Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
98.Adek



Hingga keduanya hanyut dalam rasa rindu bercampur nafsu..Anton akan membuka tunik istri nya, sebelum suara bel rumah mengema.


"****, " Anton mengeram kesal, sedang Hilya mengatur sedikit nafas dan penampilan nya, " aku keluar sebentar ya mas!!" cup, satu kecupan lembut mendarat dibibir suaminya, membuat Anton melupakan kekesalannya nya.


Ceklek',


Hilya menyambut tamunya, segera membukakan pintu.


" Teh!!" Assalamualaikum... ahh Dini ganggu tidur siang teteh yaaa??" ucap tamu yang datang.


" MasyaAllah Dini?? kak Hilya kangen sama kamu...ihhh Ade Kaka makin cantik ajah nih!!".


" Ihh teh Hilya bisa ajah!! mana AA anton teh??.


" Ada di dalam yuk masuk!! kamu naik taksi dek??".


" Iya teh!!" tadinya mau bawa motor dilarang umi."


" Ihhh...jauh loo... masak mau naik motor?"


Dini tertawa mendengar ucapan Kaka iparnya.


Hilya tertegun sejenak melihat tawa Dini, benar kata Anton dini memiliki sedikit kesamaan dengan dirinya yaitu caranya tertawa.


"A A....... Assalamualaikum...." remaja usia 20th itu nyelonong masuk kedalam rumah kakaknya.


Anton yang mendengar suara familiar itu keluar dengan mendorong kursi roda nya.


" Ih.... kamu tu berisik dek'!!."


" Astagfirullah.... aaaaaaaaaaaaa.... kenapa AA Anton jadi mengelikan begini??".


Anton mendengus. " bisa cari bahasa yang sedikit halus selain mengelikan?? rasanya tidak enak sekali di dengar." cibir Anton mendengar penilaian sang adek dengan keadaannya.


Dini tak menghiraukan ucapan Kakanya, dini justru memerhatikan Kakanya itu dengan seksama, sampai kursi roda Anton diputarnya beberapa kali.


Jini gadis itu melihat kearah Kaka iparnya, " serius teteh masih mau sama AA Anton?? .. ih kalau Dini jadi teteh udah Dini lem biru, di lempar cari yang baru, atau paling gak di tukar tambah sama om om yang eksotis...." ucap Dini dengan wajah tanpa dosa.


Sedangkan mendengar itu, Anton menjewer telinga adiknya. " anak kecil gak usah sok nasehatin orang dewasa, lagian aku ini Kaka mu bukan barang rongsokan..hus hus..Kaka gak jadi izinin kamu tinggal disini, Kaka berubah fikiran." ucap Anton dengan tangan yang masih setia menjewer telinga adiknya.


"Aaaaa...ampun atu A..sakit nih telinga aku....AA. ...Teh tolooong!!!"


Hilya yang melihat perdebatan dua sodara itu hanya tersenyum saja, hatinya bahagia melihat betapa sayangnya Anton dengan sodarinya terlihat dari keakraban mereka.


" Panggilnya kak Hilya saja!! jangan teteh...!!"


" IYa, atau Aa gak izinkan kamu tinggal disini?"


" Ish, Aa jadi posesif banget DECH sama teh Hilya!!".


Anton menaikan satu alisnya.


"Ah, maksud ku sama kak Hilya..he.he.."Dini tersenyum Pepsodent..kini gadis itu memeluk sayang tubuh sang Kaka.


" Cepat sembuh A... biar cepat kembali bekerja, soalnya gak lama dini butuh uangnya Kaka.. ha. ha.ha...."


Pletak,


Anton menjitak kepala adeknya...


"Kak Hilyaaa...coba lihat Aa nih baru ajah mau menumpang aku sudah teraniaya.." mata dini berkedip lucu.


Hilya terkekeh... "udah-udah Ayuk kamu segera bersihkan diri, terus kita ngobrol."


"Aku kotor ya kak Hilya??".


"Tidak, tapi siapa tau kamu ingin sekedar cuci muka atau apa."


" Iya kamu itu kotor tuh buktinya banyak item-item di muka kamu!!".


Dini mendengus. " ini teh gara-gara punya Abang yang tidak becus ngejagain Ade nya..makanya aku begini!!".


Anton/ Hilya: "maksudnya...??" ucap mereka bersamaan..


" Iya, ini karena kak Anton gak bisa jagain aku makanya mukaku banyak di berakin lalat.."


" Tahi lalat bukan berak lalat... ihhh..." Anton mencubit gemas pipi adiknya..membuat Dini mengaduh berkali-kali.


.


.


.


.


Sedangkan di dalam mobil ada seorang pria yang mengendarai mobilnya , Adnan sedang menuju kerumah Anton dan Hilya untuk mengembalikan barang-barang milik mantan istrinya.


Sepanjang jalan dia belajar untuk menatap Hilya dan Anton dengan binar bahagia, agar mereka bisa percaya bahwa Adnan berniat akan mengubur kenangan masa lalunya, dan mengiklaskan Hilya untuk Anton.