
Hilya berjongkok di dekat kaki Adnan, satu yang ingin Hilya ketahui adalah tanda lahir Adnan yang terletak di dekat tumit mantan suaminya, Hilya lega saat melihat tanda lahir itu, setidaknya dirinya tak khawatir tentang apa yang terjadi, karena Hilya tau bagaimana tabiat mantan suaminya selama ini
Jujur bangun dalam keadaan tanpa hijab bukan hal yang baru Hilya rasakan, bukankah dulunya Hilya adalah wanita yang bebas?? bebas dalam hal bergaul dan penampilan maksudnya, bahkan sering kali Hilya berpakaian tapi seperti telanjang karena sangking ketat dan minimnya
Kehidupannya dulu semasa kuliah penuh dengan kesenangan, dirinya yang jauh dari orang tua, kurangnya perhatian dan minimnya ilmu agama membuat Hilya dulu begitu menyukai kehidupan bebas, memiliki teman dari berbagai negara, mengunjungi klub malam bukanlah hal yang baru semasa berkuliah di "Harvard university"
Hidupnya berubah dikarenakan Ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang ustadz yang tak lain adalah Adnan
Mengenal dan pernah mencintai Adnan begitu dalam tak pernah Hilya sesali, mungkin pernah dalam hidupnya menyalahkan Adnan yang terkesan PLIN plan, tak tegas dan egoisme..
Tapi itu dulu....
Dulu sebelum dirinya menikah dengan Pria bijaksana seperti Anton
Nyatanya kesalahan Adnan terdahulu, membawa takdir Hilya untuk mengenal sosok Anton yang pada akhirnya menjadi suami bahkan ayah putri nya
Jika saja kehidupan rumah tangga nya dahulu bersama Adnan berlangsung damai.. manalah mungkin Hilya dapat merasakan kehidupan yang begitu berwarna bersama Anton.
Allah sudah mengatur segalanya, Hilary telah menjelma menjadi Hilya
Pernah mencintai Adnan dan Anton bukanlah keinginan Hilya, melainkan takdir Allah untuk nya, dan kini kepergian Anton Hilya akan berusaha untuk mengikhlaskan , sekarang Anton tak harus merasakan kesakitan yang teramat sangat lagi, Hilya akan selalu berdo'a untuk Suaminya.
Adnan terbangun dengan mendesis tanganya terangkat naik untuk memijit pelipisnya, Adnan tak mengetahui Hilya telah sadar dan berada di bawahnya
" Mas!!" Hilya menegur lirih, tapi reaksi Adnan terlihat kaget luar biasa. terbukti Adnan langsung berdiri secara spontan
" Maaf!!" ucap Hilya merasa bersalah
"Hil? Astagfirullah!! aku kaget banget... Hil... Alhamdulillah kamu sudah sadar, maaf tadi kamu pingsan, dan saat aku ingin membawa mu pulang , di jalan menuju .............................................,..................................,...................................................
.........." Adnan menjelaskan semuanya pada Hilya, tidak ada yang terlewati, bahkan alasan dirinya yang harus memakaikan jubah mandinya untuk Hilya
Hilya menganguk dan terseyum lembut
Adnan tampak lega melihat Hilya yang justru berterima kasih, bukanya marah-marah seperti dugaannya
" Apa kita sudah bisa pulang?? mas aku udah lama ninggalin baby Khansa, untuk pulang kita yang telat papa sudah mengirim pesan tadi , sepertinya Papa pun mengetahui pohon-pohon yang tumbang di jalan menuju kompleks, tapi rasanya kurang pantas jika kita lebih lama disini."
Adnan menganguk setuju, "aku ambil kunci mobil ya...?"
Adnan bergegas memasuki kamarnya yang sempat di tempati Hilya tadi, mengenakan jam tanganya dan menyambar sebuah jaket kulit dan sebuah jas
Saat sampai di sofa dimana tadi dirinya mengobrol, Hilya sudah tidak ada, tapi sesaat Hilya sudah muncul dari arah kamar mandi
" Ini baju basah mas Aku bawa dulu ya...??" izin Hilya pada Adnan
" Tidak perlu Hil!!.. anu itu..... " Adnan gugup
" Gak Papa mas, itung-itung sebagai rasa terimakasih aku!!" ucap Hilya
Adnan tak bisa berbuat banyak selain mengizinkan Hilya membawa baju basah nya.
Saat berjalan beriringan tiba-tiba Adnan mengulurkan sebuah jaket untuk Hilya kenakan
" Pakailah Hil!!"
Hilya tertegun beberapa detik, ini tak pernah terjadi sebelumnya, seorang Adnan begitu perhatian padanya.
" Ngak usah mas' aku...."
Protes Hilya tak terselesaikan saat tiba-tiba Adnan sudah memakaikan jaket itu dari belakang pundaknya
Hilya kembali tertegun saat aroma parfum khas Adnan tercium dari sebuah jaket yang Adnan kenakan untuk nya