
Nyatanya, Anton setelah memandikan sang Abah dan memakaikan pakaian yang layak untuk sang Abah tak lagi membawanya ke dalam kamar
Hilya menghampiri suaminya, sedikit berbicara dengan Anton yang ditanggapi dengan serius
" Yang!! terimakasih"
Hilya terseyum soft, tak diduga Anton langsung memeluk erat tubuh Hilya, membuat Hilya terkejut
AW!! Hilya meringis, perutnya begitu kencang efek terkejut, Anton begitu merasa bersalah dengan sang istri, dengan lembutnya Anton menuntun sang istri di sofa tua dimana Zizi dan sang Abah berada, percayalah karena kebahagiaan yang Anton rasakan dengan segala kebaikan istrinya dia sampai lupa kendati ada dua pasang mata yang menyaksikan drama romantis yang mereka lakukan
Anton menaikan kedua kaki Hilya kepangkuanya, sedangkan Hilya mencoba mengatur nafasnya, tampak Abah Anton begitu khawatir, sedangkan Zizi berlari mengambilkan air minum
Abah Anton hanya bisa menangis, tidak mampu berbuat banyak, ingin rasanya tangan tuanya ikut mengelus perut sang menantu yang tengah mengandung cucunya
Meskipun Abah Anton tak pernah melihat mereka secara langsung, namun sungguh sebelum beliau jatuh sakit beliau selalu mencari tau tentang Putra Putrinya, bahkan sebelum Anton menikahi Hilya Abah Anton sudah mulai mengawasinya, jadi bagai mana kehidupan Hilya dan Anton sedikit banyak beliau tau
Bahkan, saat Anton buta pun beliau tau, hanya saja untuk sekedar menyapa saja beliau tak berani, karena terlalu malu pada Putra Putrinya, jadi ketika melihat Hilya saat ini beliau begitu bersyukur, Anton memiliki istri yang berhati malaikat
Abah Anton juga bisa merasakan kehadiran Anton bukan lah kemauannya sendiri, terlihat sekali dari cara Anton melihatnya untuk pertama kalinya, meski setelahnya sepertinya Anton melakukan semuanya dengan kesadaran diri nya sendiri, tetap saja ada Hilya dibalik semua ini
"How about now??"
"Better"
" Maaf!!" ucap Anton penuh penyesalan
"Assalamualaikum." terdengar suara salam dari luar
Anton menuju pintu, betapa terkejutnya Anton melihat begitu banyaknya orang dan berbagai macam alat medis yang berada ditangan mereka
" Ayah mertua tidak dirawat di rumah ini Dok!!" ucap Hilya dari balik punggung Anton , saya sudah meminta penjaga villa untuk membersihkan villa saya, kita langsung menuju kesana saja!!" ucap Hilya sambil tersenyum
Beberapa perawat masuk menghampiri Abah Anton dengan membawa tandu darurat, tanpa kata mereka langsung membawa Abah Anton menuju mobil sehat itu
Sedangkan terlihat raut sedih dari pandangan Zizi, Hilya menghampirinya
" Mba, Mba Zizi ikut ke villa ya!! selama ini mba Zizi senang merawat Abah, saya sengaja tidak membawa Abah kerumah sakit agar Mba dapat menjaga beliau tanpa banyak menghirup aroma obat, disana sudah ada perawat, Mba hanya bertugas memantau Abah saja, oh ya saya akan berikan ponsel untuk Mba, Mba nya tidak perlu khawatir saya akan memberikan nomor saya agar ketika terjadi sesuatu Mba bisa hubungi saya"
Zizi masih tampak bingung, Hilya mengengam tangan Zizi, "Mba jangan khawatir Mba disana juga akan dirawat oleh perawat khusus, agar Mba dan kandungan Mba bisa sehat dan terurus"
"Tapi Zahra masih mulung!!" ucap Zizi menunduk
Ucapan Zizi membuat Anton dan Hilya kembali terenyuh, bagaimana bisa anak seusia sekolah justru mulung?? pemikiran Hilya dan Anton sejalan dan sama
" Kami hanya mengandalkan Zahra untuk membeli kebutuhan hidup," ucap Zizi menangis pilu, "saya tidak akan pergi tanpa Zahra"
Hilya ikut menitihkan air matanya, dia menangis di dada bidang Anton, sedang Anton hanya mampu menahan sesak melihat kondisi keluarga Abah nya yang memprihatinkan