
Setelah mendapatkan jambu yang diinginkan, Via langsung membawanya ke dapur untuk diolah menjadi jus. Via sendiri memang mengidam jambu untuk dibuat Jus. Selain untuk dirinya sendiri dia juga akan membuatkan untuk yang lain juga. Bi Mina yang sedang menyapu lantai rumah terheran ketika melihat Via membawa satu kantong plastik berukuran besar yang di dalamnya berisi jambu merah. "Non Via bawa jambu sebanyak itu mau dibuat apa?" tanya Bi Mina sambil mengikuti Via ke arah dapur. "Ini mau aku buat jus Bi" jawab Via sambil mengambil semua peralatan yang dibutuhkan ketika membuat jus buah. "Mau bibi bantu non?" tawar Bi Mina. Via menoleh pada Bi Mina sejenak lalu kemudian dia mengangguk kecil. "Bibi tolong kupasin jambunya aja ya"
"Siap non" jawab Bi Mina dengan semangat. Sementara itu Arsen dan Arini melanjutkan obrolan romantis mereka, tidak peduli jika disitu ada Max juga. Mereka menganggap Max seolah olah tidak ada. "Daddy mau cium mommy kamu boleh?" tanya Arsen dengan wajahnya yang menghadap pada perut besar Arini. Arini tertawa geli lalu menjawab dengan menirukan suara anak kecil. "Enggak boleh Daddy, Mommy cuma punya kita bertiga" Arsen mencium perut Arini dengan gemas, dia melakukannya berulang kali sehingga membuat Max yang melihatnya tertawa masam. "Udah tua nyosor mulu kerjaannya" dumel Max. Dan siapa sangka kalau Arsen juga mendengarnya. "Kamu bilang apa tadi Max?" tanya Arsen.
"Udah Mas jangan memulai pertengkaran lagi" Arini mengelus rambut Arsen sehingga perhatiannya kembali pada Arini lagi. Daripada Max melihat kemesraan mereka lebih baik dia menyusul istrinya ke dapur. Max berjalan ke arah dapur dan menemukan istrinya yang tengah menuangkan Jus ke dalam gelas. Max memperhatikannya dari pintu tapi dia ketahuan oleh Bi Mina yang kembali lagi ke dapur. "Tuan butuh sesuatu?" tanya Bi Mina. Max menjawab dengan gelengan kepalanya kemudian dia menatap Bi Mina. "Aku hanya ingin menyusul Via saja bi" jawabnya. Setelah selesai menuangkan jus nya Via mengambil sebuah nampan dan meletakkan semua jus buah yang telah dituangkan ke gelas di atas nampan itu. "Sudah siap deh" Via langsung berbalik dan melihat Max yang sedang menunggunya di pintu masuk menuju dapur. "Ngapain Mas? tanya Via dengan bingung. "Sedang menunggu mu saja.
.
.
Via dan Max datang dari arah dapur, Arini segera bangun dari tidurannya. Kemudian dia menutupi kembali perutnya yang tadi sempat disingkap oleh Arsen untuk mencium perutnya. "Kamu bawa apa itu?" Via meletakkan nampan itu di meja kemudian dia memberikan satu gelas jus jambu untuk Arini dan Arsen kemudian dua gelasnya lagi untuk Max dan dirinya sendiri. "Jus jambu, dari tadi gue ngidam pengen jus ini akhirnya tersampaikan juga. Yah sekalian juga gue buat untuk kita berempat" jawab Via sambil menyeruput jus jambu miliknya dengan cepat. "Cobain deh Mas punyaku" ucap Via pada Max. Sebenarnya Max juga punya tapi dia juga ingin mencoba milik istrinya. Satu menit kemudian dia merasakan jus jambu yang benar benar segar dan manis, berbeda dengan miliknya yang rasanya tidak manis malah asin. "Manis banget punyamu"
"Masa sih? Punya Kak Arsen sama Arini manis enggak?" tanya Via kemudian. Arsen dan Arini sama sama mengambil gelasnya dan ikut mencobanya. "Manis kok" jawab Arini dan Arsen dengan kompak. Kemudian Max mencicipi lagi jus buah miliknya dan rasanya masih tetap sama, Asin. "Coba sini aku cobain" pinta Via. Max memberikannya pada Via. Via meminumnya dengan pelan pelan dan belum lima detik dia minum Via menyemburkan jus nya "Kok Asin sih" Max hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. Dia sendiri tidak tahu mengapa hanya jus miliknya saja yang rasanya asin. Tiba tiba Via teringat sesuatu, dia membulatkan bola matanya kemudian menyengir pada Max. "Kenapa?" tanya Max. "Oh atau jangan jangan lo kehabisan gula terus tanpa sengaja nemu bahan yang mirip gula padahal itu garam dan kamu masukin garam pada jus nya? Bener gak?" kali ini Arini bicara dengan menebak seperti apa yang ia pikirkan saat ini.
"Sepertinya Arini benar kak, aku tidak terlalu memperhatikan soalnya. Yang penting bahannya berwarna putih dan aku pikir itu adalah gula. Ya selanjutnya aku masukin satu sendok teh bahan yang aku kira gula dan ternyata setelah diminum sekarang baru aku sadar kalau itu adalah garam"
"Jadi kamu memberikan suamimu ini Jus jambu rasa garam?"
"Sepertinya begitu" jawab Via.
Arsen tiba tiba berdiri kemudian berjalan mendekat pada Max dan menepuk bahunya sebentar. "Sepertinya hari ini kamu sangat tidak beruntung Max, sudah menjelma menjadi monyet dan sekarang malah meminum jus jambu rasa garam" satu kali tepukan kemudian Arsen berlalu begitu saja sehingga membuat Max kesal setengah mati.
Arini juga beranjak dari sofa dan menatap Max dengan penuh rasa iba "Turut berduka cita atas kehilangan citra baik Anda" Arini juga melalui Max begitu saja. "Gak suami gak istri kelakuannya sama aja"
Via tertawa kecil tapi ketika Max melihat ke arahnya dua pura pura menoleh ke belakang sambil menahan tawanya dengan sekuat tenaga.