
Arini memberikan ucapan selamat kepada pak Antoro dan istrinya, dia sempat menjadi pusat perhatian karena penampilannya yang sangat memukau, bahkan sang pengantin pun kalah cantik dari Arini. Setelah mengucapkan selamat, Arini langsung turun dan berjalan menghampiri teman temannya. Arini juga mengeratkan Syal nya agar lehernya tetap tertutupi.
"Dari mana aja lo? Baru datang? Kita udah nungguin lo 30 menit di luar" ucap Shila ketika melihat Arini yang baru saja datang. "Tadi jalanan macet makanya gue telat" jawab Arini. Via dan Gabriel mengangguk lalu tanpa sengaja Gabriel menarik syal yang dipakai Arini hingga bekas kemerahan itu terlihat dengan jelas. Gabriel melotot tidak percaya, tangannya menepuk lengan Via dan Shila agar melihat hal itu. Tak jauh berbeda dengan Gabriel, mereka berdua juga membulatkan matanya. Kemudian mereka bertiga menatap Arini rengan horor.
"Enak banget lo ya, kita nungguin lo 30 menit. Lo malah enak enak sama om Arsen" ucap Via. Arini mengernyitkan dahinya tak mengerti. "Kalian ngomong apa sih? Enak enak? Sorry ya gue belum pernah enak enak apalagi sama Daddy" Via berdecak lalu ia segera melepaskan syal Arini hingga semuanya terpampang dengan jelas. "Tuh leher lo merah merah karena kissmark kan? Ngaku lo? Ngapain aja sama Om Arsen tadi"
Arini merebut Syal nya dan memakainya kembali. "Sssttt diam, gue gak enak enak. Tadi leher gue cuma digigit nyamuk gede aja kok." Shila tentu saja tidak percaya kalau memang itu adalah gigitan nyamuk, pasti bekasnya tidak besar seperti itu. Arini pura pura mengambil ponselnya agar teman temannya tidak menanyakan hal itu lagi.
"Arini" Arini mengangkat kepalanya ketika ada seseorang yang memanggil namanya, Rendi berjalan dari ujung menghampiri Arini. Kali ini Rendi tampil beda tidak seperti biasanya pas ia kuliah. Rendi menggunakan pakaian formal yang sangat pas di tubuhnya. Rendi memakai kemeja yang dilengkapi dengan jas nya kemudian bagian bawahnya ia menggunakan celana hitam. "Aku kira kamu tidak datang? Kamu kelihatan cantik sekali. Tapi kenapa harus pake syal?" ucap Rendi saat berada di depan Arini.
"Habis digigit nyamuk gede katanya" Sindir Shila pada Arini. "Tahu tuh, mana nyamuknya ganteng lagi terus berotot" Rendi sangat tidak mengerti apa yang dimaksud dengan nyamuk gede menurut teman teman Arini itu. Karena setahunya nyamuk itu ukurannya sama saja. "Tidak usah didengarin mereka Ren, mereka emang aneh. Tapi benar kok leher gue digigit nyakuk makanya gue tutupin. Soalnya membekas"
Rendi mencoba untuk mengeceknya sendiri tapi Arini berjalan mundur, bisa gawat kalau Rendi sampai melihatnya sendiri. "Ehmm Ren, habis ini kamu bisa nganter aku gak ke rumah uncle aku?" Rendi menurunkan tangannya dan menerbitkan senyum untuk Arini. "Bisa, apa sih yang enggak buat kamu" Arini membalas senyuman Rendi. Membuat ketiga orang yang berada disitu mendelik kesal.
Rendi melihat ke sekelilingnya, banyak pria yang menatap punggung mulus Arini, Rendi tidak bisa munafik, punggung Arini memang benar benar indah, Rendi mengelus punggung Arini dengan tangannya. Arini yang merasa risih langsung membalikkan tubuhnya agar Rendi tidak tersinggung dengan penolakannya.
Gabriel menepuk bahu Rendi dengan pelan. Hingga Rendi menoleh padanya. "Ada apa?" ucapnya dengan pelan. "Jangan melewati batas, Arini sudah ada yang punya" Gabriel tidak ingin Rendi semakin berharap dengan Arini, Arini tidak akan bisa dimiliki Rendi. Kalau pun bisa, Rendi harus merebutnya langsung dari Arsen. Karena Gabriel tahu, Arsen tidak akan melepaskan Arini.
"Siapa?" tanya Rendi penasaran. "Gue tidak punya hak untuk ngasih tahu lo, tapi saran gue lebih baik lo mundur dari pada lo sakit hati" Rendi terdiam setelah mendengar kalimat itu dari Gabriel. Tapi Rendi bukan orang yang gampang menyerah, selagi janur kuning belum melengkung Rendi akan tetap memperjuangkan Arini. Dia siap menerima resikonya, apapun itu"
.
.
Selama bersama Arini, Rendi tidak pernah melihat Arini dekat dengan cowok lain tapi sekarang Arini sudah dimiliki seseorang. Jadi apa maksudnya? Kenapa Arini tiba tiba bisa menjadi milik seseorang? Mulutnya terasa kelu untuk menanyakannya pada Arini. Ia takut terlalu lancang untuk hal itu.
Tak lama kemudian mobil Rendi telah sampai di pekarangan rumah Wira. Arini segera turun dari mobil dengan diikuti oleh Rendi. "Kamu mau ikut masuk Ren?" Rendi menggeleng sambil tersenyum kecil. "Lain kali saja, aku harus menjemput Mama di bandara."
Rendi mengacak rambut Arini dengan gemas. "Aku pergi dulu" Arini mengangguk lalu ia melambaikan tangannya pada Rendi yang sudah mulai menjauh dari pandangannya. Saat Arini berbalik sudah ada seseorang yang menatapnya dengan tajam. Arini menghampirinya dengan raut wajah yang tidak bersalah.
"Daddy kenapa di luar? Ayo kita masuk" Arini masuk ke dalam rumah Wira, Arsen menghela nafasnya. Ia tidak suka melihat Arini bersama Rendi tapi melihat hubungannya dengan Linda yang belum selesai Arsen tidak punya hak untuk melarang Arini ini dan itu.
Arini memeluk Felina, Felina masih tidak ingin lepas dari Charles. Setelah semua keluarga besar sudah berkumpul. Charles akan segera dimakamkan. Wira dan beberapa anggota keluarga yang lain mengangkat peti Charles dan mengangkutnya ke mobil. "Oma yang tenang ya, Uncle Charles tidak ingin melihat oma sedih seperti ini"
Felina menghapus air matanya lalu menatap Arini. "Oma sayang banget sama Charles sampai Oma tidak bisa menerima kepergiannya." Arini mengelus punggung Felina. Dia juga turut bersedih dengan kematian Charles. "Saatnya kita berangkat, kalau kamu mau ikut hapus air matamu" ucap Wira.
Felina mengangguk lalu ia melepaskan pelukan Arini kemudian Felina berpindah di samping suaminya Wira, bukan hanya anggota keluarga yang hadir, rekan bisnis Charles juga turut hadir dan mengucapkan turut berduka cita.
.
.
Arini berdiri di tengah tengah Max dan Arsen. Mereka semua memakai pakaian berwarna hitam yang sesuai dengan suasana berkabung seperti ini. Arsen melepaskan kaca matanya kemudian ia semakin menempelkan dirinya pada Arini dan menghadang cahaya matahari agar tidak mengenai wajah Arini. Mata Arini terlihat berkunang kunang semuanya terasa berputar dan gelap seketika. Arini pingsan. Wira dan Felina langsung menyuruh Arsen untuk membawa Arini pulang.
Arsen mengangkat tubuh Arini dan membawanya ke mobil. Arsen akan membawa Arini pulang. Dia sangat khawatir dengan keadaan Arini sekarang. Bahkan Arsen sampai lupa untuk berpamitan, persetan dengan itu. Arini lebih penting dari pada apapun. "Jaga Arini dengan baik Mas, Arini tidak bisa panas panasan terlalu lama. Arini sangat mudah sekali jatuh sakit jika ia panas panasan" Arsen menoleh pada Arini. Bahkan mendiang istrinya dulu sempat berpesan padanya tentang kesehatan Arini dan Arsen malah melupakannya. Arsen lupa jila Arini tidak boleh panas panasan terlalu lama. apalagi tadi mataharinya sangat terik banget. "Maafkan Daddy sayang"