Hot Daddy

Hot Daddy
Kembali lagi



Arini tertidur dengan pulas setelah melakukan hal itu dengan Arsen. Arsen sengaja memberinya durasi yang lama agar Arini lelah dan bisa tidur dengan nyenyak. Arsen tidak mau Arini kembali pada pikiran negatifnya. Dan ini adalah satu satunya cara untuk bisa membuat Arini lebih rileks. Dari tadi Arini banyak mengeluarkan cairan dibandingkan dirinya. Itu artinya Arini sangat puas sekali dengan junior Arsen hari ini. Arsen menarik selimut kemudian menyelimuti tubuh Arini hingga sebatas leher. Banyak bercak bercak merah di sekitar badannya akibat ulah Arsen. Arsen hanya bisa terkekeh melihat hasil karya nya yang cukup bagus. "Jangan pikirkan apapun lagi" ucap Arsen sambil mencium kening Arini. Setelah itu Arsen memilih untuk membersihkan badannya dulu dan mandi. Karena setelah ini dia akan melakukan sesuatu.


Aiden, Alea dan Rei sekarang berada di kamar Max dengan Via. Sedari tadi mereka hanya diam dan diam. Bahkan Via yang mengajak bercanda mereka pun tidak dihiraukan. Mungkin si kembar tahu kalau saat ini ibunya sedang tidak bersama mereka. "Kamu istirahat aja sana, mereka biar aku yang jagain" ucap max pada Via. Via mengangguk saja karena memang dia sudah mengantuk. Mungkin itu efek dari obat yang dikasih padanya tadi. Setelah memastikan Via tidur, Max sekarang menjaga si kembar. Dia menaruh mereka di atas tempat tidur karena di kamar mereka memang tidak ada Box bayi. Suara ketukan pintu membuat Max mengalihkan perhatiannya dari mereka. Max mengambil guling untuk memberinya batas. Kemudian dia membukakan pintu. "Si kembar ada di dalam" ucap Max. "Aku mau nitip si kembar lagi, jika nanti Arini bangun dan bertanya kemana aku. Bilang saja aku pergi ke luar kota dadakan." ucap Arsen dengan wajah yang serius


"Keluar kota dadakan? Sebenarnya ada apa ini. Aku yakin ini semua tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kantor" ucap Max sambil meneliti wajah Arsen dengan baik. "Ini tentang dia, orang yang masih ada hubungannya dengan Arini. Aku tidak ingin membiarkan mereka kembali menyakiti Arini lagi. Aku harus melakukan sesuatu untuk mereka. Karena sepertinya mereka sudah berani melawanku lagi" Yah memang Arsen dengan mereka sudah saling bermusuhan sejak dulu. Sejak mereka menyiksa Arini dan membuang Arini layaknya sampah. Arsen masih menahan dirinya untuk tidak membunuh mereka di masa lalu. Karena bagaimana pun juga mereka tetap orang tua kandung dari putri kecilnya yang sekarang sudah berubah menjadi istrinya. Tapi ternyata pikirannya di masa lalu salah. Seharusnya dia langsumg saja membunuh kedua orang itu. Daripada seperti ini. "Lihat foto ini" ucap Arsen pada Max sambil menunjukkan beberapa foto di Ponselnya. Mulut Max terbuka dengan lebar ketika melihat foto foto mengerikan itu.


Foto itu adalah foto dimana tiga dari karyawan kantor Arsen yang kehilangan kedua bola matanya, jari jari tangannya atau bahkan kedua tangannya pun sudah hilang. Yang lebih mengerikan lagi adalah ketika seorang perempuan yang dibelah dadanya dan diambil dagingnya. Max benar benar mual setelah melihat itu. Itu adalah hal yang paling sadis yang pernah dia lihat sekarang.  "Kamu yakin kalau pelakunya adalah mereka berdua?" tanya Max pada Arsen. "Mereka meninggalkan jejak yang membuat aku tahu kalau itu adalah mereka" Arsen tersenyum misterius sambil mengangkat kedua tangannya di depan wajahnya. "Sudah lama tangan ini tidak beraksi dan sekarang sudah waktunya untuk membunuh kedua orang itu" ucap Arsen.


Hal yang pertama kali Arsen lihat adalah ketiga  bayi kembarnya. Arsen mencium mereka satu persatu. Mulai dari Aiden yang menatapnya terus menerus seolah olah ada sesuatu dalam diri Arsen yang menarik perhatiannya. Rei juga melakukan hal yang sama dengan Aiden, dia juga terus melihat ke arah Arsen. Sedangkan Alea ketika Arsen sudah menggendongnya mata Alea sudah berkaca kaca dengan pipinya yang mengembung. "Putri Daddy jangan nangis ya, Daddy mau pergi sebentar. Jangan nakal ya sayang. Jagain Mommy untuk Daddy"


Arsen mencium pipi Alea dengan gemas kemudian Arsen menidurkan Alea kembali di kasur. Dia merasa berat untuk meninggalkan mereka tapi dia juga harus pergi. "Jaga mereka dengan baik Max" ucap Arsen lalu pergi. Max hanya menatap kepergian Arsen dari tempatnya. Dia menghela nafasnya panjang dan berharap sekoga Arsen baik baik saja