
Jam sepuluh pagi, Arini sudah bersiap siap untuk pergi ke pernikahan Dosennya. Arini sudah janjian untuk langsung bertemu disana dengan teman temannya. Ia memperhatikan penampilannya di depan cermin, dengan rambut yang diurai dengan sedikit digelombangkan, kemudian Gaun berwarna biru dengan bagian punggung yang terbuka. Tidak lupa Arini juga memakai high hells agar membuatnya semakin sempurna.
Arsen menunggu di ruang keluarga, sekarang di rumahnya hanya ada Arini dan Arsen, sedangkan Max dia sudah pergi ke pemakaman Charles sejak tadi pagi. Arsen terus melihat jam tangannya, hari sudah semakin siang tapi Arini masih belum turun juga.
Beberapa menit kemudian, Arini turun dari kamarnya dan menghampiri Arsen yang sedang menunggunya di sofa. Awalnya Arsen tak menyadari kalau Arini sudah berada di dekatnya, tapi setelah ia mencium parfum khas Arini, Arsen mendongakkan kepalanya. "Arini sudah siap Dad, gimana dengan penampilan Arini?"
Arsen memperhatikan Arini dari atas sampai ke bawah, matanya tidak bisa lepas dari Arini. Bahkan Arsen sampai lupa berkedip karena saking cantiknya Arini. "Dad, gimana?" Arsen mengerjapkan matanya lalu menormalkan ekspresinya. "Cantik" ucapnya yang langsung membuat Arini tersenyum.
"Syukurlah, kalau gitu ayo kita berangkat. Shila, Via dan Gabriel sudah menunggu Arini disana" Arsen mengangguk, mereka berdua pergi ke luar dan masuk ke dalam mobil yang sudah Arsen siapkan. "Thank you Dad" ucap Arini saat Arsen membukakan pintu untuknya.
Setelah itu baru Arsen masuk ke dalam mobilnya, Arsen mulai menghidupkan mesin mobil dan mulai melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan, Arsen terus melirik ke arah Arini, ia masih belum puas memandangi wajah cantik milik Arini. Arini yang menyadari sedang ditatap Arsen langsung menolehkan kepalanya. "Kenapa Dad?"
"Shit" Bibir merah Arini sangat menggodanya. Arsen menghentikan mobilnya di pinggir jalan kemudian membuka sabuk pengamannya. Baru saja Arini akan membuka mulut Arsen sudah mencium bibirnya dengan rakus, Arsen ******* bibir Arini dengan ******* terbaiknya. Arsen tidak pernah dibuat seperti ini oleh wanita selain istrinya dulu, ini adalah pertama kalinya Arsen dibuat takluk oleh wanita lain. Apalagi wanita itu berstatus sebagai putri angkatnya.
Arini memejamkan matanya, ia mengalungkan tangannya di leher Arsen. Tangan Arsen bebas memeluk pinggang Arini sedangkan bibirnya masih beraksi. Arsen berhenti sejenak memberi Arini waktu untuk bernafas. "Dad...Hmmpp" Arsen benar benar tidak dapat menahan dirinya, Bibir Arini sangat kenyal dan manis di lidahnya. Ia semakin menyukainya. Arini mengeluarkan desahannya ketika Arsen beralih pada leher jenjangnya, Arsen menjilat bahkan menggigitnya hingga menimbulkan bekas kemerahan atau yang biasa disebut kissmark.
Arsen menyudahi semuanya, pipi Arini benar benar memerah, sekarang penampilannya sudah dibuat berantakan oleh Arsen. Bagaimana ia datang ke pernikahan kalau lehernya saja sudah penuh dengan kissmark. "Daddy, kenapa malah ninggalin jejak sih? Nanti kalau teman teman Arini liat gimana?"
Arsen tersenyum lalu mengecup kening Arini. "Daddy sudah menyiapkan ini" Arsen mengambil paper bag yang berisi syal kemudian memberikannya pada Arini. "Pakai ini buat menutupi kissmark yang dibuat Daddy"
Dengan setengah hati Arini mengambil syal nya kemudian memakainya. Arini mengambil cermin kecil dari dalam tasnya dan memeriksa kondisi bibirnya. "Kok lipstiknya bisa hilang? Daddy nyium bibir atau nyedot lipstik?" ucapnya sambil menatap Arsen.
"Dua duanya, Lagian salah kamu sendiri yang menggoda Daddy dengan memakai lipstik yang berwarna mencolok" Arsen bersikap tenang meskipun ia merusak penampilan Arini. "Menggoda gimana sih Dad? Bibir aku juga diam. Emang dasar Daddy aja yang mesum" sungut Arini.
Arsen tertawa geli, ingin rasanya ia mengurung Arini di dalam kamarnya dan membuatnya berada di bawahnya sambil menyebut namanya. Tapi Arsen tidak bisa. Ia tidak akan melakukannya sebelum Arini benar benar jadi miliknya. "Jangan cemberut, cepat rapikan penampilanmu. Kita akan segera berangkat lagi"
"Tahu tuh, nih kaki gue sampe pegal nungguinnya, apa kita masuk duluan aja ya? Mungkin aja Arini gak bisa datang terus lupa ngabarin kita?" Via mengangguk setuju, dari pada mereka menunggu Arini yang membuatnya semakin lelah lebih baik mereka masuk duluan saja. "Ya udah deh kita masuk aja, kalau Arini datang, dia pasti bisa masuk sendiri" ucap Gabriel. Mereka bertiga langsung masuk ke dalam gedungnya dan menyalami langsung pak Antoro.
Sepuluh menit kemudian, Arini dan Arsen telah sampai di gedung itu, Arini memeriksa penampilannya sekali lagi dan memastikan semuanya sudah rapi dan sempurna. Tidak lupa ia memperbaiki syal nya agar Kissmark di bagian lehernya tidak kelihatan. "Arini turun dulu, Daddy langsung aja ke pemakamam Uncle Charles, Nanti Arini bisa nyusul sendiri"
"Baiklah, tapi ingat. Jangan sampai kamu macam macam." Arini tersenyum lalu mengangguk, ia mengambil tangan Arsen dan menciumnya. "Dah Daddy, hati hati di jalan" Arsen mengelengkan kepalanya lalu ia melajukan mobilnya kembali. Setelah mobil Arsen sudah menghilang dari pandangannya, Arini mencari keberadaan semua teman temannya. Tapi tak satu pun yang terlihat. Mereka bilang akan menunggunya disini, tapi malah tidak ada.
"Hufff ya sudah lah aku masuk sendirian aja"
.
.
Arsen dan Max bergabung bersama Wira, mereka memasukkan Jasad Charles ke dalam peti. Wira meratapi kepergian putranya dengan perasaan yang sangat sedih, apalagi Felina, Istri dari Charles, dia sempat menangis histeris tidak terima dengan kepergian Charles. Arsen hanya berdecih dalam hati, pemandangan di depannya ini hanya membuatnya muak saja. "Papa bersumpah untuk membalaskan kematianmu, papa akan mencari tahu apa penyebab kematianmu ini. Kamu bukan tipe orang yang gampang menyerah, kamu tidak mungkin bunuh diri" ucap Wira sambil melihat wajah Charles untuk terakhir kalinya.
"Paman tenang saja, biar Arsen yang membantu paman untuk mencari tahu penyebab Charles meninggal, Arsen berjanji pada paman akan memberi tahu kabarnya secepat mungkin" Arsen tersenyum pada Wira. Max menghela nafasnya dengan kasar, Kakaknya Arsen sepertinya punya rencana lain dan Max tidak bisa mencegahnya.
Wira menghapus air mata di sudut pipinya, lalu menepuk bahu Arsen dengan tangannya. "Terima kasih, kamu benar benar keponakan paman yang bisa diandalkan, tidak seperti Max yang cuma bisa diam saja disaat seperti ini" Wira menatap Max dengan sinis, Ia memang sangat tidak menyukai kehadiran Max atau bahkan ia juga membencinya.
"Si tua bangka, aku akan membuatmu menyusul Charles secepat mungkin. Dari dulu kau memang menjadi sumber masalah" batin Arsen. Arsen menatap Max dan memberinya kode agar tidak memasukkan perkataan Wira ke dalam hati. Karena bagi Arsen, Max adalah saudara terbaik yang pernah ia punya."
"Aku baik baik saja" bisik Max.