
Hari telah berganti, hari ini Arsen mengajak Arini untuk pergi bersamanya, ia akan menebus waktu yang telah hilang bersama Arini gara gara kesibukannya. Meskipun Arini memakluminya tetap saja Arsen tetap kekeuh. Lagi pula ia juga ingin menghabiskan waktu bersama Arini. "Lebih baik kamu segera membuat Garasi mobil sendiri, Garasiku tidak akan menampung lagi mobil mobilmu itu" ucap Arsen sambil menatap Max yang tengah sibuk mengerjakan tugas kantornya di ruang keluarga. Max mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah Arsen. "Pelit amat sih, lagian mobilku cuma numpang doang. Hanya enam mobil saja"
"Iyaa numpang doang, yang beli mobilnya pake uang siapa, sekarang tempatnya juga harus pake punya siapa" Sindir Arsen. Arsen sudah menepati janjinya dengan membelikan Max lima buah mobil untuknya. Dan sekarang ia merasa menyesal telah membelikannya karena selain menguras uangnya Max juga menguras garasi mobilnya. Arsen paling tidak suka jika mobil mobil koleksinya harus bergabung dengan mobil Max.
Max menggelengkan kepalanya lalu menutup laptopnya dan menghadap Arsen. "Kamu percaya dengan mitos gak?" tanya Max. Arsen melirik Max dengan sebelah matanya lalu menggelengkan kepalanya. "Dari kecil aku tidak percaya dengan mitos, mitos itu pembodohan. Hanya orang orang bodoh yang percaya dengan mitos, seperti kamu itu" Arsen sangat tahu kalau Max sangat mempercayai mitos. Arsen menjadi ilfeel sendiri kalau mendengar Max membicarakan mitos lagi.
"Itu bukan bodoh namanya, tapi...." belum sempat melanjutkan kalimatnya Arsen lebih dulu memotongnya. "Tapi Goblok". Sungguh, hati Max menjadi sedikit ngilu karena sedari tadi Arsen terus mengatainya. Ia hanya bisa menyabarkan diri saja. Max tidak bisa melawan duda itu lagi, biarkan saja dia dengan mulut pedasnya itu. Kemudian tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka, Max lebih memilih melanjutkan berkutat dengan laptopnya dibandingkan meladeni Arsen. Arsen terus melirik jam di tangannya, sedari tadi ia menunggu Arini yang masih belum turun turun juga dari kamarnya.
Sebentar lagi jam akan berpindah ke angka sepuluh dan Arini masih belum keluar juga. Khawatir terjadi sesuatu dengan Arini akhirnya Arsen memutuskan untuk menyusulnya ke kamarnya. "Mau kemana?" tanya Max ketika Arsen sudah berdiri dari tempatnya. "Ke kamar mandi, mau ikut?" Arsen merasa Jengah karena Max yang banyak bicara. Biasanya ia masih bisa bersikap biasa aja tapi karena ia gugup Arsen menjadi sangat menyebalkan. Arsen memang merasa gugup sedari tadi, ia tidak sabar menunggu dan melihat Arini memakai gaun yang ia belikan kemarin.
Arsen mengajak Arini untuk datang ke pesta pernikahan salah satu kolega bisnisnya, apalagi kolega bisnisnya itu juga merupakan sahabat lama ayahnya maka mau tidak mau ia harus datang untuk menghormati sahabat ayahnya itu. "Pergilah" ucap Max. Arsen hanya mendengus lalu melanjutkan langkahnya untuk berjalan ke kamar Arini.
Sedangkan di dalam kamar, Arini terlihat sangat gelisah. Gaun yang dibelikan Arsen untuknya sangat kekecilan sehingga membentuk lekuk tubuhnya yang proporsional.
Tiba tiba pintu diketuk dari luar, dengan cepat Arini mengambil selimutnya dan menutupi tubuhnya dengan itu. Arini langsung membukakan pintunya. "Kenapa lama ? Ada masalah?" tanya Arsen dari luar. "Tidak ada Daddy, hanya saja gaunnya kekecilan, Arini tidak bisa memakai yang ini" Arsen mengenyitkan keningnya ketika mendengar gaun yang ia belikan kekecilan. Sebenarnya ia asal memilih yang bagus saja dan tidak memperhatikan ukurannya, jadi salahkan saja dia. "Coba mana Daddy lihat" ucap Arsen. Arini langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, kalau Arsen sampai melihat tubuhnya dia bukan hanya melihat ujung ujungnya pasti juga meraba.
"Jangan ih, Arini mau ganti aja. Sempit Dad Gaunnya" Arsen yang merasa penasaran langsung menerobos pintu kamar Arini.
Dan sekarang Arsen hanya melihat Arini yang ditutupi dengan selimut, Arsen malah semakin penasaran ketika Arini malah menutupinya. "Buka sayang" ucap Arsen dengan suara lembutnya. Karena sudah terlanjur akhirnya Arini membuka selimutnya dan menunjukkan tubuhnya pada Arsen. Arsen cukup terkejut ketika melihat gaun itu cukup menantang, dan sempit seperti yang dikatakan Arini. Lihat saja, Bagian punggungnya terbuka dengan lebar, saat berjalan mungkin pinggulnya juga akan tercetak dengan jelas dan satu lagi, Dada Arini juga semakin sempit ketika memakai itu. "Udah kan liatnya, sekarang Daddy keluar dulu Arini mau ganti baju dulu?"
Tentu saja tidak semudah itu mengusir Arsen, karena Arsen langsung menarik Arini dan membungkam mulutnya dengan bibir seksinya. Arini telah berhasil membangun hasratnya kembali. Setidaknya sekarang ia harus mendapatkan pelampiasannya meskipun hanya di bibir. Arini memejamkan matanya saat Arsen ******* bibir atas dan bibir bawahnya secara bergantian, bau Mint yang keluar dari mulut Arsen membuatnya tambah semakin semangat. Sambil lalu tangan Arsen juga ikut meremas pinggul Arini, mereka berciuman selama beberapa menit hingga akhirnya Arini melepaskan ciumannya karena kehabisan nafas.
"Udah, sekarang Daddy cepat keluar" Arini mendorong Arsen dari kamarnya lalu menutup pintunya dejgan cepat. Ia bersandar di bali pintuknya sambil memegang dadanya yang terus berdegup dengan kencang. "Kayaknya aku harus periksa jantung deh" gumamnya.