Hot Daddy

Hot Daddy
Makan malam



"Bi, Nanti tolong siapin makanan buat Arini ya, makanannya di antar ke kamar aja" ucap Arini pada Bi Mina yang sedang menyiapkan makan malam. "Kenapa Gak makan bareng aja Non? Biasanya Non paling gak suka kalau makan di kamar"  Bi Mina melihat Arini yang tersenyum sendu, seperti telah terjadi sesuatu padanya.


"Tidak apa apa Bi, Arini cuma pengen makan sendiri aja. Bisa kan bi?" tanya Arini lagi. Bi Mina langsung mengangguk, kalau kemauan putri majikannya seperti itu maka ia harus melakukannya. "Makasih Bi" ucap Arini lalu berlalu dari hadapan Bi Mina. "Non Arini kenapa ya? Tidak seperti biasanya?" Batinnya.


Max dan Arsen sudah siap di meja makan. Bi Mina mengambilkan makanan untuk Arini sesuai permintaannya di hadapan Arsen. "Buat siapa Bi?" tanya Arsen. Dengan kikuk Bi Mina menjawab. "Buat Non Arini tuan, tadi non Arini minta dianterin ke kamar makanannya"


Max yang mendengar itu merasa aneh, karena ia tahu dengan jelas kalau Arini tidak suka makan di kamar. Lalu Matanya mengarah pada Arsen, Sudah tidak salah lagi, mungkin Arsen yang menjadi penyebab semua ini. Entah apa lagi yang mereka ributkan. "Bibi permisi dulu tuan, mau nganterin makanan" Arsen mengangguk.


Setelah Bi Mina pergi, Max langsung melontarkan pertanyaan pada Arsen. "Apa lagi yang terjadi sama kalian?" tanyanya. Arsen mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Max. "Tidak ada, hanya saja dia sudah mengetahui semuanya. Arini sudah tahu kalau aku yang membunuh Charles"


"Bagaimana bisa?"


Arsen mulai menceritakan semuanya mulai dari Awal hingga Akhir. Max sekarang mengerti dengan permasalahan mereka. Kalau dia berapda di posisi Arini mungkin akan melakukan hal yang sama. Ketika mengetahui orang yang dicintai membunuh keluarganya sendiri. "Dia masih marah sama kamu, pasti kamu belum memberitahu alasannya kan?"


"Iya"


Max menghela nafas, Kadang Arsen ini bisa menjadi orang yang sangat jenius dan juga bisa menjadi orang yang tolol. "Beritahu Alasannya sama dia, aku tidak yakin dia akan semudah itu luluh, tapi setidaknya kamu harus memberi tahunya alasan yang membuat kamu membunuh Charles. Setudaknya dia bisa paham dengan apa yang kamu lakukan"


"Aku tidak yakin. Kamu tahu sendiri kan kalau Arini wataknya sangat keras kepala. Tapi aku akan mencoba, aku akan memberikan bukti bukti yang bisa menjelaskan semuanya pada Arini." Max mengangguk singkat, disaat dirinya sudah mulai dekat dengan wanita yang dicintainya, sekarang malah Arsen dan Arini yang hubungannya renggang.


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan, Max dan Arsen langsung memakan makanannya masing masing. Kalau Max makan dengan lahap lain hal nya dengan Arsen yang hanya memakan tiga sendok suapan. Nafsu makannya tiba tiba hilang begitu saja. Bagaimana pun caranya ia harus bisa mengembalikan kepercayaan Arini terhadapnya.


Arini makan di kamarnya dengan ditemani Bi Mina, Dia sendiri yang melarang Bi Mina pergi setelah mengantar makanan. Arini butuh orang yang bisa menenangkan dirinya. Seperti Bi Mina. "Pelan pelan Non makanannya, nanti kalau misal non mau nambah lagi biar bibi yang ambilin" ucap Bi Mina.


Arini tersenyum lalu menatap wajah Bi Mina. "Makasih ya Bi, Bibi mau menemani Arini" Bi Mina mengangkat tangannya dan mengelus rambut panjang. Arini menerimanya dengan senang hati, lagi pula ia juga menganggap Bi Mina sama seperti Bundanya. "Non teh kalau ada masalah bisa cerita sama Bibi, dulu  waktu kecil Non sering cerita cerita sama Bibi, sekarang Non juga bisa melakukan hal yang sama"


"Emm iya Bi, Tapi untuk masalah ini Arini belum bisa cerita." Bi Mina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Ya udah kalau gitu habisin atuh makanannya, biar Non bisa cepat cepat istirahat"


"Iya Bi"


.


.


"Sama Via? Maksudnya?'


"Uncle udah resmi sama Via" jawab Max kemudian.


"Sejak kapan?" tanya Arini. "kemarin, ini uncle mau jemput Via dulu. Kamu gak mau bareng uncle saja?" Arini terlihat menimbang tawaran dari Max, pas melihat Arsen turun dari lantai atas Arini langsung saja mengiyakan permintaan Max. "Iya, Arini bareng uncle saja. Sekalian Arini mau ngobrol banyak hal sama Via nanti di dalam mobil"


Arsen melirik ke arah Max dan Via secara bergantian. "Ada apa?" tanyanya dengan raut wajah datarnya. "Tidak ada, Arini cuma mau berangkat sama Uncle saja, Ayo uncle kita berangkat, takutnya nanti malah terlambat kalau masih disini"


Max mengangguk lalu menepuk bahu Arsen sambil membisikkan sesuatu. "Cepat selesaikan masalah kalian" Arsen menatap punggung Arini yang sudah menghilang di balik pintu, ia sangat merindukan Arini yang seperti biasanya. Yang selalu tersenyum ketika melihatnya. Bukan yang seperti sekarang.


.


.


"Pak, Silahkan Tanda tangan disini untuk melanjutkan kontrak dengan pihak Perfileman." Rocky menyerahkan selembar kertas yang berisi perpanjangan surat kontrak dengan mereka. Perusahaan Arsen memang bekerja sama dengan perusahaan yang mengelola perfileman. Setiap Novel yang diterbitkan dari usaha penerbitannya selalu dijadikan Film. Karena rata rata novel yang diterbitkan adalah novel yang memang benar benar berkualitas.


Arsen mengambil bolpoinnya dan menorehkan tanda tangannya di atas kertas itu. Setelah itu Arsen memberikannya lagi pada Charles. "Rocky, sekarang juga kamu ambilkan semua berkas yang sudah saya suruh kamu sembunyikan. Bawa semuanya kesini"


"Baik pak"


Arsen membuka dua kancing bagian atasnya, menunggu Rocky mengambil semua berkas yang berisi bukti bukti kejahatan Charles, termasuk Wira. Arsen akan menunjukkannya pada Arini. Walaupun Arini masih tetap keceea degannya setidaknya dia harus tahu alasan di balik semuanya.