
"Kek!! " tegur Adnan.
Kakek Adnan mendengus. "hanya itu satu-satunya syarat dari ku .. kamu tidak akan menikah dengan Rena, apabila dalam setahun istrimu ini telah hamil." ungkap kakek Adnan dengan nada tinggi.
Mendengar itu, Adnan, Hilya dan seluruh keluarga Adnan yang berada diruangan itu, hanya terdiam. sedangkan terlihat 2 wanita yang nampak begitu bahagia, siapa lagi kalo bukan Rena dan Ibunya.
Adnan meraih tangan Hilya. "kita harus yakin bahwa kekuasaan Allah itu begitu nyata.
kita berdoa semoga Allah mengizinkan kita segera mendapatkan keturunan."
Meski berat hati akhirnya Hilya mengangguk.
Setelah Adnan dan Hilya mengobrol dengan beberapa anggota keluarga Adnan, akhirnya beberapa saat mereka berpamitan untuk kembali ke hotel.
Rencananya besok mereka akan pergi ke Bali untuk melakukan bulan madu.
Meskipun Adnan dan Hilya tampak lebih bahagia, namun tak dipungkiri ada rasa khawatir di dalam hati mereka masing-masing.
Siapapun tau bahwa kehamilan adalah rejeki dari Allah, tidak satupun orang yang dapat memprediksi kapan dan secepat apa mereka akan segera diberi keturunan.
Waktu setahun tidaklah lama, namun baik Adnan dan Hilya memasrahkan semua kepada Allah. semoga Allah segera memberikan mereka sebuah kepercayaan.
.
.
.
Sesampainya di hotel Adnan meraih tangan istrinya, memohon maaf atas segala sesuatu yang terjadi.
Hilya terseyum, dan dengan iklas memaafkan.
"Terimakasih" ucap Adnan tulus.
Hilya terseyum lembut, kemudian berjalan mendekati sebuah cermin yang berada di dekat kamar tidur.
Adnan mendekati tubuh Hilya, pandangan nya fokus kedalam cermin yang menampakkan pantulan dirinya dan Hilya.
Adnan memutar tubuh Hilya dengan pelan, mengelus lembut rambut istrinya itu, Hilya tampak terbawa suasana, tanganya melingkar di leher suaminya.
Adnan mendekatkan wajahnya pada wajah Hilya, membuat Hilya spontan menutup matanya. Adnan terseyum melihat istrinya memejamkan mata, Sapuan lembut jempol Adnan menelisik wajah Hilya.
Pandangan Adnan fokus ke bibir Hilya yang sedikit terbuka, dengan gerakan lembut Adnan menempelkan bibirnya pada bibir sang istri.
Kecupan mesra dan penuh gairah, Hilya ikut berpartisipasi, kini tangan Hilya mulai menjelajah turun ke dada suaminya. elusan itu membuat Adnan terbuai.
Bibir Adnan mulai lebih berani ciuman lembut kini berubah menjadi ciuman yang lebih menuntut, cecapan , hisapan, dan gigitan gemas Hilya rasakan.
Hingga tak disadari sebuah ******* lolos dari bibir Hilya, sedang Adnan yang mendengar suara ******* istrinya semakin bersemangat, hingga tanpa mereka sadari, kini keduanya telah sama-sama tak berpakaian.
"Bismillah ... saya akan mulai."
Hilya terseyum, sebagai jawaban.
Adnan memulai penyatuan mereka dengan pelan dan sabar hingga terjadilah yang seharusnya terjadi.
sampai beberapa saat akhirnya Adnan ambruk di samping tubuh istrinya.
Keduanya sama-sama terengah-engah, namun raut kepuasan terlihat dari keduanya.
Hilya tidak menyangka bahwa akhirnya dia benar-benar menjadi istri dari seorang Adnan Seutuhnya. dalam hatinya berdoa semoga dari penyatuan mereka, dapat segera membuahkan hasil.
Adnan pun tak kalah bahagianya, wanita clengekan dan urakan yang selama ini begitu ia abaikan pada awalnya, justru sekarang begitu ia kagumi itu, telah menjadi miliknya seutuhnya.
Adnan memeluk tubuh polos Hilya, membenamkan kepala Hilya ke dalam dadanya.
"Terimakasih..sudah menjaganya untuk saya, maaf bila tadi saya sempat menyakiti mu hmm!!"
Hilya mengangguk dalam dekapan suaminya, Hilya berharap semoga ini adalah awal kebahagiaan mereka.