
Di luar ruangan ada seorang pria yang menangis sesenggukan, tak hanya itu wajah Pria itu seperti mayat sangking pucatnya, sudah dua jam keadaan nya begitu menghawatirkan, disampingnya ada gadis kecil yang setia menemaninya.
" Ayah jangan khawatir, Bunda dan adik pasti baik-baik saja!!"
Pria pucat itu menoleh
" Aamiin, Ayah sayang Khansa" ucap Pria itu yang tak lain adalah Adnan, sambil memeluk sayang tubuh putrinya.
Adnan sedang berada di rumah Sakit, sejak pagi Hilya merasakan kontraksi, Adnan begitu panik, pembukaan Hilya yang semakin dekat kelahiran, membuat Hilya mulai kerap merasakan kontraksi, beberapa kali Hilya mengerang kesakitan, membuat Adnan kian cemas dan tambah waktu erangan Hilya kian kuat membuat Adnan dilanda cemas berlebihan, Adnan sampai muntah-muntah, rasa sayangnya yang begitu besar pada sang istri membuatnya tak mampu menahan beban fikiranya yang terlalu khawatir, Adnan menangisi keadaan istrinya, beberapa kali Adnan memohon agar dokter memberi obat pereda nyeri untuk sang istri, melihat Adnan yang histeris
sang Ibu memintanya keluar dari ruangan sampai Hilya siap melahirkan.
" Nak, sudah waktunya" Ibunya memberi tahu
Adnan berdiri dari duduknya
" Bu.. apa istri dan anak ku akan baik-baik saja,??"
Ibu Adnan menepuk pundak anaknya
" Masuklah, Hilya sudah menunggu mu!!
Adnan bergegas masuk kedalam ruang persalinan
" Dek' sayang!!" Adnan langsung menggenggam tangan istrinya, tangan Adnan yang begitu dingin bertemu dengan tangan hangat Hilya.
" Mas'!!' Hilya mendongak.
Adnan menelan air liurnya yang saat ini terasa seperti butiran duri, melihat keringat membanjiri pelipis istrinya.
Ini pertama kalinya Adnan menyaksikan proses kelahiran, dan ini juga pertama kalinya Hilya melahirkan normal, jadi keduanya masih sama-sama belum berpengalaman.
" Ambil nafas Bu!!" Dokter mulai menjalankan peran nya.
Wajah Adnan menegang
Hilya mengikuti instruksi Dokter.
Beberapa waktu, air ketuban Hilya pecah, di iringi dorongan-dorongan alami dari sang bayi.
Hilya mengejan dengan sekuat tenaga, nafasnya terengah, Adnan terlihat begitu menyedihkan, istrinya mengejan dirinya malah menangis sesenggukan.
" Ayo Bu kepalanya sudah terlihat!!" Dokter memberi semangat.
Hilya kembali mengatur nafasnya, kali ini Hilya sedikit mengangkat kepalanya, mengejan sekuat tenaga, mengambil nafas lagi, mengejan lagi, begitu seterusnya, hingga akhirnya suara tangis bayi memenuhi ruangan itu.
Genggaman tangan Adnan terlepas, Adnan terduduk lemas di samping ranjang bersalin Hilya..
Melihat betapa keras perjuangan sang istri demi melahirkan buah hatinya membuatnya merasa bersalah, belum lagi darah yang sempat di lihatnya yang begitu banyak membuat Adnan hampir sesak nafas.
" Alhamdulillah bayinya laki-laki, sehat dan sempurna".
Suara dokter mampu menghipnotis Adnan untuk kembali berdiri
Adnan melihat Hilya yang tengah tersenyum padanya, dan putranya sedang berada di atas dada sang istri untuk diberikan (IMD) pada putra mereka.
" Mas minta Maaf,!!" Adnan menciumi wajah istrinya.
" Hilya mengangguk, Hilya sebenarnya tak mengerti mengapa tiba-tiba suaminya meminta maaf, tapi untuk bertanya saat ini Hilya masih terlalu lelah.
Beberapa saat setelah putra dan Hilya usai dibersihkan
suster menyerahkan bayi mungil yang masih merah itu kepada Adnan untuk di azani
Dengan bersimbah air mata bahagia Adnan melantunkan Azam Untuk sang putra.
'Azka Abbiya Dhiaulhaq' nama yang di siapkan Adnan dan Hilya.
" Sayang Putra kita" Adnan mendekatkan pada sang istri, Hilya yang sedang duduk bersandar tersenyum
"Mas mencintaimu, Khansa, dan Azka" bisik Adnan sembari mencuri cium pipi Hilya.
Setelah beberapa proses akhirnya Hilya dan Adnan kembali kerumah, keluarga besar tengah berkumpul menyambut kelahiran Azka, Bapak Adnan, dengan binar gembira menyambut cucunya di Depan pintu. Adnan dan Hilya tak mampu menyembunyikan kebahagiaan mereka.