
" Mas??" bibir Hilya bergetar mengucapkan kalimat mas dari bibirnya, tentu Hilya khawatir, kenapa tiba-tiba Adnan menangis
Tangan lentiknya menyapu lembut wajah sang suami
"Apa ucapan-ucapan ku barusan membuat mas Adnan terluka??"
Adnan tersenyum dalam tangisnya, gelenyer aneh memenuhi relung hati Hilya, ingatan tentang mendiang suaminya yang sering menangis sambil tersenyum kembali berputar di fikiranya
apa lagi ini ya Allah...kenapa banyak hal yang kini mas Adnan lakukan justru semakin mengingatkan aku akan mendiang suamiku??"
Angan Hilya tak sampai membuatnya hilang fokus, Hilya menyadari saat Adnan menarik pinggang rampingnya merapat ke tubuh tegapnya
Hembusan nafas itu kian memenuhi pendengaran
Jarak diantara keduanya kian menipis, kini Hilya dan Adnan benar-benar tak berjarak
" Mas mencintaimu" Hilya memejamkan matanya saat terpaan nafas Adnan menghembus menerpa daun telinganya yang baru saja di bisikan kalimat cinta
" Mas menemukan kamu yang telah lama terpendam!!"
Hilya masih mencerna ucapan Adnan...
" mas menemukan kamu yang telah lama terpendam, maksud nya apa??"
Tiba-tiba Hilya merasa tubuhnya telah melayang di udara, Adnan mengendong Hilya menuju ranjang, merebahkan tubuh Hilya dengan sangat hati-hati, seperti dirinya adalah barang yang mudah pecah hingga Adnan menaruhnya dengan penuh kelembutan
Belum mampu Hilya mencerna kata-kata Adnan yang penuh teka-teki tadi, kini Hilya kembali terkejut saat Adnan tiba-tiba menempelkan benda kenyal dan basah itu tepat di atas bibirnya
Awalnya hanya menempel lembut, tapi makin lama Hilya merasakan tekanan dan juga pergerakan bibir lawan nya
Namun hanya sepersekian detik ******* itu berhenti, Adnan mengelus lembut bibir Hilya dengan jempol tanganya dengan penuh kasih sayang
Menarik lembut tangan sang istri dan membawanya tepat di atas jantung nya
" Dorong jika adek keberatan dengan perilaku mas!!"
Adnan kembali menunduk, meneruskan aktivitas yang Ia tinggalkan sejenak, tangan Hilya masih menempel di dada Adnan, tapi tangan itu hanya sekedar menempel tidak sama sekali mendorongnya
Adnan tersenyum dalam ciumanya
Ciuman yang begitu mengesankan akhirnya benar-benar terjadi
Sesaat Hilya membalas cecapan sang suami Adnan segera melepas ciumannya dan memilih mendekap erat tubuh istrinya
" Adek bersiap, semakin lama kita disini akan semakin terlambat jam makan siangnya Sayang!!"
Kamar terasa begitu dingin tapi mendadak Hilya merasakan panas di kedua pipinya, sayang??" apa Adnan memanggilnya sayang lagi??"
Lagi-lagi Hilya gagal paham dengan perkataan ataupun perbuatan Adnan padanya
Adnan yang akan berdiri menyempatkan diri mengecup kedua mata Hilya dengan sayang dan kembali melabuhkan bibirnya sekilas di perut rata Hilya
Setelah nya Adnan berlalu keluar kamar dengan wajah yang begitu cerah
Hilya sendiri merasa prilaku adnan padanya adalah sebuah kode, apalagi saat Adnan barusan mencium perut nya, tapi jujur perilaku Adnan membuat Hilya sangat terkesan, Adnan berubah sangat romantis dan penuh kelembutan, entah kemana Adnan si pendiam dan pemalu itu sosok nya kini berubah 180% Dimata Hilya
Perut Hilya berbunyi, cacing diperutnya sudah mulai berdemo, Hilya segera bergegas menyapukan sedikit mek-up pada wajahnya dan segera memakai hijab dengan warna yang senada dengan bajunya
Saat Hilya selesai dan memindai bayangannya di cermin, tiba-tiba jemarinya mengelus permukaan bibirnya yang baru beberapa menit yang lalu dicium oleh Adnan, lagi-lagi tanpa di duga pipi Hilya memanas,rasa malu bercampur haru jadi satu