
Alea dan Rei baru saja tiba di sekolah, mereka berpapasan dengan Aiden yang baru saja turun dari Rooftoop. Kebetulan Gevan juga berada di belakang Aiden. Alea menatap mereka dengan penuh curiga. Sepertinya telah terjadi sesuatu pada mereka. Pada saat itu juga Gevan melihat ke arah Rei. Lagi lagi dia terkejut ketika melihat Rei yang wajahnya sama persis dengan Aiden. "Lah ini kembaran Alea, terus lo kembaran siapa?" ucap Gevan pada Rei. Rei mengenyitkan keningnya karena tidak mengenali siapa Gevan. "Gue juga kembarannya kali" jawab Rei dengan sewot. Jelas jelas wajahnya dan Aiden sama masih disangka bukan kembaran mereka. Gevan berdecak menatap mereka bertiga secara bergantian dengan takjub. "Kenalin gue Gevan, calon adik ipar kalian" ucap Gevan pada akhirnya sambil mengulurkan tangannya pada Rei. Rei memandangi Gevan dengan serius, sepertinya dia pernah mendengar nama itu. Tapi entah kapan dan dimana ia mendengarnya. Alea merutuki Gevan dalam hati, bisa bisanya dia mengatakan hal itu di depan kedua abangnya. "Gevan? Nama lo kek gak asing di telinga gue. Lo temennya Adek?" tanya Rei pada Gevan. Gevan mengangguk dengan semangat membuat Alea kesal setengah mati. "Enggak, Alea gak punya teman kayak dia. Mana mau Alea temanan sama dia. Dia ngeselin dan rese banget jadi cowok"
"Bilangnya bukan teman tapi tau semua sifat dia" Aiden langsung membuat Alea skakmat dan langsung terdiam. Aiden masih belum pergi daritadi karena tidak ingin membiarkan Alea berlama lama dengan Gevan meskipun di kelas mereka akan tetap duduk bersama. Sekarang Rei paham siapa Gevan. Dia pernah mendengarkan pembicaraan Aiden dan Alea di kamarnya. "Dek, daripada disini mending kamu masuk kelas duluan. Abang mau bicara empat mata sama teman kamu ini" ucap Rei pada Alea. Hanya kali ini Alea bisa melihat ketegasan di mata Rei. Alea tidak berani membantah lagi, dia langsung pergi sambil menatap tajam Gevan. "Awas lo"
Gevan terkikik geli ketika melihat wajah Alea yang marah tapi tetap imut di matanya. Rei memutar bola matanya malas melihat Gevan yang tertawa karena Alea. "Lo urus dia, gue mau ke kelas" ucap Aiden pada Rei. Rei mengangguk dan membiarkan Aiden pergi ke kelasnya. Sementara itu, Gevan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya sambil melihat Rei dengan tatapan kurang ajarnya. "Ngapain lo liat gue?"
"Kalem Woy, gue cuma mau perkenalan aja sama lo"
"Berani lo ngegas sama gue?"
"Kagak bang santai aja kali. Kenapa lo gak ikut pergi bareng abang lo tadi siapa tuh namanya? Aden"
"Aden aden pala lo botak, namaya Aiden bukan Aden"
"Nih bocah lama lama ngeselin juga" batin Rei dalam hati.
Gevan mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. Dia melirik jam tangannya yang sebentar lagi bel sekolah akan berbunyi sementara dia masih berada di lorong kelas. "Gak ada yang mau diomongin lagi kan? Gue mau ke kelas bentar lagi bel masuk berbunyi" Gevan memperbaiki tas yang digendongnya kemudian bergegas untuk pergi tapi sayang Rei masih mencegatnya. "Urusan kita belom selesai, gue gak mau panjang lebar. Jangan sakiti adek gue. Gue tahu niat lo ke adek gue tapi gue gak akan semudah itu menerima orang baru di kehidupan adek. Paham" setelah mengatakan beberapa kalimat itu Rei langsung pergi ke kelasnya.
.
.
"Enak apanya? Pokoknya gue gak mau duduk sama dia hari ini. Pliss ijinin gue duduk sama lo ya. Lagian kan hari ini si Catherin gak masuk sekolah" Alea terlihat memohon mohon pada Vina sehingga membuat Vina mengiyakan saja. Daripada Alea terus merengek seperti anak kecil lebih baik dia mengizinkan Alea untuk duduk bersamanya. "Tapi lo udah bilang sama Gevan kan?"
"Peduli amat sama dia" Alea memindahkan tas nya ke bangku yang ada di samping Vina. Dan duduklah dia disana. Gevan baru saja tiba di kelas, dia heran melihat Alea yang duduk di samping Vina. "Kenapa lo duduk disitu?"
Alea menjawabnya dengan sewot. "Terserah gue lah mau duduk dimana"
"Itu kan bukan bangku lo?"
"Udah ah bawel amat lo, mending lo duduk aja sana gak usah gangguin gue. Dasar nyebelin"
"Dasar betina" ucap Gevan sambil tertawa mengejek Alea.