
Semenjak Arsen tidak mengizinkan Arini melahirkan secara normal Arini malah mendiaminya selama tiga hari. Dia menghindar ketika disapa oleh Arsen tapi pada saat dia tidur dia butuh pelukan hangat Arsen. Arini terlihat seperti Abg yang masih labil, apapun maunya harus Arsen turuti kalau tidak dia tidak akan makan dan tetap seperti itu. Tidak jauh berbeda dengan Arini, sekarang Max dan Via sudah menikah. Pernikahan mereka sudah sangat lama sekali dan sekarang mereka juga sedang menunggu kelahiran buah hatinya. Karena Via juga sedang hamil. "Mas mau buah apel tapi apelnya harus di pohon mangga" ucap Via dengan tiba tiba. Max langsung menoleh ke arahnya. "Gak ada sayang, apel itu adanya di pohon apel bukan mangga gimana sih kamu"
Via tetap menggeleng, dia hanya ingin buah apel yang dipetik langsung dari pohon mangga. Dia menunjukkan wajah Puppy eyesnya dulu pada Max. Dan kalau sudah begitu Max tidak akan bisa menolaknya. Meskipun itu sangat mustahil Max akan mencari cara untuk bisa membuat Via senang. "Yaudah nanti aku carikan dulu" ucapnya, Via langsung mengangguk.
Arsen dan Arini turun dari kamar lantai atas, dengan perut yang besar Arini berjalan dengan susah payah. Arsen bahkan ngeri sendiri ketika anaknya sudah mulai bisa menendang di dalam sana. Tendangannya sangat kuat sekali hingga kadang membuat Arini meringis kesakitan. "Kenapa Max?" tanya Arsen ketika melihat wajah Max yang sedikit masam. "Biasa, ibu hamil ngidam lagi" jawab Max. "Ngidam apa?" kali ini giliran Arini yang bertanya
"Dia mau apel yang dipetik dari pohon mangga" jawab Max. Arini terkikik geli mendengar sahabatnya ngidam yang aneh aneh sama dengan dirinya dulu pas awal awap kehamilan. kemudian dengan susuah payah Arini duduk di samping Via. Arini mengelus perutnya yang sudah semakin besar. "Gimana sekarang dedek bayinya? Masih suka main sepak bola di dalam?" tanya Via sambil melihat ke arah perut besar Arini. "Masih, malah makin kuat sekarang." Arini mengelus perutnya sendiri kemudian tiba tiba mereka mendengar suara bel yang berbunyi "Aku akan membuka pintu" ucap Max terlebih dahulu. Kemjdian Max membukakan pintu , saat dia mulai membuka pintu Max benar benar terkejut ketika melihat kedua orang tuanya datang di waktu yang bersamaan. "Mama, Papa" dengan segera Max langsung memeluk mereka satu persatu. Garda dan Mila hanya tersenyum ketika melihat putra mereka menyambut kedatangannya. "Cucu mama apa kabar?" tanya Mila dengan antusias.
"Baik baik saja kok Ma, ayo kita masuk. Kita temui Arsen dulu di dalam sana" dengan penuh senyuman Max membawa kedua orang tuanya ke dalam untuk menemui Arsen. "Kak, lihat siapa yang datang" ucap Max. Arsen langsung menoleh dan menemukan kedua orang tuanya yang sedang berdiri di hadapannya. Reaksinya sangat luar biasa karena sebelum mereka datang kesini Arsen sudah lebih dahulu tahu kalau mereka akan datang. "Mama apa kabar?" tanya Arsen sambil memeluk mereka secara bergantian "Mama baik baik aja kok, gimana sekarang kehamilan Arini? Mama dengar kalian punya bayi kembar tiga"
"Tapi tidak semuanya Arsen, teman Mama dulu pernah mengalami hamil seperti ini. Tapi buktinya sekarang dia baik baik saja bahkan anak anaknya pun juga sehat sehat saja. Tidak ada yang perlu kamu takutkan sebenarnya. Ingat Arsen, Arini meminta melahirkan secara normal karena dia ingin menjadi seorang ibu yang seutuhnya, melahirkan tanpa harus menggunakan alat alat operasi . Dia ingin berjuang sendiri untuk mengeluarkan bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Apa yang dibilang mamamu itu benar Arsen. Dulu papa juga sempat berpikiran seperti kamu. Saat melahirkan kamu sebenarnya papa ingin mamamu melakukan operasi. Tapi Mama mu bersikeras untuk melahirkan secara normal dan meyakinkan papa kalau dia akan baik baik saja. Dan lihatlah buktinya, sekarang Mama mu baik baik saja dan kamu bisa hidup di dunia ini" Max dan Via hanya menjadi pendengar di kisah mereka. Max sendiri tidak akan menyuruh Via melakukan operasi karena dia mengerti apa yang diinginkan oleh seorang perempuan. "Jadi aku harus gimana Ma?"
"Kak, kak aku akui kamu memang pintar dalam hal perusahaan, tapi masalah wanita sepertinya kamu tidak punya pengalaman sekali. Biarkan Arini melahirkan secara normal kak, aku yakin dia bisa baik baik saja." ucap Max. "Dari sudut pandangku ya kak, Wanita itu akan terlihat sempurna jika dia melahirkan secara normal. Dan itu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi seorang ibu ketika melahirkan anak anaknya dengan perjuangannya sendiri. Setidaknya sembilan bulan mereka mengandung tidak sia sia karena berhasil melahirkan anaknya" Via juga mengeluarkan pendapatnya, kalau dulu dia memanggil Arsen dengan sebutan om sekarang dia memanggilnya dengan panggilan kakak ipar.
Arini tersenyum puas ketika semua orang mendukungnya. Dia melirik ke arah Arsen dengan senyuman jahil. "Gimana mas?" godanya. Arsen mengambil nafas yang panjang kemudian dengan berat hati akhirnya dia mengangguk. Semua orang bernafas lega juga pada akhirnya.