dia akan pergi dengan dosennya sendiri. Apalagi dengan dosen yang menyukainya. Gabriel menghela nafasnya kemudian berjalan menghampiri Angga di ruang tamu. "Pak" Angga langsung mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang baru saja memanggilnya. Angga melihat Gabriel dari atas sampai bawah. Malam ini Gabriel benar benar cantik sekali hingga dia membuat Angga yang terpesona semakin terpesona dengannya. "Sudah siap?" tanya Angga kemudian. Gabriel mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu Angga membawa Gabriel keluar dan membukakan pintu mobilnya untuk Gabriel. "Ayo masuk"
"Makasih pak" jawab Gabriel. Angga mengangguk kemudian dia berputar mengelilingi mobilnya dan masuk ke dalam. Setelah beberapa saat mereka berdua mulai meninggalkan halaman rumah itu. Sekarang Angga dan Gabriel sedang dalam perjalanan menuju ke tempat yang akan dituju. Di dalam mobil suasananya sangat canggung, Gabriel tidak bisa membuka pembicaraan dengan Angga. Tapi Angga dia tidak bisa diam begitu saja. "Kalau boleh saya jujur malam ini kamu terlihat cantik sekali dan itu di luar ekspetasi saya" Gabriel langsung menoleh pada Angga. "Padahal saya hanya berdandan seadanya loh pak tidak seperti cewek cewek lain" jawab Gabriel. Angga tersenyum kemudian dia melihat ke arah Gabriel. "Justru itu, kamu berdandan seadanya saja sudah cantik begitu apalagi kalau kamu berdandan dengan luar biasa. Saya mungkin makin jatuh cinta sama kamu"
"Kenapa bapak bisa jatuh cinta pada saya? Sedangkan di kampus masih banyak dosen dosen cantik yang melebihi dari saya. Bahkan mahasiswi bapak juga banyak tuh yang cantik cantik. Body mereka juga aduhai. Sedangkan saya, badan saya aja kayak triplek begini. Tidak ada yang bisa dibanggakan kecuali dada sa...." Ups Gabriel hampir saja mengatakannya. Gabriel menutup mulutnya segera agar dia tidak mengatakannya lagi. "Dada sa?" tanya Angga dengan penasaran. "Emm maksud saya dada sapi haha iya dada sapi" Gabriel langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal untuk menghilangkan kegugupannya di depan Angga. "Kenapa bisa tembus ke dada sapi? Padahal kamu lagi menceritakan diri kamu sendiri" Gabriel benar benar mati kutu di hadapan Angga, ingin rasanya dia menghilangkan wajahnya untuk saat ini. Angga tersenyum kemudian. "Saya tahu bukan dada sapi yang kamu maksud, tapi kamu akan mengatakan dada saya kan?"
"Tidak usah bilang begitu saya sudah menyadari kok kalau dada kamu itu maju lebih menonjol ke depan" Angga menyeringai di akhir kalimatnya. "Pak Anggaaaaaaaa" Gabriel berteriak pada Angga karena malu. Membuat Angga langsung tertawa terbahak bahak. Hilang sudah wibawa dosennya ketika bersama dengan Gabriel. Gabriel menutupi wajahnya dengan malu malu. Seandainya saja Angga bukan dosennya dia pasti akan menabok kepalanya dari tadi.
.
.
"Lalu menurutmu bagaimana dengan Alea? Dia satu satunya perempuan di antara mereka" tanya Max. Arsen kemudian mengambil Alea daru box bayinya kemudian menggendongnya. "Kalau Alea aku tidak bisa menebaknya sama seperti dengan Rei" Arsen mencium pipi gembul Alea sehingga membuat bayi mungil itu tersenyum pada Arsen. Tapi senyuman Alea ternyata adalah penderitaan bagi Arsen. Karena tiba tiba saja Arsen merasakan bau yang menyengat. Max juga ikut merasakannya. Dan setelah dicari sumbernya ternyata itu berasal dari Alea. "Alea pup" ucap Max sambil tertawa. Arsen hanya menghela nafasnya dengan pasrah. Terlihat sekali jika Arsen menahan bau dari hasil pup Alea. "Alea hanya minum Asi tapi bau pup nya melebihi dari orang yang minum Asi" ucap Arsen. Membuat Alea yang tersenyum semakin tersenyum. "Ya sudah Daddy bersihkan pup kamu dulu. Sekalian kamu mandi juga jangan nunggu Mommy dulu."
"Max tolong siapkan Bak kecil yang berisi air hangat terus jangan lupa ambilkan sabun bayi. Kamu bisa tanya sama Bi Mina dimana tempatnya."
"Oke" jawab Max dengab singkat.