
Shila berjemur di tepi pantai, menikmati pemandangan yang begitu indah sendirian. Sayang sekali dia tidak bisa menikmati bersama ketiga sahabatnya. Shila mengambil ponselnya dan mulai mengambil beberapa foto dirinya dengan pose yang imut. Tanpa sengaja kameranya juga menangkap dua sosok pemuda dengan wajah yang sama. Shila langsung membalikkan badan dan melihat kedua pria itu menatap lurus ke arahnya. Shila akui, mereka sangat tampan tapi tidak sedikit pun membuatnya tertarik. Baru saja Shila akan pergi, kedua orang itu langsung berlari dan menghadang langkahnya.
"Nona tunggu" ucap salah satu dari mereka. Shila berhenti melangkah dan menatap kedua pria itu secara bergantian. Mereka adalah Dani dan Doni yang sengaja diperintahkan Arsen untuk menjaga dan menemani Shila sebagai bentuk terima kasihnya atas Shila yang membantu rencananya. "Ada apa ya kak?" Shila tidak tahu usia mereka jadi dia hanya asal memanggil saja. Dani dan Doni menggaruk kepalanya yang tak gatal kemudian saling menyenggol tangan. "Kamu saja yang ngomong duluan" bisik Doni pada Dani. Dani hanya berdecih dalam hatinya, saudara kembarnya ini sangat menyebalkan.
"Jadi begini nona, kami mendapat perintah dari tuan Arsen untuk menjaga dan menemani Nona Shila selama ada disini" jelas Dani dengan suaranya yang berat. "Lalu?" tanya Shila kembali. Dani melirik Doni dan menyuruhnya untuk melanjutkan penjelasannya. "Jadi kami akan ikut kemana pun Nona pergi" Shila menimbang nimbang sejenak, memang sih tadi Arsen sempat mengatakan sesuatu kepadanya tapi dia tidak sepenuhnya paham. Shila berpikir ini mungkin benar benar dari Arsen. "Baiklah, tapi sebelum itu bisa kah kalian mengenalkan diri dulu, jujur saja aku tidak bisa membedakan kalian"
"Baik, Namaku adalah Doni dan ini saudaraku Dani, kamu bisa menemukan perbedaan kami hanya dengan pakaian kami. Dani lebih menyukai warna warna cerah seperti baju merah yang ia pakai dan aku sendiri menyukai warna gelap. Kamu bisa membedakan kami dengan itu" ucap Doni yang membuat Shila langsung menganggukan kepalanya. "Baiklah, kenalkan aku Shila kak" Shila mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis. Senyuman itu langsung menular kepada sepasang kakak adik itu dengan senang hati mereka langsung menyambut uluran tangan Shila.
.
.
Sementara kedua sahabatnya tidak masuk kuliah Via dan Gabriel menjadi sangat membosankan. Mereka tidak bersikap seperti biasa lagi, tidak ada yang diobrolin kalau Formasi mereka tidak lengkap. "Vi, coba deh lo telfon Shila. Gue nge whatsapp tapi centang satu. Gak ada kabar sama sekali dari dia" Via mengambil ponselnya kemudian mengetikkan beberapa angka yang merupakan nomor ponsel. Kemudian setelah itu Via langsung menghubunginya. Sudah beberapa kali dia mencoba tapi tidak dijawab. "Ponselnya gak atif Gab" ucap Via. "Kemana sih tuh anak, udah gak masuk kuliah sekarang ponselnya juga gak bisa dihubungi"
"Atau jangan jangan kita ke rumahnya aja kali ya nanti pas pulang kuliah, takutnya dia lagi sakit." Usul Via yang langsung diangguki Gabriel. "Arini diajak gak nih?" Gabriel melirik pada Via sebentar. "Arini kayaknya belum bisa deh, tahu sendiri kan Om Arsen gimana. Udah kita berdua saja dulu, nanti lain kali baru kita ajak Arini' ucap Via. Gabriel ikut menyetujui lagi pula apa yang dikatakan Via memang benar. Arini pasti tidak akan diperbolehkan keluar oleh Arsen. "Cabut Vi, Pak Antoro udah otw tuh" Via buru buru merapikan makanannya kemudian pergi bersama Gabriel.
.
.
"Aku gak mau loh Mas, aku mau yang baru diambil dari pohonnya" Kalau sudah begini Arsen bisa apa.
Mau menolak lagi pun dia sudah tidak tega. Akhirnya dia memilih mengiyakan saja, lagi pula ini demi Arsen junior. Arsen tidak ingin anaknya menjadi ileran hanya karena dia yang tidak bisa memanjat pohon kelapa. Apapun akan Arsen usahakan untuk bisa mendapatkan kelapa itu. "Ya udah aku siap siap dulu, kamu tunggu disini" Arini tersenyum lebar dan mengangguk. Perlahan dia mulai melihat suaminya yang pergi mendekat ke arah pohon kelapa itu. Arini memperhatikan dari jauh, Arsen membuka jas nya dan melemparnya sembarangan. Kemudian dia juga menggulung kemejanya. Arsen berusaha untuk memanjat pohon kelapa itu tapi baru saja akan naik dia sudah tergelincir dan terjatuh. Tentu saja tidak ada orang yang akan menertawainya, mereka sangat segan kepada Arsen.
.
.
Tiga puluh menit kemudian, Arsen membawakan kelapa itu pada Arini dalam kondisi sudah dibuka. "Ini kelapanya" Arini mendongakkan kepalanya dan melihat wajah Arsen yang sudah penuh dengan keringat. "Makasih Mas" Arini langsung mengambil kelapa itu kemudian meminumnya dengan cepat. Dia sangat menyukainya. Arsen tersenyum ketika perjuangannya memanjat pohon kelapa berhasil membuat istrinya tersenyum. Hari ini adalah momen yang tidak akan ia lupakan.