Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
151.Dilemma



Kini giliran Risqi yang terkekeh pongah.


"Pikirkan dulu, jika kau mau mengantikan posisiku untuk Dini, siapa kamu??


Kau dan aku beda jauh Broo!! Aku berpendidikan, sedangkan cuih .." Risqi bergaya meludah jijik, "Penampilan berandalan sepertimu itu mencerminkan identitas rendahan!!"


Kali ini sifat asli Risqi mulai terlihat, topeng sok alim, dan perkataan lemah lembutnya sudah tak ada lagi, sifat dan perkataan nya berbeda seratus delapan puluh derajat.


"Dan yaaa.. aku manusia waras, tidak memiliki ganguan mental seperti mu, jelas aku lebih layak dari pada pria brandalan dan setengah gila kayak kamu"


DEG'


Ucapan Risqi begitu mengena dihati Zahfran, kata ganguan mental itu seperti menyadarkan dirinya akan jiwa lain yang kerap kali muncul saat dirinya tertekan, meski terkadang kumatnya Zahfran itu juga saat tekanan batin dan ketakutanya di batas maksimal, bukan disaat sembarangan, nyatanya hati Zahfran tetap merasakan cubitan tak kasat mata atas perkataan Risqi .


Serempak semua menoleh untuk menatap Zahfran, mereka menatap Zahfran bukan dengan pandangan mengejek seperti Risqi bukan pula tatapan kasian namun lebih seperti rasa khawatir, begitupun dengan pandangan Dini, yang seolah begitu terkunci untuk Zahfran.


Zahfran tersenyum ironis.


"Tak perlu mengingatkan akan hal itu, aku cukup sadar diri, setidaknya itu ujian hidupku yang harus kulalui dan tidak ada hak mu untuk menghakiminku." kali ini perkataan Zahfran lebih seperti peringatan


"Hahaha.. kau malu aku ingatkan bahwa kau memiliki dunia lain?? dunia orang gila tepatnya Haaahaha.."


"Cukup!!" Dini berdiri dari duduknya dan


Plak' Plak' dua tamparan sekaligus Dini layangkan di wajah babak belur Risqi, Risqi terlihat mengeram kesal, sayang tanganya di pegang erat oleh Adnan


"Apa hak mu menghina penyakit yang di derita orang lain?? heiii...!!" Dini menunjuk wajah Risqi


"Apa yang dapat kamu banggakan dari hasil pendidikan mu yang tinggi?? nyatanya moralmu jauh lebih rendah dari pria yang tak berpendidikan!!"


" Apa kau bilang?? kau jauh lebih layak untuk ku? jangan besar kepala kamu, saat ini juga aku tidak Sudi menikah dengan mu.. camkan itu."


Dini menyelesaikan ucapanya dan kemudian mendesah berat.


"A.. bagaimana??"


"Hmm??" Anton menatap wajah adeknya yang sedang bertanya.. "Bagaimana apanya??. Aa terserah padamu saja Din!!".


"Ok kalau begitu aku bersedia!!"


Semua menoleh ke arah Dini, bingung dengan ucapan bersedia yang tiba-tiba dini ucapkan.


"Bersedia apanya??" tanya Anton


"Bersedia jadi istri Zahfran lah A, kan tadi dia khitbah aku."


Zahfran tersendak liurnya sendiri.. "Ka kapan aku khitbah kamu??"


Kini giliran Zahfran yang jadi pusat perhatian.


"CK, kau tadi katakan kalau kau mau jadi pria penganti Risqi untuk ku!!"


" Ee ehh ..GK ya.. aku gak ada ngomong gitu!!"


"Tapi aku juga mendengar nya!!" ucap Adnan


"Aku juga!! Hilya


"Ka Zi juga fran!! Zizi


Zahfran menelan ludah gugup menatap wajah Anton yang menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa, sedang Risqi menatap dengan penuh amarah.


"Jadi?? apa kau siap meng khitbah Dini pada Umi..?? dan ya.. menikah bukan hanya rasa tapi juga tangung jawab Zahfran!! apa kau siap untuk itu semua??" ..


Anton bukan tidak mempercayai kesungguhan Zahfran ataupun kemampuan Zahfran, hanya saja sebagai seorang Kaka sudah selayaknya Anton memperingatkan pada pria yang hendak melangkah mengambil alih tanggung jawabnya