
Hilya POV end
Adnan bergegas merapikan pekerjaan nya, jam kerja masih belum usai tapi Adnan sudah bertekad ingin segera menyusul sang istri, bukanya tidak profesional, tapi memang mertuanya sendiri yang memintanya untuk segara kerumah keluarga mendiang sahabat nya itu
Seperti biasanya para karyawan menyapanya saat berpapasan, Adnan hanya mengangguk ataupun mengangkat tangan nya, tak sekalipun Adnan tersenyum ataupun beramah tamah, begitulah sosok Adnan 10th belakangan ini, dirinya tertutup dari banyak hal, banyak yang menyebutnya CEO tanpa ekspresi, di kantor Papa Hilya Adnan hanya sebagai Direktur sementara, Adnan akan segera kembali ke London, mengurus segala sesuatu disana, tapi tidak dalam waktu dekat mungkin beberapa hari kedepan
Meninggalkan area kantor, Adnan mulai membelah jalanan menggunakan mobil sports miliknya, Adnan bukanya terlalu memamerkan kekayaannya, tapi mobil tersebut Adnan dapatkan dari seseorang yang berhutang uang padanya, saat sang penghutang tak mampu membayar, maka Adnan di berikan mobilnya sebagai ganti rugi. yaaa.... kurang lebih seperti itu kisahnya
Saat sampai di kediaman tempat Dini tinggal, banyak sekali orang-orang yang sedang berdatangan ke tempat itu, Adnan segera memakirkan mobil nya lantas segera berjalan kedalam rumah Dini
Melihat kedatangan Adnan Dini segera memberitahukan Kaka iparnya
" Kak Hilya.. mas Adnan datang!!"
Hilya yang mendengar Adnan datang sedikit terkejut, apa Adnan sudah akan menjemput nya?? bukankah baru beberapa menit yang lalu dirinya izin pergi??'
" Kak!! kok malah bengong?? tu kasian mas Adnan kayaknya sedang cariin keberadaan Kaka Hilya loo!!" Dini menyentuh pundak Hilya
" Aah iyaa dek'.. kak Hilya kesana dulu yaa!!" Hilya dengan langkah ragu menuju ke arah Adnan yang sedang celingukan .
Dini yang melihat tingkah Kaka iparnya hanya mengelengkan kepalanya
" Kenapa ??" tiba-tiba Zahfran bertanya dengan khawatir
Dini mengeleng " lihatin kak Hilya mas, di kasih tau mas Adnan datang eeee malah bengong!!" ucap Dini pada Zahfran
Zahfran tersenyum dan menangkup pipi istrinya
Dini membalas senyum suaminya
" Enggak mas!! cuma lagi cari Umi ajah tadi. Dini mengengam tangan Zahfran yang sedang menangkup pipinya
" Duduk yaaa.. gak lama acaranya dimulai!!" Zahfran menuntun Dini kearah tamu-tamu, Dini hanya tersenyum dan mengikuti suaminya.
Sedangkan Hilya telah sampai di dekat Adnan
" Mas!!" tegur Hilya yang melihat Adnan yang masih celingukan
" Dek!!" Adnan langsung tersenyum manis
" Orang-orang di dalam !! kita masuk ajah ke ruang keluarga!!" ajak Hilya canggung
Saat Hilya akan melangkah terlebih dahulu, Hilya melihat Mama dan Umi sedang berada di dekat ruang keluarga, mau tidak mau Hilya menunggu Adnan turut melangkah bersama nya
Adnan yang melihat Hilya berhenti melangkah sedikit bingung, tapi rasa bingungnya tergantikan dengan rasa bahagia, tak disangka Adnan saat tangan lentik istrinya menarik lenganya dan mendekap lengan itu kemudian kepala sang istri menempel di pundaknya
Jangan ditanya bagaimana perasaan Adnan, rasa bahagia itu begitu bergemuruh, ritme jantungnya berdedup kencang, Adnan sampai tak mampu mengungkapkan perasaannya, perilaku Hilya itu begitu berpengaruh terhadap tinerja jantungnya, Adnan berharap semoga dengan begini dirinya tak akan di vonis sakit jantung
Belum lagi saat senyum manis Hilya terlihat saat Adnan mencoba melirik kearah istrinya, rasanya Adnan ingin menghentikan waktu untuk saat ini, berharap ini bukan mimpi atau sebuah khayalan nya saja
Tapi Adnan yakin ini nyata karena saat ini dirinya sedang kesakitan karena ulahnya sendiri .. Adnan menggigit lidahnya kecil, demi memastikan ini sebuah kenyataan