
Setelah kepergian Arsen, Angel langsung pulang ke rumahnya tanpa berpamitan dengan ibu dan ayah angkatnya itu. Ia meninggalkan pesta pernikahan mereka dengan hati yang kacau. Rasa kecewa sungguh mendominasinya di hari ini. Dan penyebab utamanya adalah karena Arsen, Arsen berubah menjadi dingin padanya. Angel langsung turun dari Taksi yang sedang ia tumpangi kemudian membayarnya. Angel berlari ke kamarnya dan mulai mengurung diri, Air mata turun membasahi pipinya, seandainya dulu dia tidak meninggalkan Arsen mungkin sekarang hubungannya dengan Arsen tidak akan seburuk ini. Dulu, Angel memang menyukai Arsen, tapi sayangnya cintanya bertepuk sebelah tangan karena Arsen hanya menganggapnya sebagai adik saja.
Angel mengambil fotonya dengan Arsen dari dalam dompetnya, ia menatap foto itu dengan nanar. Masih teringat dengan jelas kenangan indah mereka dulu, dimana Arsen belum bersikap tempramental. Arsen sangat sering bersikap manis padanya sehingga membuat mereka digosipkan pacaran oleh semua guru guru. "Seandainya saja dulu aku masih tetap bersamamu mungkin sekarang keadaannya berbeda, aku masih sayang sama kamu Arsen"
"Sebagai sahabat" lanjutnya dalam hati. Lagi pula Angel tidak mungkin lagi merebut hati Arsen karena sekarang Arsen sudah mencintai wanita lain ditambah lagi hubungannya yang tak begitu baik dengannya. Angel mengambil sebuah kotak dari dalam lemarinya kemudian membukanya dengan perlahan lahan, di dalam kotak itu berisi sebuah kotak musik. Dan itu adalah hadiah pertama dari Arsen saat Angel ulang tahun dulu. Angel masih menyimpan semua barang barang pemberian Arsen, karena dari barang barang itulah ia masih mengingat Arsen hingga sekarang.
.
Arsen menyetir mobil dengan kecepatan tinggi, tidak peduli dengan Arini yang terus merengek untuk memelankan mobilnya. Suasana hatinya sekarang menjadi buruk karena bertemu dengan orang di masa lalunya. Arsen tidak bodoh, ia masih mengingat dengan jelas siapa wanita itu. Dialah orang yang meninggalkan Arsen disaat Arsen benar benar membutuhkan dia. Arsen sangat membencinya sampai sekarang, dia masih tidak bisa memaafkan Angel. Jantung Arini berdegup dengan kencang, Arsen benar benar di luar kendali. Mobil mereka terus melaju dengan cepat, menerobos semua pengendara motor hingga banyak orang yang mengumpatinya karena berkendara dengan ugal ugalan.
"Daddy, Awas!!!!" Sebuah mobil sedan juga melaju dengan kecepatan yang sama, tapi Arsen masih tetap tak bergeming. Dengan nekat Arini membuka sabuk pengamannya dan mulai membanting setirnya dan membuat mobilnya menjadi menabrak sebuah pohon. Arini langsung memeluk Arsen agar dia tidak terluka padahal ia tahu itu bisa membuat dirinya dalam bahaya juga. Saat itu juga baru Arsen sadar, Arsen melihat Arini yang sudah tidak sadarkan diri di pelukannya, darah mulai merembes dari kepalanya karena benturan dengan kaca mobilnya. "Arini....Arini...Heyy Bangun sayang" Arsen mengguncang tubuh Arini dengan pelan berharap Arini terbangun. Tapi Arini masih tetap tak sadarkan diri.
Sekarang Arsen menyesal, gara gara kecerobohannya Arini yang menjadi korban. Arsen langsung membuka pintu mobilnya dan keluar dari dalamnya. Kemudian ia langsung menggendong Arini dengan Bridal Style, Arsen langsung menghentikkan sebuah taksi yang kebetulan lewat di depannya. "Berhenti' teriaknya. Taksi itu berhenti lalu membuka kaca jendelanya. "Maaf pak, saya sudah membawa penumpang di belakang" ucap supir taksi tersebut pada Arsen. "Cepat turunkan dia dan saya akan membayarmu lima kali lipat dari biasanya"
Supir taksi itu tentu saja tergiur tapi ia merasa sangat tidak nyaman dengan penumpang yang ia bawa itu. "Tidak apa apa pak, biar saya turun disini saja. Sepertinya bapak itu lebih butuh taksi ini daripada saya" ucap seorang wanita pada supir taksi itu. "Maaf ya bu, kalau begitu ibu tidak usah membayar. Sekali lagi maaf ya bu" setelah terjadi negoisasi antara supir taksi dengan penumpangnya itu akhirnya wanita itu turun dan membiarkan Arsen masuk ke dalamnya. "Jalan ke rumah sakit pak" ucap Arsen. Bahkan ia saja sampai lupa untuk berterima kasih.
Arsen mengeluarkan sepuluh lembar uang ratusan ribu dan memberikannya pada supir itu tanpa sepatah kata pun kemudian ia masuk ke dalam tanpa menunggu reaksi dari sopir itu. "Bagus euyyy, lumayan tiga puluh menit dapat satu juta. Anak sama bini pasti sangat senang di rumah kalau tahu tentang ini" Gumam supir taksi tersebut kegirangan.
.
.
Sesampainya di dalam rumah sakit, Arini langsung ditangani oleh salah satu dokter dan kebetulan saja dokternya itu adalah Angel, Angel tiba tiba dipanggil ke rumah sakit karena harus menghandle beberapa pasien yang tidak mungkin bisa mereka urus, karena mereka juga harus menangani pasien yang lain. Arsen mengusap wajahnya dengan kasar, sudah satu jam sejak Arini diperiksa oleh Angel dan sekarang mereka masih belum keluar. Arsen hanya bisa berharap kalau Arini akan naik baik saja. Cklekkk, pintu pun tiba tiba terbuka.
Angel segera keluar dan menemukan Arsen yang sedang menunduk, ia mencoba untuk mendekatinya dan menyentuh pundak Arsen. Angel sangat terkejut karena tiba tiba saja Arsen menghempaskan tangannya dengan kasar. Arsen mengangkat wajahnya dan menatap Angel dengan ratapan tajam. "Jangan pernah menyentuh aku lagi. Tangan kotormu tidak akan bisa menyentuh tubuhku sampai kapanpun" sengit Arsen.
"Tidak apa apa, aku tahu kamu masih sangat membenciku. Arini baik baik saja, dia hanya mengalami luka kecil saja di kepalanya" Arsen bernafas lega, setidaknya ia masih memiliki Arini untuk saat ini