
Anton lemas mendengar penjelasan rekan nya dulu, sebagai seorang Dokter Anton jelas tau sedikit banyak tentang kondisi sang istri..
"Apapun resikonya, asal istriku selamat aku sudah bersyukur!!" ucap Anton akhirnya
" Masih ada harapan Ton, ini hanya hasil pemeriksaan kita belum bisa memastikan, kita tunggu sampai Hilya sadar, dan berharap ini hanya mimpi buruk."
Anton melangkah gontai menemui keluarganya
Mama Hilya, Umi langsung menanyakan perihal keadaan Hilya.
" A...!" tegur Dini
Anton menghapus air matanya yang kembali menetes
" Hilya harus melalui Opera besar, itu salah satu cara untuk menyelamatkan nyawanya, resikonya Hilya bisa saja kehilangan ingatannya, baik keseluruhan ataupun sebagian dan itupun tidak diketahui apakah sementara atau permanen." jelas Anton dengan nada pilu.
Mama Hilya menangis memeluk Umi Anton, begitupun Dini yang menangis di samping Risqi calon suaminya.
"Aku berterimakasih sekali kepada pria yang telah membawa istriku kemari, karena terlambat sedikit saja istri dan anak ku tidak akan tertolong. " ungkap Anton dengan menghalau air matanya
Meski sedih mendengar kenyataan yang harus dihadapi, tapi setidaknya Anton masih merasa lega sang istri dan anaknya bisa diselamatkan
___________
Rasa syukur Anton rasakan saat Dokter mengatakan putrinya terlahir dengan sehat dan selamat meski belum pada waktunya terlahir
Senyum Anton berbaur dengan air matanya, sedih dan bahagia, sedih belum bisa memastikan keadaan istrinya, bahagia karena ternyata Hilya benar-benar mengandung bayi perempuan, sepanjang kehamilanya, Hilya tak sekalipun ingin mengetahui jenis kelamin anaknya, dan kini doanya dikabulkan Allah mereka dikaruniai seorang putri.
____________
Dari arah lorong rumah'sakit' Zahfran berlari keruang administrasi yang kebetulan Anton pun sedang berada disana.
Anton sama terkejutnya saat melihat Zahfran, apalagi melihat apa yang Zahfran bawa, dari situ Anton tau siapa Hero yang membawa istrinya ke rumah sakit.
Menurunkan ego, Anton memeluk tubuh pria muda itu, entah mengapa Anton bersyukur sekali setidaknya sodara tirinya masih memiliki hati tidak seperti sang Ibu.
" Terimakasih" ucap Anton parau
Sedangkan Zahfran masih berdiri kaku menerima perlakuan Anton padanya, Zahfran yang awalnya mengira Anton akan menghajarnya justru dikejutkan dengan pelukan sodara tirinya itu , belum lagi ucapan terimakasih yang keluar dari bibir Anton.
" Terlambat sebentar saja istri dan anakku tidak dapat tertolong. tambah Anton
Zahfran bergeming, Benarkah keadaan Hilya separah itu?? Zahfran meremas amplop yang berada ditangannya dengan kuat, Ibu nya terlalu kejam pada orang yang telah mencuri hatinya, ya Zahfran telah jatuh hati kepada wanita yang bersetatus istri sodara tirinya itu.
Zahfran melerai pelukan Anton, dan menunjukkan ekspresi datar
" Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!!" ucap Zahfran mengelak pada Anton, dan berpura-pura tidak tau apa-apa.
" Jangan berbohong, aku tau kamulah yang telah membawa Hilya kesini!!"
Zahfran diam, apa yang tengah Ia usahakan sia-sia, Zahfran ingin pergi dari ruang administrasi namun Anton mencegahnya
" Tetaplah disini Zahfran, jika kau Sudi menunggu Hilya hingga melewati operasi nya."
Zahfran terkejut, belasan tahun dirinya menjadi sodara tiri Anton, untuk pertama kalinya dirinya mendengar Anton menyebut namanya.
" Aku ada urusan" jawab Zahfran dingin.
"Oh!!" balas Anton lemah.