
Hari telah berganti, beberapa hari kemudian Arsen kembali lagi ke hutan untuk menemui singa singa peliharaannya. Ia sudah menyiapkan semua darah dan daging yang harus ia lemparkan kepada mereka. Oleh sebab itu semua singa peliharaannya sangat jinak padanya. Arsen berjalan menghampiri semua anak buahnya yang juga merupakan satu klan dengan dia. Setelah melihat kedatangan Arsen mereka yang semula sedang menguliti seekor ular langsung berbaris rapi dan menunduk dengan hormat.
"Selamat datang kembali tuan Aerio, Apa yang bisa kami bantu untuk tuan?" ucap Mereka yang dipimpin oleh Willy. Arsen mengangguk lalu menghitung jumlah anak buahnya, semuanya lengkap tidak ada yang kurang. Karena yang lainnya ia tempatkan di sebuah tempat untuk mengatur semua emas batangnya yang menjadi sumber kekayaan Arsen selama ini. "Lepaskan semua singa singa yang dikandangi, saya akan memberinya makan hari ini"
"Baik Tuan, akan segera saya lepaskan" Sambil menunggu Willy yang membebaskan singa singanya, Arsen duduk di kursi yang selama ini menjadi singgasananya, meskipun bukan raja tapi Arsen adalah pemimpin yang harus mereka taati. Seorang pemuda remaja berjalan ke arah Arsen dan membisikkan sesuatu di telinganya. Entah apa yang dibisikkan pemuda itu yang jelas Arsen sempat tersenyum di balik topeng hitamnya itu.
"Bagus, Simpan mayat mayat itu di ruang bawah tanah, jangan biarkan mayat itu membusuk sebelum saya mengevakuasinya" ucap Arsen. Pemuda yang tak lain adalah Vernon ikut tersenyum. Selama ini ia selalu dipuji oleh Arsen atas kerja kerasnya. Tak jarang juga ia mendapatkan beberapa hadiah dari Arsen. Vernon adalah pemuda yang masih berumur 19 tahun, diantara yang lainnya ia yang paling muda disini. Arsen selalu melatih Vernon agar ia bisa menjadi sosok Mafia yang juga kuat sama sepertinya.
"Saya selalu melakukan yang terbaik untuk Anda" Arsen menganggukkan kepalanya, sambil lalu ia menepuk kepala Vernon dengan lembut. Beberapa lama kemudian Tiga ekor Singa berlarian dari kandang menuju ke arahnya, mereka menduselkan wajahnya di paha Arsen. Seolah olah mereka sangat merindukan tuannya itu. "Saya sudah melepaskan mereka tuan, sepertinya mereka sangat merindukan anda karena beberapa minggu ini tidak pernah bertemu dengan tuan"
"Perlakukan mereka dengan baik selama saya tidak ada, tapi ingat, kalian juga tidak boleh lengah. Banyak Mafia lain yang mengincar klan kita, tingkatkan keamanannya dan pasang hanyak jebakan di sekitarnya. Jika saya mendengar salah satu dari kalian lengah, maka bukan mereka yang akan melenyapkan kalian tapi saya sendiri, mengerti?"
"Mengerti Tuan" ucap Willy, Vernon dan beberapa orang lainnya. Arsen mengelus kepala singa singa itu sambil lalu ia mengambil darah yang sudah dibawanya dan diletakkannya di hadapan singa singa itu. Arsen juga melemparkan beberapa daging untuk kereka, jangan ditanya daging apa itu, karena Arsen tidak pernah memberi makan singa nya dengan daging hewan lain. Kalau boleh mengingatkan itu adalah milik Gavin.
.
.
"Bi, Tolong siapin cemilan Buat Arini sama Via ya. Habis itu diantar ke kamar aja" teriak Arini pada Bi Mina yang masih mencuci piring di dapur. "Iya Non, bentar lagi bibi siapin ya" setelah itu Arini menghempaskan tubuhnya di kasur, di samping Via yang sedang fokus mengetik tugas dari Dosen. Memang kedatangannya kesini untuk mengerjakan tugas bersama dengan Arini. "Tuh Dosen ngasih tugas emang gak nanggung, tugas yang harusnya dikerjakan selama dua minggu sekarang disingkat menjadi seminggu. Kebangetan tuh dosen. Sebal gue"
"Gak ngotak kalau dia dendam karena gue gituin, Gue pikir dia beda sama dosen dosen yang lain ternyata sama aja. Sama sama suka bikin makan hati" Via terus mengomel di sepanjang ia mengetik tugasnya di laptop.
Arini tertawa puas, kemudian ia mengambil laptopnya dan ikut mengerjakan tugasnya bersama Via. Biasanya ia sering telat mengumpulkan tugas tapi untuk kali ini ia akan menghilangkan kebiasaan Malasnya itu dan akan selalu mengerjakan tugas dari dosen tepat waktu. "Lo pake Materi Apa Rin?" tanya Via dengan matanya tak lepas dari Laptop di hadapannya. "Gue pake Materi lama, yang penting kata katanya Baku" jawab Arini.
Tak lama kemudian, suara ketukan pintu membuyarkan mereka yang sedang mengerjakan tugas. Bi Mina datang dengan membawakan Nampan yang berisi cemilan dan dua jus jeruk untuk menemani mereka. "Ini Non, bibi udah nyiapin cemilan spesial buat Non Arini sama Non Via" ucap Bi Mina sambil tersenyum dan meletakkan cemilan dan minumannya di meja samping tempat tidur Arini. "Makasih Bi, tumben nih hari ini senyum senyum mulu"
Via mendongakkan kepalanya dan menatap Bi Mina. "Pasti lagi kasmaran ya Bi? Sama Pak Tejo" Karena sering bermain ke rumah Arini, Via jadi mengenal Bi Mina dengan akrab. Bahkan ia juga mengenal beberapa tukang kebun yang bekerja disini, salah satunya pak Tejo tersebut. "Pak Tejo? Bibi suka sama Pak tejo?' tanya Arini sambil menegakkan tubuhnya.
Bi Mina semakin melebarkan senyumnya lalu mengangguk dengan malu malu. "Iya Non, tapi jangan Bilang bilang si Tejo ya? Nanti dia malah kegeeran lagi." Arini dan Via saling bertatapan satu sama lain, sepertinya mereka tahu apa yang harus dilakukan sekarang. "Kita jodohkan saja mereka" begitulah kira kira arti tatapan mereka.
"Kalau begitu Bibi mau lanjut kerja ya, selamat belajar Non'
Setelah Bi Mina keluar, Via dan Arini langsung tertawa dengan keras, mereka masih tidak menyangka Jika Bi Mina menyukai pak tejo. "Ya ampun perut gue sakit banget, kok bisa sih Bi Mina suka sama pak tejo? Mana pak tejo punya tompel gede lagi di pipinya" ucap Arini sambil menghentikan tawanya yang mulai mereda.
"Cinta itu buta Rin makanya gitu, Gimana kalau kita jodohin mereka? Kita atur mereka supaya bertemu di suatu tempat, setelah itu kita lihat reaksi mereka disaat berduaan'
"Yah gue setuju, jadi ini adalah misi kita berdua ya kan?" Via mengangguk. Kali ini mereka mempunyai misi baru untuk menyatukan kedua orang itu.