
Arsen tidak benar benar menembak, dia menembakkan pistolnya ke atas kemudian menunjukkan senyum smirk nya ketika melihat wajah Mario dan Cinta yang terlihat tegang dan sangat ketakutan. "Jangan buru buru untuk mati dulu" ucap Arsen pada mereka. Mario kembali membuka matanya kemudian melihat ke arah Arsen. "Sekarang apa lagi mau kamu?" tanya Mario. Arsen mengambil ponselnya kemudian memberikannya pada Mario dan Cinta. "Setidaknya jika kalian pergi berilah pesan terakhir untuk putri kalian. Meskipun aku tahu kalian adalah orang tua terburuk yang pernah ada di dunia ini. Asal kalian tahu dia tidak pernah membenci kalian meskipun kalian sudah membuang dan menyiksanya. Dia hanya kecewa tapi tidak benar benar membenci" Cinta hanya terdiam setelah mendengar hal itu. Bahkan dia saja sudah tidak peduli dengan putrinya lagi. Bahkan menyesal pun tidak. "Untuk apa? Untuk apa aku memberi anak itu pesan. Aku dan suamiku benar benar membencinya. Seandainya kamu tidak menghalangi kami mungkin dari dulu dia sudah tidak ada di dunia ini lagi" ucap Cinta dengan sorot mata yang penuh dengan kebencian.
Mario mengambil ponsel Arsen kemudian membukanya. Dia melihat tampilan layar ponsel Arsen adalah wajah Arini dan si kembar.
Lain hal nya dengan Cinta, Mario malah tersenyum ketika melihat foto itu. "Apa dia Bella?" tanya Mario sambil mendongakkan kepalanya dan melihat wajah Arsen. Arsen mengangguk dengan mantap. "Dia adalah Bella kalian, putri kalian yang sudah kalian buang sejak kecil. Sekarang dia sudah tumbuh dewasa. Dia adalah Arini, ibu dari anak anakku" Perasaan Arsen mulai melunak ketika melihat Mario meneteskan air matanya. Arsen menurunkan pistolnya kembali kemudian. Dia masih punya hati untuk tidak membunuh orang yang sedang menangis. Apalagi tangisan seorang ayah untuk pertama kalinya. "Sebelum kamu membunuhku boleh kah aku meminta satu permintaan padamu?" ucap Mario sambil menahan tangis. Apalagi ketika melihat Aiden yang benar benar mirip dengan lelaki yang hendak membunuhnya saat ini.
"Katakan saja" jawab Arsen dengan tenang. Dia sudah tidak lagi mengandalkan emosinya lagi. Mario menoleh pada Cinta tetapi Cinta pura pura tidak melihat ke arahnya. "Dia sudah besar, lihat lah dia" ucap Mario pada Cinta. Cinta melirik sekilas kemudian matanya berpindah ke arah lain. Cinta benar benar sudah membenci Arini. Bahkan dia masih tetap ingin membunuhnya jika sekarang dia punya kesempatan. "Kenapa kamu sekarang malah mengasihaninya? Ingat. Kalau bukan karena anak bodoh itu kita tidak akan seperti sekarang. Dia yang sudah membawa kesialan dalam hidup kita." ucap Cinta sambil berteriak pada Mario karena kesal dengannya. Mario tidak bisa berbuat apa apa karena dia lah yang memulai semuanya. Mario sendiri yang menanamkan kebencian pada istrinya untuk Arini. "Izinkan aku untuk bertemu dengannya" ucap Mario pada Arsen.
"Apa?" tanya Arini sambil mengenyitkan keningnya. Arsen menyembunyikan pistolnya di dalam kemejanya kemudian dia memberikan ponselnya pada Mario. "Bicara lah" ucap Arsen pada Mario. Arsen ingin tahu apa yang skan dikatakan Mario pada Arini. Arini masih memperhatikan layar ponsel itu sampai akhirnya dia melihat wajah seseorang yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. "Ini siapa Mas?"
"Dia orang yang selama ini kamu cari, ayah kandungmu"