Hot Daddy

Hot Daddy
Bi Mina dan Pak Tejo



Minggu pagi Arini mengajak ketiga sahabatnya untuk berkumpul di sebuah cafe, sudah lama mereka tidak nongkrong bareng karena Arini selalu sibuk dengan Arsen. Dan sekarang ia akan meluangkan waktu untuk mereka, sekaligus menceritakan tentang Angel. Arini ingin mendengar pendapat dari mereka masing masing. Arini menatap dompet cokelat yang masih setia ada dalam genggamannya itu, mungkin ia akan mengembalikannya hari ini. Setelah semuanya siap, Arini mengambil kunci mobilnya dan segera turun ke bawah.


Kebetulan saja hari ini Max dan Arsen tidak ada di rumah, jadi Arini bisa langsung keluar tanpa berpamitan. Tapi saat ia akan keluar Arini malah melihat pemandangan yang menggelikan. Bagaimana tidak menggelikan jika yang ia lihat adalah Pak Tejo dan Bi Mina yang sedang memotong rumput di depan. Kadang Bi Mina mencuri curi pandang ke arah Pak Tejo, itu membuatnya terlihat sangat lucu sekali. Arini memutuskan untuk menghampiri mereka terlebih dahulu.


"Bibi sama pak Tejo pagi pagi udah rajin aja, memotong rumput, berduaan lagi. Kayak Bi Inem sama Pak Udin di sinetron itu" ucap Arini sambil terkikik geli. Pak Tejo dan Bi Mina langsung menoleh ke arah Arini secara bersamaan. "Eh ada Non Arini, Mau kemana non pagi pagi udah cantik seperti ini? Mau ketemu pacarnya ya?" ucap Pak Tejo sambil mendongakkan kepalanya pada Arini.


"Eh jangan sembarangan ngomong atuh, Non Arini gak punya pacar. Kan non Arini...." hampir saja Bi Mina keceplosan jika tidak mengingat Arsen. Bi Mina sudah mengetahui hubungan antara majikan dengan putrinya itu. "Non Arini kenapa Mina?" tanya Pak Tejo dengan penasaran. Bi Mina menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Kan Non Arini masih jomblo, iya kan non?"


Arini tersenyum sambil mengangguk. "Iya dong Bi, lagian Arini gak mau pacaran dulu tapi kalau dinikahin sih baru Arini mau" jawab Arini dengan setengah bercanda. Pak Tejo hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu melirik Bi Mina. "Kamu teh tahu dari mana kalau Non Arini masih jomblo?" ucapan pak Tejo berhasil membuat Bi Mina menepuk kepalanya. "Dari lahir juga saya tahu kalau Non Arini jomblo" Pak Tejo memutar bola matanya malas, untung di depannya ini orang yang dia sayang, eh tunggu kenapa dia harus bilang seperti itu.


"Udah udah jangan terus berdebat, nanti Bibi sama Pak Tejo malah jadi jodoh nanti" seketika pipi Bi Mina langsung memerah, Bi Mina langsing menutupinya dengan tangan kanannya tapi sayangnya Pak Tejo sudah melihatnya duluan. "Pipi kamu merah Mina, sama kaya tomat busuk yang aku buang kemarin" ucap Pak Tejo dengan tampang yang tidak berdosanya. Arini tertawa geli melihat kelakuan mereka. "Eh tejo? Ini bukan kayak tomat busuk tapi kayak make up syah..syah apa itu yang di tipi tipi..oh syahratun"


"Syahrini Bibi bukan Syahratun" Koreksi Arini ketika Bi Mina tidak sengaja memplesetkan nama Syahrini. "Ah iya maksud bibi itu Non" jawab Bi Mina sambil cengengesan. "Ah elah kamu mah sama Syahrini beda jauh, udah beda kasta beda penampilan pula. Dari namamu saja sudah tidak selevel, Syahrini nama yang mewah, lah kamu Mina nama pasaran. Kucing aja kadang sering dinamain Mina"


Arini mengangguk. "Arini berangkat dulu ya Bi, Pak Tejo tolong jaga rumah dengan baik ya" Pak Tejo langsung memberikan hormat pada Arini. "Siap Non" setelah itu Arini segera keluar dan masuk ke dalam mobilnya yang sudah ia siapkan sejak tadi.


Sedangkan di sisi lain, seperti yang direncanakannya beberapa hari yang lalu. Arsen kembali ke hutan untuk mengurus mayat mayat yang diberikan Vernon tempo hari yang lalu.


Ia akan melakukan kegiatan Favoritnya seperti biasa, apalagi kalau bukan untuk memotong bagian bagian tubuh yang ia suka. Misalnya seperti jari tangan, kaki atau bahkan telinga. Sejak kecil Arsen memang tidak tumbuh di lingkungan yang bahagia, Kedua orang tua nya sama sama sibuk dengan Bisnis dan tidak mempedulikan pergaulan Arsen. Mereka hanya terus bekerja dan bekerja, mungkin mereka pikir dengan memberikan kemewahan saja sudah cukup bagi Arsen. Tapi nyatanya tidak, Arsen yang saat itu sudah mengerti dengan perlakuan orang tuanya mulai mencari kebahagiaannya sendiri.


Awalnya ia diajak teman temannya untuk tawuran, tapi Arsen menolak dengan tegas. Teman temannya memaksa Arsen untuk ikut dengan mereka hingga akhirnya Arsen pun mau mengikuti jejak mereka. Arsen yang saat itu masih tidak tahu apa apa hanya menyaksikan teman temannya yang sedang saling melempar batu hingga terkena kepala salah satu temannya. Tanpa sadar hal itu membuat Arsen tersenyum.


Arsen turun dari motor kemudian mencari batu besar, sebelumnya ia membidik lawannya yang harus ia lempar. Arsen tidak peduli lagi, yang penting sekarang ia harus mencoba melempar seperti yang teman temannya lakukan. Dengan sekali lemparan, lemparan Arsen berhasil mengenai dada lawan tawurannya, dan akibat dari lemparan itu dada orang tersebut banyak mengeluarkan darah. Bukannya ketakutan Arsen malah semakin melebarkan senyumnya, ia mengangkat kedua tangannya dan menatapnya terus menerus.


Sejak saat itu Arsen mulai menyukai darah, ia juga jadi semakin sering menyakiti orang lain agar melihat darah. Bahkan Arsen juga pernah menyakiti salah satu teman kelasnya hingga akhirnya temannya itu memilih pindah sekolah daripada berurusan dengan Arsen. Perbuatan Arsen sudah banyak diketahui oleh guru tapi mereka tidak bisa berbuat apa apa, Karena Kekuasaan Garda lah yang membungkam semua guru agar tidak mengeluarkan Arsen dari sekolah.