
Arsen menidurkan Arini di atas kasur tapi saat dia akan pergi sebuah tangan memegangnya dengan erat sambil meracau dengan tidak jelas. "Tolong jangan makan aku, jangan makan aku" hal itu membuat Arsen tertawa. Dengan tak sabar dia langsung membuka semua kain yang menutupi tubuh bagian atasnya kemudian Arsen naik ke atas kasur dan memeluk Arini dengan erat. Arini yang mengira itu adalah monster dalam mimpinya tanpa sengaja kakinya menendang sesuatu. Arsen langsung melebarkan matanya kemudian menutupi sesuatu bagian bawahnya. Yah, yang barusan kena tendang Arini adalah Juniornya. "Tidur lagi, mommy sudah tidur kamu juga harus tidur" ucap Arsen sambil melirik celananya yang mengembung. Arsen kembali memeluk Arini, kali ini Arini tidak bergerak sedikit pun dia tidur dengan nyenyak dalam pelukan Arsen.
Sedangkan di kamar lain, bukannya membiarkan Via tertidur lagi, Max malah menindihnya. Ya sedari tadi Max terus menindihkan tubuhnya pada Via. "Vi, ayolah kita lakukan sekali aja, kamu gak mau kan kalau suamimu ini jajan di luar?" bujuk Max. Tapi Via dia hanya bergumam sedikit kemudian membuka matanya. "Mau ngapain sih Mas? Kamu gak liat aku lagi tidur apa?"" sebal Via. "Nah justru karena kamu lagi tidur kenikmatannya pasti akan terasa, jadi boleh ya?" Via tidak menjawab lagi dan sekarang dia malah tidur dengan mendengkur. Max mengelus dadanya dengan sabar, adik kecilnya sudah bangun tapi dia tidak bisa melakukan apa apa.
.
.
Semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam kecuali Arini, dia masih belum keluar dari kamar. Tapi sekalinya keluar Arini menunjukkan wajah masamnya. Arini langsung menarik kursi kemudian duduk secara perlahan. Arsen terus melihatinya sepanjang Arini duduk. "Kenapa?" tanya Arsen tapi tak dihiraukan oleh Arini. Arsen merasa aneh dengan sikap Arini padahal Arini baru saja bangun tidur tapi kenapa dia tiba tiba mencuekinya. "Arini kenapa?" kali ini Arsen bertanya pada Via. "Bukannya dia baik baik saja kak. Kelihatannya tadi siang dia juga tidak marah sama kakak. Rin, lo kenapa sih?" tanya Via ikut ikutan. Sedangkan Max dia hanya ikut menyimak saja dan terus menyaksikan drama rumah tangga di meja makan. Arini melihat ke arah Arsen dan memberinya tatapan sinis dan sekarang Arsen malah makin tidak mengerti. Perasaan hari ini dia tidak melakukan kesalahan apapun. "Dasar mata keranjang" dumel Arini tapi masih bisa didengar oleh Arsen.
"Mata keranjang? Maksudmu apa sih sayang. Kamu tahu kan aku tidak pernah melihat wanita lain selain kamu" Arsen mendekatkan kursinya pada Arini tapi Arini juga ikut berpindah sehingga kini jarak mereka semakin jauh. "Masih belum tahu apa kesalahannya ternyata" tambah Arini. Sekarang dia mulai mengambil nasi dan menyediakannya pada piringnya sendiri. Tidak mempedulikan Arsen yang terus bertanya tanya malah sekarang Arini juga mulai memakan makanannya dengan tenang. Tapi beberapa menit kemudian Arini mulai menyimpan ponsel di atas meja, itu adalah ponsel Arsen. "Silahkan di cek Tuan Arsen yang terhormat" ucap Arini. Arsen langsung membuka ponselnya dan matanya tiba tiba membelalak ketika melihat banyak foto foto wanita seksi di galerinya. Tidak hanya satu bahkan foto itu hampir memenuhi galeri ponsel miliknya.
Arsen mengambil Video itu karena dia pikir dia pasti akan membutuhkannya ketika Max bermacam macam dengannya. Via melihat ponsel itu dengan diam dan Max yang juga penasaran langsung mengintip di sela sela. Sekarang giliran dia yang melotot. Max melihat ke arah Arsen, Arsen terkekeh melihat ekspresi Max yang sangat konyol. Tiba tiba saja Via langsung membanting ponsel Arsen begitu saja, Via menatap Max dengan pandangan menusuk. "Via, itu gak seperti yang kamu pikirkan. Video itu hanya rekayasa Arsen saja" Max mencoba untuk membela diri. "Oh iya? Apa pelukan lima menit itu termasuk rekayasa?"
"Malam ini kamu tidur di luar" ucap Via tiba tiba. Arsen tertawa terbahak bahak lalu tawanya berhenti ketika Arini mulai menatapnya dengan serius. "Diam kamu mas, malam ini Mas juga tidur di luar" Arsen juga mencoba untuk membela diri tapi Arini mengangkat tangannya yang artinya Arini tidak ingin mendengar penjelasan apapun lagi
Kini Max dan Arsen saling melempar tatapan tajam. "Ini semua salahmu Max" Arsen mengepalkan tangannya dan menunjuk pada wajah Max. "Ini juga salahmu" mereka terus saja saling menyalahkan sehingga tiba tiba saja Arini menggebrak meja dengan sekuat tenaga. Tidak hanya kedua lelaki itu yang terkejut Via juga ikut terkejut. "Diam kalian berdua, kalian itu sama sama salah. Dasar laki laki buaya" Setelah menggebrak meja Arini kembali melanjutkan makannya. Tidak peduli dengan Max dan Arsen yang melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Salahmu" bisik Max.
"Gara gara kamu"
"Sekali lagi seperti itu siap siap saja garpuku melayang pada kalian berdua" Arini melihat Max dan Arsen secara bergantian sambil memegang garpunya. Arsen menelan ludah bisa bisanya sekarang dia malah sedikit takut pada istrinya.