
Hilya tetap tak bergeming, tanganya terkepal kuat mendengar ucapan Anton, Anton begitu egois
Pemikiran suaminya tak dapat Ia terima, boleh berbohong tapi jangan keterlaluan, bagi Hilya kebohongan Anton dan keluarganya saat ini melukai harga diri nya, mereka seolah meremehkan ketulusan Hilya
Dan sifat pengecut Anton, membuat Hilya sakit hati, menyembunyikan keadaan dirinya yang sedang sakit keras itu bukan mainan, seandainya Hilya adalah wanita bodoh, percaya saat Dini mengabarkan kalau mengetahui hubungan gelap kakaknya, menerima kabar burung itu mentah-mentah tanpa mencari tau kebenaran apa dirinya tak dirundung duka saat itu??
Kepandaian dan cara berfikir yang bijak Hilya sengaja mematikan panggilan ponselnya saat Dini yang mengangkat nya seminggu lalu, dengan lincah tanganya melacak Keberadaan ponsel suaminya , berlanjut melacak ponsel Dini dan Zahfran, tiba-tiba mendapat kabar dari papanya kalau Anton ingin mengembalikan nya
Sedang dirinya mengetahui hari itu juga bahwa Anton berada di rumah sakit, setelah melacak ponsel ketiganya Hilya mencari informasi tentang keadaan Anton, hari itu juga Hilya tau bahwa Anton telah berobat di sana sudah mulai 1 bulan yang lalu, menjadi pasien tetap Dokter Fauzan, Tapi Anton selalu pulang sesuai jam kepulangan kantor untuk membodohi nya, perlu digaris bawahi MEMBODOHI NYA
Kekecewaan Hilya karena Anton seolah mempermainkan sebuah kematian dan juga pernikahan, bagaimana bisa Anton mengugat cerai dirinya, meski itu rekayasa tapi hati Hilya begitu sakit, Anton melukai harga dirinya begitu dalam.
" Hilya !! layani aku sekarang!!" suara Anton membuat dada Hilya sesak, apa penyakit membuat Anton begitu egois??
Tubuhnya berbalik menatap nyalang Anton yang sedang berbaring
Langkahnya mulai mendekati brangkar, air matanya mengalir deras, Hilya tak berniat menghapusnya, biarlah Anton tau bahwa Hilya begitu terluka
Anton terdiam , menahan sesak di dadanya, pemandangan istrinya menangis membuatnya di hantam rasa bersalah, tetapi ini satu-satunya cara agar Hilya kembali menerima dirinya
Hilya mendekat, tapi tak juga menghampiri Anton, Anton meraih telfon genggam nya
(" Zan izinkan aku pulang , untuk hari ini saja")
(*. ...........................)
(" Aku tunggu!!")
Ruang rawatnya terbuka menampilkan sosok Dokter tampan yang usianya tak jauh beda dengan Anton
" Hilya!!"
Hilya menghapus air matanya, dan menampakan senyum manis untuk rekan se profesi nya dulu
Fauzan menatap Anton dan Hilya bergantian
" Ini yang kau harapkan Ton!! membuat istrimu menangis karena kebodohan mu, sudah aku peringatkan ber kali-kali!!"
Fauzan melepaskan infusan Anton dengan mengomelinya, sebaik inilah hubungan Anton dan rekan kerjanya dulu, bahkan sekedar melepaskan infusan harusnya susterpun bisa, tapi Fauzan melakukan nya sendiri untuk Anton
Anton mencabikkan bibirnya, kesal dengan ucapan Fauzan, temanya ini malah menjadi kompor lagi
Usai melepaskan infusan Anton, Fauzan mendekati Hilya " ingatkan Anton jika ingin berulah, dirinya tidak boleh terlalu kelelahan, tidak ada larangan untuk beraktifitas asal tubuhnya mampu, saya titipkan pasien saya kepada anda Dokter Hilya!!" canda Fauzan yang membuat Hilya tersenyum.
" Ton!! untuk kali ini, kembalilah kesini dalam keadaan yang lebih baik dari sebelumnya, kita akan jadwalkan kemo berikutnya setelah memantau beberapa hari kedepan, selamat bersenang-senang sobat!!" Fauzan memberikan hormat layaknya upacara bendera
Anton tersenyum, mengangguk segera memberi kode agar Fauzan segera pergi, yang membuat Fauzan memutar bola matanya malas
" Mentang-mentang udah ada Hilya, aku di usir usir gitu!!"
Anton mendelik menatap temanya, membuat Fauzan tersenyum geli sebelum berpamitan pergi pada Anton dan Hilya