Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
183.Tidak ingin berobat



" Yang!!" Anton menarik pergelangan tangan Hilya


" Nas sudah siap??"


Anton mengangguk


" InsyaAllah"


Paska satu bulan rawat jalan, kini Fauzan telah menjadwalkan kemo kedua untuk Anton, sebenarnya kemo di jadwalkan 3hari yang lalu, tetapi karena Anton sempat drop maka kemo di undur menjadi hari ini


Hilya menghampiri suaminya yang duduk di kursi meja rias


" Apa aku sudah tak setampan dulu Yang??"


tanya Anton menatap Hilya dari pantulan cermin


Hilya mencium pipi Anton dari belakang


" Mas Anton selalu tampan !!"


Hilya merangkul Anton dari belakang , sudah sering Hilya membujuk Anton untuk berobat di luar negri, tapi Anton bersikeras ingin berobat di dalam negeri saja, setiap Hilya membujuk pasti berakhir dengan keadaan Anton yang tiba-tiba drop


Senyum Anton mengembang, Anton membalikkan tubuhnya menghadap Hilya


" Aku malas kemo Yang!! nanti ujung-ujungnya badanku tambah sakit semua!!" keluh Anton


" Efek kemo memang begitu kan mas!! mas Anton harus semangat doooong!! demi aku... demi Khansa... " ucap Hilya lirih, ingin sekali Hilya menangis saat membahas seperti ini, kerap kali Anton tidak mau melanjutkan pengobatannya lantaran terlalu takut dengan efek kemo


" Ah Iya ya!!" Yaudah yuk Yang !! Umi dan yang lain sudah dirumah sakit Yang??"


" IYa mas!! tadi Zahfran katanya menjemput umi dulu baru Abah!!" Hilya terseyum menggamit lengan Suami nya


.


.


.


.


Tiba di rumah sakit


Keluarga Anton dan Fauzan telah menunggu mereka


" Zan apa setelah kemo aku bisa langsung pulang??" Anton bertanya seperti seorang pasien biasa yang tak pernah mengenal dunia medis


Fauzan menatap Hilya , seolah mencari jawaban dari istri Anton, Hilya tampak menganggukan sedikit kepanya


"Aamiin" jawab mereka serempak


" Kita bersiap yaa!!" Fauzan mengambil alih kursi roda yang di dorong suster yang akan membawa Anton ke dalam ruangan khusus.


Anton menatap wajah istrinya, mengelus lembut pipi Hilya sebelum duduk di kursi roda yang tersedia untuk nya


Anton tak mau di temani , jadi baik Hilya dan yang lainya menunggu di luar ruangan


2jam berlalu , Fauzan akhirnya keluar dari ruangan


" Zan??" Hilya menatap lekat dokter yang menangani Suaminya


" Tadi Anton sempat muntah-muntah, tapi kini sudah stabil, bulan lalu lebih parah dari ini Hil kamu tenang saja!! InsyaAllah semua akan baik-baik saja!! Anton sekarang masih tertidur" Fauzan menjelaskan begitu detail pada Hilya


Hilya tersenyum pada Fauzan dan kembali duduk di kursi bersama dengan yang lain


Hilya tampak merenung di tempatnya, tak ada yang tau apa yang difikirkan wanita cantik itu, hingga umi Anton memberitahukan jika Anton menanyakan dirinya


Hilya melangkah memasuki kamar dimana Anton berada


" Yang!! kita bisa langsung pulang kan??" Anton bertanya tak sabar pada Istrinya


" Kita tunggu hasilnya sebentar ya mas!!" Hilya berkata sabar


Anton ingin duduk tapi Hilya mencegahnya


" Istirahat dulu mas!! biar gak terlalu lemas!!"


" Aku mual Yang!!


" IYa gak papa, kalo mas Anton mau muntah , di muntahin saja biar lega." Hilya mengelus tangan Anton yang bebas dari infusan


huek


huek


huek


Anton hanya mengeluarkan suara seperti akan muntah, tapi sedikitpun tidak ada yang keluar dari mulutnya


Hilya menatap prihatin suami nya, ini sebabnya Anton tak mau kemo karena efeknya akan membuatnya mual muntah hingga lemas tak bertenaga


Suara hendak muntah itu terus terdengar hingga berpuluh puluh menit, wajah Anton sudah sangat pucat, bahkan Infusnya sudah di tambah 1 kantong


Anton terkulai lemas di pembaringan, Hilya hanya mampu menggenggam tangan suaminya