Hot Daddy

Hot Daddy
Via menghilang



Gabriel dan Shila berjalan di lorong kampus sambil membawa buku tugas mereka untuk disetorkan hari ini. Tapi sayangnya kehadiran mereka tidak lengkap sebelum adanya Via. Semua mata memandang ke arah mereka tapi Shila dan Gabriel memilih untuk mengabaikannya. "Shil, kok gue khawatir sama Via ya? Gak biasanya dia bolos kuliah seperti ini. Apa dia lagi ada masalah?" Shila mematikan ponselnya kemudian menyimpannya dalam tas "Lo benar Gab, kenapa sih semua teman kita suka hilang dengan misterius, dulu Arini sekarang Via nah besok besok pasti lo nih yang bakal ngilang kek gini" Gabriel langsung mencibir dan menoyor kepala Shila dengan cepat. "Sorry aja yah gue gak bakalan kek gitu" jawabnya. Shila hanya mengangguk acuh tak acuh saja.


.


.


"Tugas kalian cukup bagus, lalu dimana teman kalian yang satu lagi?" itu adalah Arkan, Dosen muda yang menggantikan pak antoro baru baru ini. Fisiknya yang tampan membuat semua para mahasiswi sangat betah jika diajar olehnya. "Saya tidak tahu pak, saya juga belum mendapat kabar apapun dari dia" jawab Gabriel   dengan sopan. Arkan mengangguk lalu mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Gabriel. "Saya ingin tugas ini terkumpul secepatnya, sudah semua mahasiswa saya mengumpulkannya. Jadi kalau bisa kamu harus segera memberitahukan teman kamu itu supaya segera mengumpulkan. Jika lebih dari waktu yang saya berikan maka saya tidak akan menerima tugas itu lagi. Kalian paham?"


"Paham pak" jawab Shila dan Gabriel bersamaan. "Bagus, sekarang kalian boleh pergi" lanjut Arkan kemudian. Gabriel dan Shila langsung keluar dari ruangan Arkan, mereka bernafas lega ketika tugas yang mereka kerjakan selama seminggu mendapatkan hasil yang memuaskan. Dan sekarang saatnya mereka untuk menemui Via dan meminta penjelasannya kenapa bolos kuliah hari ini.


.


.


"Dia kenapa sih?" heran Arini. Saat Arini akan berbalik dia menemukan ponsel Max yang ketinggalan disana. Arini berniat untuk mengembalikannya pada max tapi notifikasi dari ponsel itu membuatnya sangat penasaran. Siapa tahu itu bisa menjawab pertanyaannya. Sambil melirik kanan dan kiri Arini membuka ponsel itu dan hampir saja dia menjatuhkan ponsel itu jika tidak mempunyai reflek yang bagus. Arini sudah melihat semuanya. Dia antara percaya dengan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Arini tiba tiba teringat dengan Via, Arini meninggalkan ponsel itu disana kemudian berjalan dengan cepat menuju ke kamarnya untuk mengambil ponselnya sendiri. Dia harus menghubungi Via dan memastikan sendiri apakah dia sudah tahu berita ini atau belum.


Beberapa kali dia mencoba panggilannya tidak diangkat juga. Arini tidak menyerah begitu saja dia mencari nomor Shila kemudian langsung menghubunginya. "Iya, halo Rin, kenapa?" tanya Shila dari sebrang sana. "Shil, Via ada sama lo dan Gabriel kan? Soalnya gue telfon gak diangkat juga. Gue khawatir banget sama dia" ucap Arini dengan sedikit panik. "Tunggu tunggu kenapa dari nada lo, lo terlihat seperti sangat khawatir sekali. Apa yang terjadi?' tanya Gabriel ikut menimbrung di percakapan mereka. "Ceritanya panjang gue gak bisa cerita sekarang, intinya Via ada sama lo berdua apa enggak?" tanya Arini sejali lagi.


"Via gak kuliah hari ini" jawab Gabriel dengan jujur. Firasat Arini benar benar tidak enak pada saat Gabriel mengatakan itu. Arini takut terjadi sesuatu pada sahabatnya itu. "Pulang kuliah lo berdua bisa gak jemput gue? Kita ke rumah Via bareng bareng. Gue mau minta izin mas Arsen dulu sekarang" dengan cepat Shila menjawab. "Bisa kok, nanti sepulang kita kuliah kita langsung kesana"


"Yaudah gue tutup dulu telfonnya" lanjut Arini.


Setelah panggilan terputus Arini segera keluar mencari Arsen untuk meminta izin padanya.