Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
138.Jangan terkeco



"A, Kak, kami pulang dulu yaa!!" Dini memeluk sayang Kaka iparnya. " Kaka kesayangan aku harus cepat sehat yaa kak, Dini kangen masakan Kaka hehehehe."


Anton hanya mengelengkan kepalanya melihat ucapan sang adek.


"A, kak, ana juga mohon diri." ucap Risqi dengan sopan.


" Hati-hati, ingat RIS!!" jangan tergoda dengan rayuan setan genit yang suka merayu mampir sana sini, langsung antarin Dini pulang, setelah halal terserah kalian mau jalan kemanapun, selagi belum jangan!!"


" Aku ya A yang Aa maksud setan genit??" aku cuma mau mampir beli donat ajh Lo padahal, dan lagian A Risqi tadi udah setuju lhoo...!! awas ya A kalo dibatalin gara-gara ucapan A Anton" ancam Dini pada Risqi yang di balas Risqi dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


Sedangkan Anton hanya mampu menghela nafasnya dalam.


"Udah gin RIS segera kamu halalkan nih bocah, biar gak ikut nanggung dosanya aku nih!!"


"Is!!" Dini bersendu jengah. sedangkan Risqi hanya mampu tersenyum malu.


Ponsel Anton berdering, membuat perbincangan hangat mereka terhenti, Anton segera mengangkat panggilan dari ponselnya, wajah Anton begitu datar dan sesekali melirik ke arah Hilya.


Setelah pangilan selesai, tampak wajah Anton berubah murung.


"Ada apa A??" pertanyaan dini mewakili semua orang yang berada di ruangan Hilya, termasuk Hilya sendiri.


" Ada masalah di Padang, aku diharuskan kesana secepatnya." ucap Anton sendu.


" Jangan kemana-mana!! tetap disini dan jangan terkeco dengan berita apapun." bukan orang yang berada di ruangan yang sama yang menjawab, melainkan suara ngebas yang berasal dari arah pintu.


Aura kepemimpinan begitu kental disetiap Nada bicaranya yang penuh ketegasan.


"Pa!!" baik Hilya maupun Anton merasa lega melihat keadaan sang Papa yang tidak mengalami luka sedikitpun.


" Ton!! Papa sempat melukai wanita itu, tapi sayang dia dapat melarikan diri, tapi bisa Papa pastikan keadaan nya pun tak jauh beda dengan Hilya, papa melukainya sama seperti apa yang dia perbuat kepada putri semata wayang Papa, seandainya membunuh tidaklah dosa, papa dengan senang hati membunuh wanita itu dengan kedua tangan papa ini."


"Jangan kamu perdulikan berita apapun mengenai perusahaan, bisa jadi itu taktik mereka agar dapat menjauhkan mu dari istri dan anakmu, papa khawatir kali ini wanita brengsek itu justru akan melukaimu, oleh sebab itu Papa memberikan kalian pengawalan ketat, selama wanita itu belum masuk ke deruji besi."


"Anton!! kamu bukan hanya menantu papa, sekarang kamupun telah menjadi seorang Ayah, jika terjadi sesuatu pada mu, bukan hanya kami yang bersedih, untuk sementara waktu Papa akan ambil alih kembali perusahaan, tugas mu adalah menjaga kedua Tuan putri selama mereka dirawat, untuk keselamatan mu, papa akan memberikan 6 bodyguard yang menyamar sebagai Dokter dan perawat, kamu bisa mengetahui mereka melalui kode dari ke enam nya."


"Ingat Anton, Papa menyayangimu tidak sebagai menantu tapi sebagai putra penerus Papa." ucap Papa Hilya dengan menatap lekat wajah sang menantu.


Tidak hanya Anton yang terharu, Dini dan Risqi pun ikut terharu melihat kasih sayang papa Hilya kepada Anton.


Papa Hilya beralih menatap Dini dan Risqi.


" Untuk sementara kalian bisa tinggal di rumah , Papa juga khawatir Dini jadi incaran Mariani, Dini kamu adalah adik Anton berarti putri Papa juga, kata Umi kalian akan memajukan acara akad, kalian bisa laksanakan malam ini juga, tapi tetap kalian harus berada di rumah Papa."


"Nak Risqi, mohon maaf sebelumnya , kamu masuk keluarga kami saat sedang terjadi konflik begini, Papa harap ini bisa menjadi awal kekuatan rumah tangga kalian."


Anton terkesima dengan ucapan papa mertuanya, begitu berbaik hatinya papa Hilya mengangap konflik dari keluarganya termasuk tanggung jawabnya, bahkan bersedia meminta maaf.